SARCOMA: BEHIND THE SCENE (DIBALIK PENCIPTAAN SUATU KARYA SASTRA)

Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,

Saya merasa saya harus menulis suatu “catatan” kecil ini agar para pembaca (mudah-mudahan) lebih memahami tentang bagaimana suatu karya sastra itu diciptakan. Hal ini dikarenakan banyak karya sastra yang telah dipublikasikan lalu disalah-interpretasikan oleh sebagian kalangan.

Nilai “dulce et utile” sebagai salah satu “pesan” pengarang ketika menulis karya sastra tersebut yang sebenarnya mulia, bahwa suatu karya sastra memberikan hiburan dan rasa senang sekaligus manfaat bagi para pembacanya, namun dibiaskan lalu mengakibatkan timbulnya tendensi dan prasangka tertentu. Meskipun hal ini juga merupakan “hak” pembaca untuk menanggapinya (Reader’s Response Theory)
Karya sastra merupakan hasil kreativitas pengaraan yang melibatkan unsur-unsur fiksionalitas (rekaan) sebagai salah satu unsur utama karya sastra. Unsur inilah yang membedakan karya sastra dengan teks lainnya. Namun terkadang karya sastra itu mengandung unsur realitas karena karya sastra dapat juga mengacu pada dunia nyata atau realita yang dimaksudkan untuk memberi informasi tentang apa yang terjadi di dunia nyata atau bagaimana keadaannya, seperti pada teks referensial. Karya sastra mencerminkan “kebebasan” pengarang berekspresi menurut persepsinya tentang dunia nyata atau dunia yang mungkin ada.
Karya sastra bersifat ekspresif. Hal ini berarti bahwa tujuan utama diciptakannya suatu karya sastra adalah untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, pengalaman, dan pendapat pengarang. Karya sastra juga bersifat persuasif (dalam bahasa Latin “persuadere”) karena penciptaannya bertujuan untuk mempengaruhi, meyakinkan, atau mendorong perilaku tertentu. Dalam hal ini, pengarang menggunakan teknik-teknik tertentu sehingga pembacanya terkesan, misalnya dengan ketegangan, keharuan, penghiburan, atau seperti “mengajari” pembaca.
Cerita pendek “Sarcoma” yang baru saja saya tulis berawal dari pertemuan saya dengan pasien kanker stadium lanjut di sebuah rumah sakit di Surabaya. Pasien tersebut adalah seorang perempuan separuh abad. Perempuan ini menginspirasi saya untuk menjadikannya sebagai tokoh Nadeera.Yang membuat saya terharu dan trenyuh adalah semangat kepasrahan kepada takdir Ilahi atas penyakit mematikan yang dideritanya itu. Tindakan-tindakan medis yang begitu “menyakitkan” seolah-olah “lagu pengantar tidur”nya. Namun penulisan cerita ini terhenti sejenak dikarenakan saya harus menjalani terapi medis untuk beberapa lama yang membuat saya tidak bisa bermain-main dengan laptop saya sebagaimana biasanya ketika saya mendapat ide untuk meciptakan suatu karya sastra.
Tentang romansa yang terjadi dalam cerita itu, saya terinspirasi dari perkuliahan “Stylistics” yang diampu oleh Prof. Abbas. Pada saat itu kami membicarakan tentang keindahan sebuah puisi yang dilagukan yang berjudul “Where does Love Go?”. Salah satu bait dari puisi yang cukup panjang itu berbunyi, “Love is like a flock of birds flying to different directions”. Lalu timbullah pikiran “nakal” saya tentang perjalanan sebuah cinta. Apalagi di dalam perkuliahan tersebut, ada seorang teman yang mengatakan bahwa menurut Jaya Suprana mengutip hasil penelitian, cinta itu akan kuat bertahan paling lama selama 7 tahun. Kami semua tertawa karena hal itu terdengar “lucu” di balik kekagetan saya mungkin juga teman-teman sekelas saya waktu itu.
Ide “nakal” ini menginspirasi saya untuk menulis tentang cinta yang tumbuh setelah suatu pernikahan yang sakral itu diikrarkan di hadapan Allah, Tuhan yang telah mempertemukan pasangan tersebut. Mungkinkah? Menurut persepsi saya, hal itu sangat mungkin terjadi. Banyak cerita tentang liku-liku suatu pernikahan telah saya dengar dan mungkin saya alami sendiri. Hal inilah yang mendorong saya menciptakan tokoh Archimedes, yang saya ambil dari seorang fisikawan. Saya ingat Hukum Archimedes yang sudah sangat kita kenal pada saat kita mempelajari fisika di sekolah. Mengapa demikian? Menurut saya, cinta itu ibarat sesuatu yang melayang-layang di dalam kehidupan kita. Cinta itu timbul dan tenggelam!
Tentang gambaran tokoh “malaikat” di dalam cerpen itu tercipta juga karena pikiran “nakal” saya, “Bagaimana jika pencitraan malaikat itu berbeda dengan apa yang selama ini dipersepsikan banyak orang. Mudah-mudahan Allah SWT mengampuni dosa saya kalau apa yang saya gambarkan di dalam cerpen ini tidak sesuai kenyataan.
Akhirnya, itulah bagaimana kronologi penulisan cerita pendek saya. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas masukan yang konstruktif dari teman-teman pembaca guna perbaikan cerpen-cerpen saya selanjutnya. Saya mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan dengan apa yang saya suguhkan dalam cerpen tersebut. Cerita itu murni FIKSI meski berlatar belakang realita yang saya hadapi. Mohon tidak disalah artikan. Mudah-mudahan “catatan” kecil saya bermanfaat bagi kita semua, terutama bagaimana kita menyikapi suatu karya sastra. Catatan ini sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman pembaca tentang bagaimana dan maksud saya menulis cerita itu. Sekian dan terima kasih atas perhatian semuanya.

Wa’alaikum salaam warahmatullaahi wabarakatuuh,

Dyra Hadi

Surabaya, 17 Januari 2010, 16:00 WIB

Explore posts in the same categories: Cerpen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: