SARCOMA

Tak biasanya cuaca dingin yang meremukkan tulang datang ditambah dengan angin kencang terjadi di bulan Januari. Tapi nyatanya begitu. Aku betulkan turtle-neck jumper-ku. Kutinggikan bagian lehernya agar angin yang menusuk itu tidak masuk ke dalam celah-celahnya. selanjutnya

Meski warnanya pudar, bahkan tulisannya hanya terlihat bekasnya, tapi masih berfungsi dengan baik. Gila, rupanya efek global warming yang selama ini aku lihat di film-film atau aku baca di media cetak benar-benar terjadi! Salah satunya adalah perubahan cuaca yang ekstrim!
Aku memandang keluar jendela untuk memastikan apa yng sebenarnya sedang terjadi. Ya, aku melihat daun-daun bagai ditiup kipas angin raksasa yang sudah usang. Aku bisa mendengar suara derunya. Aku lirik kalender yang menempel di dinding dekat jendela itu. Terlihat angka sebelas! Ini berarti sudah dua tahun aku hanya bisa berbaring di atas tempat tidur ini. Dan selama itu pula kanker di salah satu bagian alat reproduksiku telah mencengkeramku!
Beruntung aku masih bisa memainkan jari-jariku untuk mengekspresikan ide-ideku dengan notebook-ku seperti yang biasa aku lakukan ketika aku masih segar bugar. Bedanya, kalau dulu menulis cerpen bisa aku selesaikan dalam waktu satu-dua jam non-stop. Tapi sekarang, maksimal aku hanya bisa bertahan kurang dari setengah jam hanya untuk bisa duduk sambil bersandar pada tumbukan bantal-bantal. Selepas itu aku hanya bisa merebahkan tubuhku sambil memandangi langit-langit kamarku.
Tiba-tiba di luar jendela ada sosok bayangan berjubah putih dan berpenutup kepala kembali menampakkan diri. Kurang jelas siapa karena penutup kepala itu cukup untuk menutupi wajah orang itu. Dia seperti memandangiku, tapi tanpa ekspresi. Jelas bayangan itu bukan hantu, karena tidak satu pun bulu kudukku berdiri!
Inikah sosok malaikat yang siap mencabut nyawaku? Aku jadi ingat ekspresi wajah dokter onthologiku yang tiba-tiba berubah ketika membaca hasil terakhir laboratorium medis milikku. Namun beliau tetap tersenyum untuk tetap memberiku semangat untuk bertahan hidup, sambil mengingatkanku akan otobiografiku yang belum kuselesaikan.
Kupandangi jendela itu sekali lagi. Sosok itu masih bertahan di posisi ketika aku tadi melihatnya. Yang berubah, di luar jendela itu bukan taman, namun terowongan yang gelap!Aku juga melihat sesosok wanita muda berpakaian putih yang tengah tersenyum kepadaku. Senyumnya mengingatkanku pada sosok yang sepertinya amat kukenal. Dia masih tersenyum ketika aku pandangi untuk kesekian kali. Ya, senyum itu adalah milik nenekku yang telah meninggal dunia sepuluh tahun lalu. Dan kali ini dia melambai-lambaikan tangannya. Aneh, tiba-tiba tanganku tak bisa kugerakkan padahal aku ingin membalas lambaiannya karena aku tak mungkin lari dan memeluknya!
Inikah saat-saat terakhir kehidupan seseorang sebelum dia memasuki gerbang kematian? Aku melihatnya dengan jelas sekarang! Mungkin di saat-saat seperti inilah orang biasanya memberikan pesan terakhirnya sebelum meninggalkan dunia ini selamanya. Dan inilah saat yang paling tepat untuk membalas surat yang kugenggam sekarang ini. Surat yang dikirim oleh kekasih terakhirku saat kami mengakhiri semuanya lima tahun lalu!
Kubuka perlahan-lahan surat yang masih tersimpan rapi di dalam amplopnya lalu kubaca kembali surat yang kata-katanya masih terngiang-ngiang sampai detik ini. Yang paling aku ingat adalah paragraf terakhir yang dia tulis, “The sun rises and sets. The day comes and the night goes. The waves rise and fall. Our love is forever over all!”
Kalimat terakhir itulah yang menyemangati hari-hariku tanpa kehadirannya. Kalimat terakhir itulah yang membarakan bekunya di malam-malam sepiku. Kalimat terakhir itu pulalah yang telah memeras air mataku setiap kali aku mengingat masa-masa yang membahagiakan bersamanya walaupun aku juga selalu ingat akan kata-katanya,”Jangan kau tangisi setiap kebahagiaan yang kita nikmati atau perpisahan yang mengakhirinya. Semuanya ini sudah takdir-Nya!”
Takdir-Nyakah yang mempertemukan lalu mempertautkan kami pada tiang yang tak patut sehingga kami lalu memutuskan untuk melepaskannya?Aku tidak pernah memintaNya untuk bertemu dengannya ketika kami masing-masing masih terikat pernikahan yang sakral itu! Takdir-Nyakah yang membuatku harus menjalani pernikahan tanpa cinta sebelum bertemu dengannya? Takdir-Nyakah yang membuatnya menjalani pernikahan tanpa putra? Takdir-Nyakah yang membawanya bertemu dengan diriku yang tak kan mungkin memenuhi harapannya itu?Aku tak mengerti kenapa kami dipertautkanNya lalu dilepaskanNya? Takdir-Nyakah yang membuat kita berfikir untuk menafikan pasangan kita yang telah diberikan olehNya? Yang sangat aku fahami adalah aku tidak akan pernah mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu!
Kupejamkan mataku beberapa saat karena terasa panas setelah rasa pedih itu muncul untuk kesekian kalinya. Lebih pedih dari sakit yang disebabkan kanker yang sekarang bersarang di tubuhku dan hampir merenggut nyawaku. Tiba-tiba aku ingin bertemu dengannya. “Tidak, tidak! Tak mungkin dengan kondisiku yang seperti ini!” pikirku. Akibat chemotherapy yang tak terhitung lagi berapa kali aku telah menjalaninya, tentu saja aku tidak semenarik lagi seperti dulu.
Kupandangi diriku di cermin di atas meja riasku yang tak lagi ada benda-benda kosmetik yang bertengger di sana. Hanya beberapa buku dan majalah serta kliping hasil karyaku selama aku berbaring di dalam kamar ini. Tepatnya, setelah aku mendengar status medisku dari dokterku bahwa aku positif menderita kanker stadium akhir! Lalu aku rapikan scarf yang telah setia menutupi kepala plontosku dengan mengikat tali di belakang tengkukku. Tidak! Dia tidak boleh melihatku seperti ini. Biarlah dia akan mengingat sosokku seperti ketika dia masih bersamaku. Aku tidak mengharapkan belas kasihannya seperti ketika kami harus berpisah. Aku tidak menangis sedikit pun saat itu. Hatikulah yang pada waktu itu banyak berkata-kata. “Ya Allah, betapa aku sangat merindukannya saat ini!” keluhku. Aku biarkan satu butir air mataku menetes menelusuri pipiku yang kusam dan keriput.
Kemudian kuputuskan untuk menulis surat elektronik kepadanya. Ini adalah kali pertama kuputuskan untuk mengirimkannya kepadanya. Ada folder di file-ku yang aku beri nama “The Unsent Letters” yang isinya curahan perasaanku padanya. Tak seorang pun tahu kalau itu bukanlah cerpen fiksiku, tapi kisah nyataku! Dan mungkin juga, ini adalah sekaligus surat terakhirku padanya!
Kubuka dan kunyalakan notebook-ku. Kupilih juga lagu-lagu yang akan mengiringku. Mulailah aku menulisnya:

“My dearest Archie,
I’m sorry that I can’t help writing, though I do think it rather odd to write you first. I think you have to know that every letter I’m now saying is exactly the opposite from what I said when we last met. I am taking pains and bitterness that I feel saying it. This might be the last!

I love you indefinitely and I still and surely do. How much I love goodness, straightness, singleness of heart- you. I shall say I enjoyed every second of the wonderful moments that we shared together in our blindness. Yet it’s worth enjoying and it has made our life worth having! But now I feel that my life is at its end, that my soul will come home to the place where it first belongs after it has wandered thousands of miles. I remember Earnest Dowson’s poem:
Now I will take me to a place of peace,
Forget my heart’s desire-
In solitude and prayer work out my soul’s release…

We shall be friends still. Yes, to be friends is the only right and possible way. It’s the wisest to be at all times. And that’s what we both have been though it’s been almost unbearable and dreadful with our secret tenderness of soul as we want more! Sometimes it’s very tiresome and I find myself no longer able to bear the silence.. Yet it was a pretty thing in its beginnings, a sweet and darling thing. And there shall be no pain in the end.

However, soon it will all be bound to end in smoke and nothingness. All is to finish that which has never been begun! All would be bound in a memory forever unlike any other. I shall then be as silent as the grave. My heart stands still at the thought of when next we meet. I shall then go to sleep, and sleep and sleep for years and forget that I have ever hoped for anything. Finally, farewell my dearest! God bless you a thousand times.

Yours,

Nadeera

Lega dan puas rasanya. Ku kirim e-mail ini kepadanya. Tiba-tiba badanku terasa ringan seperti kapas. Perlahan-lahan aku mulai merasakan seperti terbang melayang. Aku lihat ke bawah badanku mulai naik. Tiba-tiba sosok berjubah putih itu datang dan memegang lenganku seperti menuntunku terbang menuju gerbang itu. Dia tidak punya sayap seperti yang sering digambarkan orang. Nampaknya dia tidak perlu sayap untuk terbang. Sosok nenekku menyambutku masih dengan senyuman dan tanpa kata-kata lalu menuntunku dan memegang lenganku lainnya.
Ada suara lonceng bergemerincing. Seperti ada yang menyuruhku untuk mengucap doa. Yang aku ingat adalah doa yang selalu diucapkan anak bungsuku sebelum tidur. Aku selalu menungguinya sampai dia selesai membacanya, mengecup keningnya dan mematikan lampu di samping tempat tidurnya. Pelan-pelan aku melafalkan doa itu,”Ya Allah, dengan namaMu aku hidup dan dengan namaMu aku mati, amin!”
Masih kudengar sayup-sayup lagu “Sarcoma” milik Rafika Duri dari notebook-ku, “…Kucoba sadari,insyafi, kenyataan di dalam diri. Mandiri dalam suasana pilu yang mencekam menghimpitku. Kucoba berdoa, bertaqwa dan pasrah pada Ilahi. Menangguhkan segala siksa dan masa-masa penantianku dan kini tiba mengakhiri semuanya ini…menutup masa duniawi, berakhir semua penderitaan ini…”
Sementara itu, aku melihat tubuhku yang lain ambruk dan jatuh dari tempat tidur. Kepalaku terlihat membentur lampu di sisi tempat tidur itu dan menimbulkan suara gaduh. Ibuku dan anakku berlarian masuk dan memeluk tubuhku. Mereka membisikkan ke telingaku nama Allah berulang-ulang.Tak ada suara jerit tangis. Aku telah meminta kepada mereka berdua untuk tidak menangisi kepergianku seandainya waktuku tiba untuk meninggalkan dunia fana ini. Aku telah pasrah dan tawakkal kepada-Nya bahkan jauh sebelum penyakit kanker itu mulai menyebarkan jalanya di dalam tubuhku dan sebelum aku bertemu dengannya.
Tubuhku yang melayang mulai menembus atap kamar itu dan aneh aku tak merasa sakit sedikit pun. Aku sempat melihat notebook-ku masih menyala. Mudah-mudahan nanti anakku melihatnya dan menemukan e-mail yang baru terkirim itu. Biarlah dia akhirnya mengetahui bahwa ada sosok lain yang hadir dalam kehidupan ibunya selain ayahnya yang kini hidup bersama wanita lain setelah orang tuanya bercerai. Dan syukurlah, dia mengetahui kenyataan itu langsung dariku melalui e-mail itu. Itu bagian dari kehidupan yang harus dia pelajari. Kehidupan di dunia tak ada yang sempurna! Kesempurnaan itu hanya Milik-Nya!

R.S. Husada Utama
Surabaya, 11 Januari 2010, 12.35 WIB.

Explore posts in the same categories: Cerpen

One Comment on “SARCOMA”

  1. Puput Says:

    Mam, why don’t you update your blog again? hehehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: