Balada Ayam Goreng II

Masih Yang Terbaik

(Balada Ayam Goreng Bag.2)

By Dyra Hadi

La Cafe di ujung Bournemouth Shopping Centre masih nampak seperti dulu ketika dia terakhir mengunjunginya tiga belas tahun lalu. Cat dinding dan kordennya masih putih. Rupanya inilah salah satu ciri khas kafe itu. Ketika matahari bersinar cerah saat musim panas, kafe itu tampak cerah, kontras dengan langit biru yang sangat biru dan tanpa awan. Kafe itu pasti akan terlihat sedikit menjulang menyerupai seonggok awan. Siapa saja yang melewati pusat perbelanjaan itu pasti dengan mudah akan mengenalinya.

Dan itulah yang kini dia rasakan. Meski masih beberapa puluh meter lagi dia harus berjalan, kafe itu nampak sangat menonjol. “Ah, aku lupa bawa payung atau jas hujan!” keluhnya. Kebiasaan buruk ini masih saja dia lakukan karena dia pikir cuaca saat ini cerah sekali untuk ukuran musim panas di sana. Dia lalu ingat kata-kata hostmother-nya,”Namun jangan tertipu dengan cerahnya cuaca seperti itu, bisa saja tiba-tiba mendung dan diikuti hujan beberapa saat!”

Tak heran jika orang-orang Inggris sangat gemar membicarakan tentang cuaca yang gampang berubah di negara mereka ini sebagai topik awal pembicaraan. Dan juga itulah sebabnya program acara ramalan cuaca, baik di media cetak maupun elektronik, selalu diikuti mereka dengan antusias terlebih jika mereka akan keluar rumah.

Perempuan itu ingat ketika untuk pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di Heathrow Int’l Airport dia menggigil kedinginan, siapa sangka suhu di musim panas itu bisa mencapai 11°C pada bulan Juli itu. Dia hanya mengenakan t-shirt katun dan jeans kesayangannya yang ditutupi dengan sweater tipis. Dia mengira bahwa suhu musim panas di Inggris kurang lebih sama dengan suhu di musim kemarau di negara asalnya yang tropis itu. Lalu dia bergegas mencari taksi. Di berharap heater di dalam taksinya bekerja dengan baik sehingga bisa sedikit menghangatkan dirinya…

Lamunannya berhenti saat kakinya menginjakkan taman yang letaknya di tengah-tengah pusat perbelanjaan yang sekelilingnya terdapat bangku-bangku kayu. Burung-burung merpati sering hinggap di sana. Para lansia senang memberi makan mereka sambil berjemur ketika cuaca cerah. Perempuan itu berhenti sejenak melihat pemandangan itu. Dia lalu membayangkan apakah ketika dia lanjut usia, dia bisa seperti itu.

Salah satu lansia itu lalu melambaikan tangannya mengajak perempuan itu bergabung dengan mereka. Perempuan itu melihat sekilas arloji di pergelangan tangan kirinya. Waktu menunjukkan 9:20. Hal ini berarti tak ada waktu baginya utuk ikut mereka memberi makan burung-burung itu karena 10 menit lagi dia harus menemui seseorang di kafe itu. Lalu dia menggelengkan kepalanya dan melambaikan tangan tanda perpisahan sambil mengumbar senyum sebagai ucapan terima kasih atas tawaran yang diberikan.

Perempuan itu lalu mempercepat langkahnya untuk sampai ke kafe itu. Tak banyak pengunjung ternyata. Dia melihat-lihat apakah sosok bayangan yang dicarinya sudah ada. Hatinya mulai berdebar-debar. Getaran-getaran yang dulu itu ternyata masih dia rasakan. Bayangan yang dicarinya sudah duduk di sana. Dia menarik nafas panjang, orang itu sedang menunggunya sambil membaca koran. Perempuan itu lalu cepat-cepat menghampiri lelaki yang sudah sepuluh tahun tidak ditemuinya semenjak peristiwa di taman di depan restoran ayam goreng itu.

“Assalamu ‘alaikum” sapa perempuan itu pelan dan terdengar sedikit gugup.

“Wa’alaikum salam. ” jawab lelaki itu lalu melipat korannya setelah tahu siapa yang menegurnya. Dengan isyarat tangannya, lelaki itu menyilahkan perempuan itu duduk, “Mau pesan apa?”.

Coffee latte dan Fish and Chips” kata perempuan itu sambi melirik cangkir yang ada di hadapannya yang isinya tinggal setengahnya. Rupanya lelaki itu telah lama menunggunya. Ada laptop kecil di samping cangkir itu sedang menyala.

Lelaki itu lalu memanggil pelayan kafe itu dan memesan apa yang telah di pesan perempuan itu. Setelah itu me-shut down laptop-nya dan menutupnya lalu berkata, “Kita bicara.”

Rupanya laki-laki itu tidak ingin berbasa-basi. Budaya Barat yang tidak suka basa-basi ini telah mempengaruhinya. Disamping itu, apa yang pernah mereka obrolkan di Facebook sepertinya sirna. Mereka nampak “akrab” di dalam jejaring sosial itu, tapi seperti dua orang asing yang baru saja bertemu. Perempuan itu semakin nervous. Rasanya ia ingin lari dari lelaki itu seperti yang dilakukannya dulu ketika dia menyadari bahwa dia hanya kekasih gelap laki-laki itu, seperti yang diucapkan laki-laki itu kepada pemilik restoran ayam goreng ketika wartawan dipanggil untuk mempublikasikan kejujurannya mengembalikan uang sepuluh juta yang secara tidak sengaja dimasukkan ke dalam bungkusan ayam goreng yang dipesannya. Dan perempuan itu lalu menyadari betapa laki-laki itu tidak pantas ada di dalam kehidupannya. Lelaki itu juga hanyalah kekasih gelapnya.

Niat itu diurungkannya. Perempuan itu mencoba menikmati debaran-debaran itu. Bukankah debaran-debaran itu yang dia rasakan ketika mereka bertemu di dalam jejaring sosial itu, bahkan setelahnya dia masih merasakannya. Perempuan itu menunggu lelaki itu berkata-kata lagi karena dia tidak tahu apa yang mesti dikatakannya.

Pertemuan ini juga sebenarnya tanpa rencana. Sebagai seorang konselor di British Council, Jakarta, dia mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Inggris untuk ketiga kalinya. Kebetulan ada waktu untuk berwisata ke rumah salah seorang sastrawan besar Inggris, Thomas Hardy, di Dorset, tak jauh dari Bournemouth. Kebetulan lelaki itu akan mengunjungi kakaknya di Wimborne, tak jauh dari situ. Dia memang sudah satu tahun kuliah S3 di University of Manchester, mendapat beasiswa dari The British Chievening Awards. Dipilihnya Bournemouth karena dekat Pool yang memiliki pantai yang indah dan menenangkan dengan angsa-angsa yang berenang-renang di sana. Pantai adalah tempat favorit mereka berdua. Lewat Facebook juga mereka akhirnya berjanji untuk bertemu.

Diteguknya kopi yang masih panas. Lumayan untuk mengusir dingin yang menusuk-nusuk. Perempuan itu akhirnya bersuara, “Apa yang mau dibicarakan?”

“Tentang kita” jawab laki-laki itu.

“Semua sudah berakhir, tak ada yang tersisa. Maafkan aku, aku harus meninggalkanmu begitu saja. Aku sadar, itu yang terbaik.” kata perempuan itu dengan lugas.

“Aku tahu. Mungkinkah kita bisa bersama kembali?” harap laki-laki itu.

“Tidak, tak mungkin!” bantah perempuan itu.

“Mengapa? Kamu kembali ke suamimu?” balas laki-laki itu.

“Ya. Demi yang terbaik untuk anakku.”

“Meski itu status palsu!”

“Aku berusaha untuk tidak menjadikannya begitu.”

“Salut buat kamu.”

“Kamu sendiri gimana?”

“Kami bercerai. Setelah kamu pergi, aku baru tahu kalau istriku telah hamil. Aku berusaha melekatkan kembali pernikahan kami yang retak sampai dia melahirkan anak perempuan kami. Kami berpikir dengan hadirnya anak yang telah kami tunggu selama bertahun-tahun itu dapat menyatukan kami kembali. Ternyata tidak demikian.”

“Di mana mereka sekarang?”

“Tetap tinggal di Jakarta bersama mertuaku. Setelah kami bercerai, hak asuh anakku jatuh ke ibunya. Sesekali aku mengunjunginya. Hubungan kami baik-baik saja.”

“Mengapa itu tidak kamu pertahankan?”

“Aku tidak seperti kamu. Aku memang bisa membohongi istriku dengan berpura-pura mencintainya, tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Itu hal tersulit bagiku. Aku tidak suka kemunafikan.”

“Berusaha mencintai itu bukan suatu kemunafikan, meski kita tidak tahu sampai kapan. Dan aku tidak mungkin mengulang perceraian yang dialami orang tuaku kepada anakku. Aku tahu bagaimana rasanya tumbuh dalam keluarga yang broken home. Mempertahankannya apa pun resikonya adalah masih yang terbaik.”

“Bagiku, ketidaksempurnaan atau ketidakutuhan itu adalah bagian kehidupan yang kita jalani. Aku harap suatu hari anakku tahu itu. Kehidupan tidak harus selalu yang sempurna dan utuh. “

“Dalam hal ini memang kita tidak pernah sepaham.”

“OK, kalau begitu. Semua sudah jelas sekarang. Terima kasih kamu masih mau menemuiku. “

“Maafkan aku.”

“Tak ada yang perlu dimaafkan. Aku sangat memahaminya. Maafkan aku yang telah berharap akan kebersamaan kita lagi.”

“Berharap itu bukan suatu kesalahan. Meski kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan.”

“Kamu mau pesan kopi lagi atau tambah snack-nya.”

Thanks, but no thanks. Maaf aku harus pergi. Aku ada janji makan siang dengan seseorang di Burger King. “

” Jadi kita tidak ke Pool sekarang?”

“Mungkin lain waktu.”

“Aku di sini aja kalau begitu. Kapan kembali ke Jakarta?”

“Besok lusa. “

“Kalau sampai di rumah, salam buat suamimu ya.”

“OK. Good luck!”

Perempuan itu lalu bergegas meninggalkan kafe putih itu. Langkahnya terasa ringan sekarang. Beban masa lalu kini sirna sudah. Kini dia lepas dari belenggu yang selama ini menggayutinya. Dipercepatnya langkahnya ke halte bus yang jaraknya seratus meter lagi. Dilihatnya arlojinya, sudah hampir jam 11. Dia harus sampai di halte itu 10 menit lagi karena shuttle bus bernomor 34 yang akan membawanya ke restoran cepat saji yang salah satu menunya adalah ayam goreng dengan saus barbeque kesukaanya. Lelaki yang baru saja ditemuinya itu tidak tahu kalau dia akan menemui teman lamanya yang pernah menjalin kisah romantis di masa SMA-nya. Mereka bertemu lewat Facebook juga dan lagi-lagi secara kebetulan laki-laki itu juga mengunjungi Inggris untuk mengikuti Summer Course di Oxford bahkan mereka akan pulang ke Indonesia dengan flight yang sama meski seat -nya berbeda…

Sementara itu, laki-laki itu masih duduk di kafe itu. Dia juga menunggu seorang wanita yang telah menjadi teman dekatnya selama dia kuliah di sana. Wanita itu berkebangsaan Malaysia. Setahun lalu, ketika lelaki itu berangkat ke sana, dia bertemu dengan wanita itu. Mereka duduk bersebelahan setelah pesawatnya transit di Kuala Lumpur dan melanjutkan penerbangannya ke London. Perkenalan itu lalu berajut menjadi sebuah hubungan yang sangat akrab. Meski mereka kuliah di college yang berbeda dan di kota yang berbeda pula, tiap hari mereka bertemu via Facebook. Sambil menanti wanita itu, dikeluarkannya MP3 playernya lalu didengarkannya melalui ear-phone di kedua telinganya, lagu Jatuh Cinta Lagi-nya Matta…

(To be continued)

Explore posts in the same categories: Cerpen

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

One Comment on “Balada Ayam Goreng II”

  1. Ungu cLiquers Says:

    CriTax aSyik,, Mgena d Hti,,kTika Bca crpen Ni Menginspirasi Sya buat nLis Crpen,, sy tggu klanjutann Critax, ,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: