Balada Ayam Goreng I

Yang Benar, Yang Terbaik

(Balada Ayam Goreng)

by Dyra Hadi

(Lanjutan “Baik Belum Tentu Benar” by Indra Perdana, a great FB friend & classmate)

Lelaki itu lalu bergegas ke taman menemui perempuan itu dengan membawa bungkusan ayam goreng pemberian si pemilik restoran itu, tanpa memperdulikan pemilik itu terheran-heran dengan perkataannya bahwa perempuan yang bersamanya itu adalah kekasih gelapnya dan meninggalkan istrinya di rumahnya, tanpa mengetahui keberadaan suaminya dengan perempuan lain.

“Bagaimana mungkin lelaki itu baru saja mengembalikan uang penjualannya hari itu sebesar sepuluh juta yang secara tak sengaja dimasukkannya ke dalam bungkusan ayam goreng yang dipesan lelaki itu. Lelaki itu lalu mengembalikan uang tersebut tanpa berpikir panjang, seolah-olah uang di dalam bungkusannya itu hanya sebesar seribu perak! Ternyata dunia yang sekarang penuh dengan kebohongan, kepalsuan, kemunafikan dan gang-nya masih menyimpan orang-orang yang masih menjunjung tinggi kejujuran…” gumam pemilik restoran itu dengan matanya yang masih memelototi sosok lelaki itu hingga hilang ditelan rimbunan semak-semak di taman seberang restorannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sementara itu di sudut taman seberang jalan … Perempuan itu agak heran mengapa kekasihnya lama sekali. “Katanya resto cepat saji, masak ayam goreng beberapa potong saja perlu waktu hampir setengah jam!” gerutunya. Padahal dia tidak melihat antrian panjang para pelanggan seperti biasanya pada jam makan malam saat ini. Mungkin karena pengeboman di dua hotel ternama di Mega Kuningan seminggu yang lalu sehingga banyak orang yang memilih tetap di rumah dan menikmati dua bungkus mie instan sambil menonton TV daripada terkena resiko yang mengerikan akibat peledakan seperti itu.

Belum sempat ia melanjutkan keluhannya itu, kekasihnya tiba-tiba muncul bersamaan dengan aroma khas menu favoritnya. “Kenapa lama, Mas?” tanyanya sambil menerima bungkusan itu.

Sambil menyeka keringat yang membasahi kedua ujung luar pipinya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dengan sapu tangan yang selalu disiapkan istrinya kapan saja dia ke luar rumah (Malam hari ini, sama seperti siang tadi, panas sekali padahal beberapa saat lalu matahari terbenam bersama harapan-harapan manusia akan esok hari yang lebih baik.), menjawab dengan polosnya, “Pemilik resto itu ngotot ingin mempublikasikan kejujuranku mengembalikan uangnya tanpa minta imbalan apa-apa. Apa kata orang jika mereka mengetahui kebersamaan kita ini? Kubilang saja terus terang aku hanya minta ayam goreng yang telah aku pesan dan aku bilang kamu adalah kekasih gelapku…”

Entahlah tiba-tiba ucapan yang tanpa beban dari kekasihnya itu bagai gempa bumi dengan lebih dari 9 SR mengguncang-guncangkan dirinya lalu gelombang tsunami yang pernah melanda Aceh tahun 2004 silam menimpa dirinya.

“KEKASIH GELAP???”teriaknya dalam hati, “Ya, aku memang kekasih gelap, hanya kekasih gelap. Suatu sebutan yang paling aku benci. Bagaimana tidak, hidupku menderita gara-gara tiba-tiba ayahku pergi begitu saja dengan kekasih gelapnya meninggalkan ibuku dan aku yang masih bayi kala itu….!! Sampai saat inipun ketika aku berkeluarga dan punya satu anak laki-laki, rasa sakit hatiku ini belum terenyahkan!!”

Dan tiba-tiba juga aroma menu yang masih panas itu serta asap yang muncul di sela-sela ayam goreng di hadapannya itu membentuk sosok bayangan mungil yang sangat dicintainya dengan kepolosan dan keluguannya. Tiba-tiba pula dia ingin memeluk dan menciuminya.

“Ya Tuhan, maafkan diri hamba.” pintanya memelas, “Nak, maafkan ibumu!”. Lalu tiba-tiba dia berlari tanpa sepatah kata pun meninggalkan kekasihnya, meninggalkan segala impian bersamanya. Dia panggil taksi yang kebetulan lewat di hadapannya dan menghilang di tengah remang-remang lampu jalan. Kekasihnya berlari mengejarnya sambil meneriakkan namanya, tanpa memperdulikan tatapan aneh orang-orang di sekitar mereka, tanpa memperdulikan sayup-sayup lagu “Cinta Terlarang” dari The Virgins yang mengalun dari restauran itu yang tiba-tiba saja ingin diputar oleh pemilik resto itu untuk para pelanggannya.

Sopir taksi itu langsung tancap gas. Dia tidak bertanya ke mana tujuan penumpangnya itu. Sudah berkali-kali dia menerima penumpang seperti itu. Kebanyakan mereka tidak ingin segera pulang bahkan ingin segera menjauh dari rumah mereka, hal yang mereka inginkan adalah menenangkan diri. Biasanya yang dilakukan sopir itu adalah diam dan membawa penumpangnya ke pinggiran kota yang lebih tenang suasananya dan hal seperti ini adalah hari keberuntungan bagi dirinya karena berarti setorannya akan lebih besar dari hari-hari biasanya. Dan biasanya penumpang seperti itu akan memberinya ongkos yang lebih karena tidak akan peduli dengan uang kembaliannya. Dia lalu tersenyum membayangkan dirinya membawa beberapa bungkus ayam goreng dari restoran di mana perempuan itu memanggil taksinya. Lalu bungkusan itu dia bawa pulang untuk istri dan anak-anaknya di rumah.

Sementara itu di dalam taksi…, perempuan itu menerawang jauh lewat jendela taksi itu. Tak ada air mata yang keluar meski raut wajahnya mencerminkan kegalauan dan kesedihan yang amat dalam. Ya, airmatanya telah terkuras habis untuk menangisi pernikahan tanpa cinta yang selama ini telah dijalaninya. Lalu dia bertemu dengan lelaki yang kemudian menjadi kekasih gelapnya yang telah membuatnya merasakan getar-getar seperti ketika dia jatuh cinta untuk pertama kalinya, perasaan yang dikiranya telah lenyap selamanya dalam dirinya. Lelaki itu juga yang memberikan semangat buat dirinya untuk menjalani kehidupan berkeluarganya dan karirnya dan hal inilah kenapa pernikahannya yang telah dilakoninya selama 15 tahun itu bisa masih bertahan karena bersamanya dia tidak memperdulikan masalah keluarga yang sedang menimpanya.

“Ya, aku harus dan harus segera mengakhiri semuanya ini. Aku juga tak ingin apa yang telah menimpaku di masa kecilku terjadi pada anak laki-laki semata wayangku. Ya Allah, kemana diri Engkau selama ini? Atau aku sudah buta bahwa Engkau ada di dekatku? Masihkah Engkau mau mengampuni dosa-dosaku?” katanya dalam hati dan pada detik itu, satu butir air matanya akhirnya jatuh.

“Sayang, maafkan aku. Aku telah merasakan kebermaknaan dan telah memaknai kehadiranmu dalam hidupku. Dan itu indah. Namun semuanya harus terhenti pada kenyataan bahwa kita tidak akan dapat bersama selamanya karena Allah telah menciptakan pasangan-pasangan, lalu dari mereka lahirlah keturunan mereka atas kuasa-Nya dan mereka harus tetap selalu menjaganya sampai Allah memanggil salah satu atau keduanya ke pangkuan-Nya. Tak ada seorang pun dan apa pun mampu melawan apa yang telah menjadi kehendak-Nya. Meskipun kebenaran ini terkadang amat menyakitkan karena kebersamaan ini tidaklah benar. Dan apa saja yang ditulis oleh-Nya, itulah yang terbaik! Sayang, maafkan aku dan mari kita lupakan.”

(Surabaya, 27 July 2009, 3:36 p.m.)

Explore posts in the same categories: Cerpen

Tags: , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

2 Comments on “Balada Ayam Goreng I”

  1. dus0ne Says:

    s a l a m,

    asyik, enak dibaca

  2. dyah rochmawati Says:

    apa nggak enak dimakan ??


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: