Kekhasan Evi Idawati Dalam Cerpen “PERNIKAHAN MALIKHA’

I. PENDAHULUAN

Dunia sastra telah menjadi bagian dari kehidupan Evi Idawati, seorang penyair dan cerpenis. Cerpen dan puisinya banyak dimuat di berbagai media cetak. Di samping itu, ia juga dikenal sebagai artis sinetron dan teater.

Di dalam Kata Pengantar kumpulan cerpennya yang berjudul ‘Malam Perkawinan’ (2005), ia mengatakan bahwa cerpen, puisi, dan panggung telah menjadi bagian diri yang tidak bisa hilang. Mereka tumbuh bersama dirinya, dengan segenap permasalahannya. Menurutnya, menyentuh dan menyapa komputer dengan jari-jarinya, sungguh merupakan kenikmatan yang tiada tara. Ide, gagasan, pikiran, dan semangatnya dituangkan dalam karya-karyanya. Karya-karyanya ini merupakan hasil ciptaan dan kreasi setelah melalui suatu proses yang kreatif dan imajinatif serta memiliki ciri-ciri khas yang membedakan dirinya dengan pengarang-pengarang lainnya, seperti dalam salah satu cerpennya yang bertajuk ‘Pernikahan Malikha’ yang terdapat dalam kumpulan cerpen yang diberi judul ‘Cerita-cerita Pengantin’ dengan takdim, Mustofa Bisri (2004).

Cerpen “Pernikahan Malikha” bukanlah cerpen satu-satunya karya Evi Idawati. Kumpulan cerpennya yang bertajuk “Malam Perkawinan” adalah kumpulan cerpennya yang kedua. Kumpulan ini terdiri atas tujuh belas cerpen, yaitu: (1) Nujum Perempuan Gunung, (2) Lagu Rindu untuk Ibu, (3) Tambak, (4) Melati untuk Sri, (5) Perapen, (6) Hari Pernikahan, (7) Penjaga Takdir, (8) Malam Perkawinan, (9) Lelaki Penunggu Waktu, (10) Zikir Langit, (11) Bintang di Mata Ania, (12) Perempuan Penjual Udang, (13) Perempuan yang Memandang Rembulan, (14) Badai, (15) Perempuan Keseratus, (16) Semboja, (17) Perempuan Panggung.

Makalah ini bertujuan untuk membahas permasalahan sebagai berikut:

A.    Ciri-ciri khas apa yang dimiliki Evi Idawati dalam cerpennya ‘Pernikahan Malikha’ yang membedakan dirinya dengan pengarang-pengarang lainnya dalam hal:

1.      penokohan

2.      latar

3.      alur

4.      pilihan kata dan gaya bahasa

5.      tema

B.   Apakah ciri-ciri tersebut juga tercermin dalam cerpen-cerpen lainnya seperti dalam kumpulan cerpennya ‘Malam Perkawinan’?

C.  Apa yang membuat Evi Idawati menjadi Evi Idawati?

II. KERANGKA KONSEPTUAL KEKHASAN PENGARANG

Untuk menganalisis karya sastra secara optimal diperlukan suatu kerangka berpikir atau konseptual dari teori-teori sastra yang ada. Teori sastra ini terdiri atas seperangkat konsep yang saling berkaitan secara ilmiah dan sistematis yang berfungsi untuk menjelaska gejala sastra. Teori-teori tersebut digunakan dan dimanfaatkan serta dioperasikan untuk memberikan hasil analisis karya sastra yang maksimal (Ratna, 2006: 6-9). Berikut ini adalah seperangkat konsep-konsep yang dijadikan landasan berfikir penulis untuk menganalisis kekhasan pengarang.

Menurut Wellek dan Warren (1995: 3) sastra adalah suatu kegiatan yang kreatif. Karya sastra merupakan hasil ciptaan dan kreasi pengarang (Luxemburg, dkk., 1989: 5). Karya sastra tersebut boleh dibaca, dinikmati, dan diapresiasi. Karya sastra yang ditelaah dan diapresiasi adalah yang memiliki ‘kekhasan sastra’ dan sistematis’ (Wellen dan Warren, 1995: 4).

Wellek dan Werren menjelaskan lebih lanjut bahwa kita bisa menelaah karya sastra siapa saja, tidak hanya Shakespeare. Yang ingin kita ketahui sebenarnya adalah kekhasan Shakespeare dan apa yang membuat Shakespeare menjadi Shakespeare, bukan untuk mengetahui persamaannya dengan orang-orang Inggris, atau dengan semua penyair dan dramawan lainnya. Hal ini jelas merupakan masalah individualitas dan nilai. Seorang ilmuwan sastra pasti akan mencari kekhususan, ciri-ciri khas, dan kualitas tertentu yang membedakannya dengan periode, aliran, atau kesusastraan lainnya (hlm. 7).

Namun demikian, pada dasarnya setiap karya sastra bersifat umum sekaligus bersifat khusus, atau bersifat individual sekaligus bersifat umum. Artinya, setiap karya sastra mempunyai ciri-ciri khas, tetapi juga sifat-sifat yang sama dengan karya seni yang lain (hlm. 9). Sedangkan upaya menguraikan ciri-ciri khas karya sastra dapat menjadi alat bantu untuk mendukung pemahaman terhadap karya sastra. Pemahaman ini diperoleh melalui “membaca’ secara kritis dan teliti (hlm. 10).

Studi sastra meliputi kajian intrinsik dan kajian ekstrinsik. Kajian intrinsik membatasi diri pada karya sastra itu sendiri, tanpa menghubungkan karya sastra dengan dunia di luar karya sastra tersebut. Kajian ini meliputi penokohan, konflik, nada (tone), latar (setting), tema, dan sebagainya. Sedangkan kajian ekstrinsik mengaitkan karya sastra dengan dunia di luar karya sastra tersebut. Kajian ini mencakup biografi pengarang, aspirasi masyarakat, sejarah, dan sebagainya (Darma, 2004: 22-23). Dan tinjauan kekhasan seorang pengarang meliputi hal yang dikemukakan pengarang (tema), karakterisasi pelaku atau tokoh, peristiwa-peristiwa, dan ciptaanya yang meliputi pilihan kata dan gaya bahasa (Pradopo, 2007: 254).

Kerangka berfikir inilah yang menjadi landasan teori penulis dalam menemukan ciri-ciri khas Evi Idawati dalam cerpen-cerpennya. Hasil temuan ini diharapkan dapat membantu kita dalam memahami karya-karya lainnya.

III. KEKHASAN EVI IDAWATI DALAM CERPEN-CERPENNYA

Cerpen “Pernikahan Malikha’ karya Evi Idawati ini dikaji untuk melihat ciri-ciri khas pengarangnya yang membedakannya dengan pengarang lainnya. Tinjauan ini meliputi: (a) penokohan, (b) latar atau setting, (c) alur atau plot, (d) pilihan kata dan gaya bahasa, dan (5) tema. Berikut ini adalah hasil telaah ciri-ciri khas Evi Idawati dalam hal:

A. Penokohan

Tokoh utama dalam cerpen ini adalah perempuan, yaitu Malikha, anak perempuan berusia dua belas tahun. Di usianya yang masih sangat muda ia harus menikah dengan Hamdan yang juga masih sangat muda untuk membina rumah tangga, yaitu tujuh belas tahun. Karena dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan yang sangat religius, ia menerima dengan ikhlas dan tanpa ragu-ragu keputusan bapaknya untuk menikah dengan anak teman bapaknya itu, sebagaimana kutipan berikut ini:

“Malikha, Bapak, dan Emak sudah menerima Hamdan untuk meminangmu menjadi istrinya. Semua teman seusiamu sudah menikah. Tinggal kamu saja yang belum. Karena Emak ingin, kamu menyelesaikan sekolah di madrasah lebih dulu. Sekarang kamu sudah lulus. Kami sudah menentukan tanggal pernikahan. Bapak ingin, kamu menjadi anak yang solekhah, berbakti pada orang tua dan selalu menjaga nama baik Bapak dan Emak.”

“Inggih, Pak,” jawab Malikha (hlm. 130)

Dari uraian di atas, pengarang menonjolkan perempuan sebagai tokoh utama.  Sikap dan perilaku tokoh tersebut mencerminkan perempuan yang nampak lugu, polos, nrimo, tanpa reserve. Namun demikian, cerpen ini menggambarkan konflik psikologis tokoh tersebut, seperti kecemasan atau kekhawatirannya ketika dihadapkan pada masalah akibat ke-nrimo-annya tersebut, meskipun belum dapat dikategorikan sebagai “pemberontakan” tokoh tersebut  atas adat penduduk desa tersebut yang selalu menikahkan anak-anak mereka yang masih sangat belia dan dengan pilihan orang tua mereka, sebagaimana kutipan berikut ini:

“Mbak Sumroh, bagaimana rasanya menikah?”tanyanya dengan lugu. Dia berharap mendapat jawaban yang membuatnya mengerti…

Setiap hari menjelang pernikahannya, Malikha menyempatkan diri bersembunyi di rumah bakau… Malikha cemas saat-saat bermainnya akan hilang.” (hlm. 133-134).

“…Kamu sebagai anak keenam, harus mencontoh kakak-kakakmu, yang sudah menikah terlebih dahulu. Bukankah mereka juga menikah pada saat sesusiamun sekarang. Toh mereka bahagia. Padahal mereka belum pernah berkenalan dengan suaminya terlebih dahulu.” (hlm. 131)

Evi Idawati juga banyak mencitrakan perempuan sebagai tokoh utamanya di dalam cerpen-cerpennya seperti dalam kumpulan cerpen “Malam Perkawinan”. Semua cerpen yang terdapat di dalam kumpulan ini menyajikan perempuan sebagai tokoh utamanya. Semua sikap dan perilaku tokoh-tokoh tersebut mencerminkan kontradiksi ketika hal-hal yang konservatif dihadapkan dengan  realita modernitas. Tokoh-tokoh tersebut merupakan sosok perempuan yang telah terindoktriner, yang menempati posisi bak “api dalam sekam kehidupan sosial”.

Suminto A. Sayuti dalam Idawati (2005) mengatakan bahwa perempuan-perempuan Evi ini merupakan potret perempuan yang berada di simpang jalan dan di posisi tapal batas. Mereka juga merupakan refleksi perempuan hibrida sebagai konsekuensi tak terhindarkan dari proses progresi kultural dan sosial yang paternalistik dan patriarkal.

B. Latar (Setting)

Cerpen “Pernikahan Malikha” ini berlatar suatu pedesaan di Jawa Tengah, yaitu desa Nggojoyo dimana masyarakatnya masih tradisional dan memegang teguh adat istiadat setempat dan nilai-nilai agama Islam. Desa ini terletak di sebuah pulau di laut kecil Demak. Kebanyakan penduduk desa ini bermata pencaharian sebagai nelayan. Hal ini dapat dilihat dari petikan cerpen

Seluruh desa Nggojoyo sedang berpesta. Seminggu lagi juragan tambak Dullah akan menikahkan putra tunggalnya. Acara sudah dipersiapkan dua bulan yang lalu. Pentas hadrah, kasidah dan pengajian… Pak Dullah adalah orang yang berikut ini:terkaya di desa yang menguasai separo tambak yang membentang di perairan laut kecil Demak (hlm. 129).

Latar masyarakat pedesaan di kampung nelayan seperti ini atau masyarakat pegunungan juga diangkat dalam cerpen-cerpen  Evi Idawati dalam kumpulan “Malam Perkawinan”, misalnya dalam cerpen “Nujum Perempuan Gunung”, Tambak”, “Melati untuk Sri”, “Perapen”, “Lelaki Penunggu Waktu”, “Perempuan Penjual Udang”, dan “Perempuan yang Memandang Rembulan”.

C. Alur (Plot)

Alur adalah konstruksi mengenai sebuah deretan peristiwa yang secara logok dan kronologik saling berkaitan dan yang diakibatkan atau dialami oleh para pelaku (Luxemburg, 1989: 149). Alur pada cerpen ini adalah alur maju atau progresif. Cerita ini bermula dari diterimanya lamaran keluarga Juragan Dullah kepada keluarga Malikha. Juragan Dullah ingin menikahkan anak semata wayangnya, Hamdan, yang berusia tujuh belas tahun dengan Malikha yang masih berusia dua belas tahun. Kedua anak ini belum saling mengenal tapi akan segera menjadi sepasang suami istri. Hal ini menimbulkan kecemasan terutama pada diri Malikha.

Cerita ini lalu berkembang dengan seringnya Malikha menyendiri di tepi laut untuk menghilangkan kecemasan tersebut. Lalu Malikha menghilang sampai ditemukan dirinya kembali oleh penduduk desanya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Cerita ini berakhir dengan kembalinya kesadaran Malikha dengan disambut senyuman Hamdan di sisinya dan keesokan harinya mereka berdua akhirnya menikah.

Alur maju ini juga mendominasi cerpen-cerpen Evi Idawati dalam kumpulan “Malam Perkawinan, kecuali dalam cerpen “Lagu Rindu untuk Ibu”dan “Perapen yang menggunakan alur mundur atau flashback.

D. Pilihan Kata dan Gaya Bahasa

Gaya yang merupakan bagian dari retorika dianggap sebagai salah satu sarana yang dapat dipergunakan pengarang untuk mencapai tujuannya. Setiap teks memiliki gaya (Luxemburg, 1989: 104). Gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen “Pernikahan Malikha” adalah bahasa sehari-hari yang sederhana, bukan bahasa estetis yang biasa dipakai dalam karya sastra (bahasa non-sastra). Di samping itu, terdapat banyak kosa kata bahasa Jawa yang digunakan, sebagaimana kutipan berikut ini:

Inggih, Pak,” jawab Malikha (hlm. 130, 131)

“Biar Mbak yang bilang pada Emak kalau kamu ingin menikah, tidak usah malu, wong dulu juga, Mbak menikah seusiamu,” (hlm. 132)

Pilihan kata dan gaya bahasa seperti ini juga digunakan dalam cerpen-cerpen Evi Idawati dalam kumpulan “Malam Perkawinan”, seperti yang terdapat dalam kutipan-kutipan berikut ini:

“…Wong sampeyan anak mbarep. Mereka pasti manut dengan sampeyan. Sampeyan ‘kan kakaknya. Iya to?” (hlm. 3)

“Makanya saya sempatkan tilek kebun.” (hlm. 4)

Monggo, nderekaken,(hlm. 5)

“Kasihan, cah ayu-ayu kok jadi begitu…,” (hlm. 7)

Sore itu aku mengajak anak-anak dan suami nyekar ke makam Ibu (hlm. 14)

E. Tema

Tema yang diangkat dalam cerpen “Pernikahan Malikha” adalah tentang pernikahan, khususnya pernikahan usia muda karena perjodohan orang tua. Tema pernikahan ini juga mendominasi cerpen-cerpen Evi dalam kumpulan “Malam Perkawinan”. Hanya saja jenis pernikahannya berbeda-beda. Misalnya, dalam “Lagu Rindu untuk Ibu” yang diangkat adalah poligami, sedangkan kekerasan dalam rumah tangga yang berakhir dengan pembunuhan untuk mengakhiri kekerasa tersebut adalah tema yang diketengahkan dalam “Tambak”.

Jenis pernikahan lainnya adalah pernikahan antar-agama seperti yang ditekankan dalam cerpen “Hari Pernikahan”. Sementara pernikahan yang rapuh akibat adanya perselingkuhan diangkat dalam cerpen “Lelaki Penunggu Waktu”. Berikutnya adalah pernikahan yang dilakukan oleh seorang perawan tua tanpa dihadiri kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia setelah sebelumnya tanpa lelah menanti kapan pernikahan itu tiba untuk anak mereka, seperti dalam cerpen “Melati untuk Sri”.

Sedangkan pernikahan yang banyak diwarnai oleh perenungan seorang istri dengan sering memandangi langit dan seolah berdialog dengan Tuhannya terdapat dalam cerpen “Zikir Langit”. Sementara cerpen “Bintang di Mata Ania” mengangkat tema pernikahan dan rumah tangga sederhana dari sepasang penulis. Cerpen “Perempuan Penjual Udang” mengetengahkan tema pernikahan dan rumah tangga yang dilakukan berkali-kali oleh seorang perempuan yang akhirnya harus menghidupi sendiri keempat anaknya dari suami yang berbeda.

Berikutnya adalah perempuan yang sangat dimanja oleh ayahnya ketika ayahnya masih hidup harus merawat ibunya dan hidup membujang, akhirnya dia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Ini adalah tema dari cerpen “Perempuan yang Memandang Bulan”. Sedangkan “Badai” mengangkat tema hidup dan mati setelah terjadi peristiwa tsunami di Aceh. Sementara cerpen “Perempuan Keseratus” mengangkat tema tentang perselingkuhan dan perzinaan yang dilakukan oleh seorang laki-laki.

Cerpen “Semboja” bertemakan suatu pernikahan yang pincang karena suami pergi meninggalkan istrinya begitu saja untuk kemudian menikah dengan orang lain. Istri yang ditinggalkan akhirnya meniti karir dan sukses lalu bertemu kembali dengan suaminya itu. Terakhir adalah “Perempuan Panggung” bertemakan kehidupan seorang perempuan dari satu panggung ke panggung lainnya.

IV. APA YANG MEMBUAT EVI IDAWATI MENJADI EVI IDAWATI

Jawaban dari pertanyaan “Apa yang membuat Evi Idawati menjadi Evi Idawati? adalah latar belakang atau motif Evi Idawati menjadi Evi Idawati yang sekarang ini. Hal ini bisa kita lihat dari alasan mengapa dia menjadi penulis dan aktris. Dalam Kata Pengantar kumpulan cerpennya “Malam Perkawinan”, dia menulis bahwa cerpen, puisi dan panggung telah menjadi bagian hidupnya yang tak bisa hilang. Mengekspresikan ide-idenya dalam wujud karya sastra, menurutnya, adalah kenikmatan yang tiada tara.

Baginya, menulis adalah ekspresi diri dan refleksi sosok pribadinya, sehingga suasana, atmosfir, citra tokoh, dan peristiwa dalam dunia fiksi berhubungan erat dengan visi dan pemikirannya, termasuk eksistensinya sebagai perempuan di dalam konteks dominasi dan hegemoni laki-laki. Apa yang ditulisnya juga mencitrakan potret religiusitas manusia untuk menjadi sempurna dalam perjalanannya sebagai khalifah di dunia ini, juga dialog-dialog batin dan pencatatan peristiwa yang terjadi di dunia ini.

V. PENUTUP

Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa di dalam cerpen “Pernikahan Malikha” dan kumpulan cerpen “Malam Perkawinan”, Evi Idawati telah menunjukkan kekhasannya sebagai pengarang, dalam hal penokohan, latar, alur, pilihan kata dan gaya bahasa serta tema. Dalam hal penokohan, hampir semua cerpennya mecitrakan tokoh perempuan yang konservatif yang berhadapan dengan modernitas kehidupan sekitarnya bagai “api dalam sekam” kehidupan sosial. Latar yang sering digambarkan di hampir semua cerpennya adalah masyarakat pedesaan. Dan alur maju atau progresif mendominasi cerpen-cerpennya.

Dari segi pilihan kata dan gaya bahasa, Evi Idawati memilih penggunaan bahasa yang sehari-hari yang sederhana dan mudah sekali dimengerti. Di samping itu, terdapat kata-kata bahasa Jawa yang sering digunakan oleh masyarakat pedesaan di Jawa Tengah. Dan dari segi tema, tema pernikahan dengan segala pernak-perniknya yang banyak ditemukan dalam cerpen-cerpennya ini.

Akhirnya, Evi Idawati masih tumbuh dan aktif meramaikan kancah kesusastraan Indonesia lewat karya-karyanya. Meskipun belum menonjol dibandingkan dengan sastrawan lainnya, kehadirannya di dalam dunia kesusastraan Indonesia masih layak diperhitungkan. Eksistensinya masih “bagai sebutir pasir di lautan”, kecil tapi berarti, daripada besar lalu mati. Dan ia akan tumbuh seiring bergulirnya waktu. Apakah ia akan menjadi besar atau bahkan hilang di telan ombak. Kita tunggu!                           

DAFTAR PUSTAKA

Bisri, Mustofa. Cerita-cerita Pengantin (Kumpulan Cerpen). Yogyakarta: Penerbit Galang Press.

Idawati, Evi. 2005. Malam Perkawinan (Kumpulan Cerpen). Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Luxemburg, Jan van, dkk. 1991. Tentang Sastra (Penerjemah: Akhadiati Akram). Jakarta: Internusa.

Luxemburg, Jan van, dkk. 1989. Pengantar Ilmu Sastra (Penerjemah: Dick Hartono).Jakarta: Penerbit PT. Gramedia.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ratna, Nyoman Kutha. 2006. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wellek, Rene dan Warren, Austin. 1995. Teori Kesusastraan (Penerjemah: Melani Budianta). Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.

LAMPIRAN-LAMPIRAN:

I. SINOPSIS CERPEN “PERNIKAHAN MALIKHA”

Malikha adalah seorang gadis belia yang berusia dua belas tahun dan baru saja lulus dari Madrasah Tsanawiyah. Hamdan, pemuda berusia tujuh belas tahun melamarnya melalui ayahnya, Juragan Dullah. Sudah lama bapak Malikha dan Juragan Dullah ingin menjodohkan dan menikahkan mereka berdua. Namun orang tua Malikha memohon agar Malikha menamatkan sekolahnya dulu. Juragan Dullah adalah orang yang paling kaya di desa Nggojoyo, kampung nelayan di sebuah pulau yang berada di laut kecil Demak. Hamdan adalah putra tunggalnya. Mailkha dan keluarganya mengelola pondok pesantren di desanya. Hal ini telah berlangsung turun-temurun. Karena yang mengadakan pesta nanti adalah orang yang terkaya di desa itu, maka bagi penduduk desa, pesta pernikahan Malikha merupakan pesta mereka juga.

Malikha adalah gadis yang cantik, lugu, dan religius. Belum pernah dia berhubungan dengan laki-laki kecuali bapak dan kakak-kakaknya. apalagi dengan Hamdan. Dia menerima keputusan bapaknya untuk menerima lamaran tersebut, tanpa banyak tanya. Hal ini berarti dia akan segera menikah dengan laki-laki pilihan bapaknya, laki-laki yang belum pernah dikenalnya. Hal yang sama ini telah terjadi pada kakak-kakaknya. Dan selama ini mereka tidak memiliki masalah yang berarti dan nampak bahagia.

Menjelang hari pernikahannya, kecemasan Malikha bertambah besar. Banyak pertanyaan di dalam pikirannya yang belum ia dapatkan jawabannya. Ia menjadi sering menyendiri di gubuk tepi pantai, sampai suatu hari ia menghilang. Orang tuanya, keluarga Hamdan, dan penduduk desa lalu sibuk mencari keberadaanya. Akhirnya Malikha ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri. Hamdan merasa lega dan bersyukur. Selama Malikha menghilang, ia juga sangat cemas dan sempat berpikir bahwa Malikha pergi karena tidak mencintainya. Ketika Malikha membuka matanya, ia melihat senyuman Hamdan yang penuh arti. Keesokan harinya, pernikahan mereka berlangsung dengan meriah.

II. BIOGRAFI PENGARANG

Evi Idawati dilahirkan di Demak, Jawa Tengah, 9 Desember 1973. Ia sempat kuliah di Jurusan Teater Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, dan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Cerpen dan puisinya dimuat di berbagai media cetak dan di sejumlah antologi: Lirik-Lirik Kemenangan (1993), Antologi Penyair Jateng (1993), Ketika Layar Turun (1994), Zamrud Khatulistiwa (1997), Embun Tajali (2000), Filantropi (2001), Akar Rumput (2002), Kemilau Musim (2003), Di Batas Kota (2003), Kopiyah dan Kunfayakun (2003), dan Dokumen Jibril (2005).

Sedangkan kumpulan puisinya: Pengantin Sepi (2002) dan Menisik Senyap (akan terbit). Kumpulan cerpennya: Mahar (2003) dan Malam Perkawinan (2005). Ia juga menulis beberapa scenario: Telaga Biru Rumahku (TPI, 1993), Menyibak Tirai Matahari (Malioboro Khatulistiwa Film), dan Balada Dangdut (Persari). Di samping penyair dan cerpenis, ia juga dikenal sebagai artis sinetron dan teater. Ia sekarang bertempat tinggal di Yogyakarta.

Explore posts in the same categories: Uncategorized

2 Comments on “Kekhasan Evi Idawati Dalam Cerpen “PERNIKAHAN MALIKHA’”

  1. eka yunia wardani Says:

    mb evi idawati,…..aku dans ce yang ikut lomba baca puisi dulu di MA sunan pandanaran yogyakarta….

    qu sangat terkesan Dengan karya2 mb…

    Untuk saat ini qu macih Bingung BAgaimana cara untuk Membangun karaktr kArya2 kita????

    yang qu amati Skrg ini mb Mempunyai KArakter yang baek Dalam Bidang TUlis menulis untuk itu Qu Minta bImbingannya….

    thx,,,,

  2. eka yunia wardani Says:

    kebetulan saya juga sempat membeli Buku karya mb yang Berjudul “PENGANTIN SEPI”…………………..

    SLAmat bErkarya ya Mb………………….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: