Nilai Estetis Dan “Dulce Et Utile” Cerpen “DÉJÀ VU: KATHMANDU” Karya Veven Sp Wardana

I. PENDAHULUAN

Masalah pertama yang harus kita pecahkan menyangkut pokok bahasan studi sastra adalah “Apakah sastra itu dan bagaimana sifat-sifatnya?” (Wellek dan Warren, 1995: 11). Di samping itu adalah “Pengakuan suatu karya seseorang sebagai “sastra” didasarkan apa? Kenapa seorang pembaca, kritikus, atau penerbit menganggap suatu teks sebagai sastra?” (Luxemburg, dkk. 1991: 5).

Salah satu kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah suatu karya sastra itu “mahakarya” atau bukan adalah segi estetis. Kriteria yang lain dapat berupa reputasinya atau kecermerlangan ilmiahnya, ditambah penilaian estetis atas gaya bahasa, komposisi, dan kekuatan penyampaian yang tercermin dalam berbagai ujaran (Wellek dan Warren, 1995: 22).

Cerpen sebagai prosa fiksi juga memiliki nilai guna karena bertujuan memberikan hiburan dan kepuasan batin serta manfaat bagi pembacanya. Melalui sarana cerita itu, pembaca secara tidak langsung dapat belajar merasakan dan menghayati berbagai permasalahan kehidupan yang sengaja ditawarkan pengarang sehingga prosa fiksi dapat membuat pembacanya menjadi manusia yang lebih arif dan dapat memanusiakan manusia (Nurgiyantoro, 1995: 40).

Cerpen sebagaimana karya sastra yang lain dapat dibaca, dinikmati, dan diapresiasi. Telaahnya meliputi “kekhasan sastra” dan “sistematis” (Welleck dan Warren, 1995: 4). Dalam hal kekhasan karya sastra, telaahnya bertujuan menguraikan ciri-ciri khas karya sastra,  misalnya “fiksionalitas”, “ciptaan”, dan “imajinasi” (Weeleck dan Warren, 1995: 20).

Cerpen “De Javu: Kathmandu” karya Veven SP. Wardana adalah salah satu cerpen pilihan KOMPAS yang terbaik (KOMPAS, 2001: xiii) oleh dewan juri. Cerpen tersebut diasumsikan memiliki nilai-nilai estetis dan “dulce et utile”. Berdasarkan uraian di atas, makalah ini bertujuan untuk menguraikan analisa cerpen tersebut.  Kriteria yang dipakai adalah segi estetis yang meliputi:

  • “kesatuan dalam keragaman” (unity in variety),
  • “kontemplasi objektif” (disinterested contemplation),
  • distansi estetis” (aesthetic distance),
  • penciptaan kerangka seni” (framing),
  • ciptaan” (invention),
  • “imajinasi”, dan
  • “kreasi”

(Wellek dan Warren, 1995: 22).

Analisa cerpen ini juga ditujukan untuk mengetahui apakah di dalam kumpulan ini terdapat nilai “dulce et utile” yang dikemukakan oleh Horace (Darma, 2004: 20)

II. KERANGKA KONSEPTUAL NILAI ESTETIS DAN “DULCE ET UTILE” KARYA SASTRA

Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat keyakinan dalam bentuk gambaran konkrit yang menbangkitkan pesona dengan alat bahasa (Sumardjo, 1988: 3).

Sastra tidak hanya dinilai sebagai sebagai sebuah karya yang memiliki pengetahuan tentang budi pekerti yang dimanfaatkan sebagai konsumsi intelektual di samping konsumsi emosi, sebagaimana yang dinyatakan oleh Aminuddin (2005: 37):

Sastra merupakan karya cipta yang merupakan bagian dari seni dan berusaha menampilkan nilai-nilai keindahan yang bersifat actual dan imajinatif sehingga mampu memberikan hiburan dan kepuasan rohaniah pembaca.

Prosa fiksi sebagai salah satu genre karya sastra merupakan kisaran atau cerita yang diemban oleh latar, tahapan dan rangkaian cerita tetentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita (Aminuddin, 2005: 6). Prosa fiksi adalah karya imajiner yang bersifat estetis dan berguna (Nurgiyantoro, 1995: 4)

Masalah pertama yang harus kita pecahkan menyangkut pokok bahasan studi sastra adalah “Apakah sastra itu dan bagaimana sifat-sifatnya?” (Wellek dan Warren, 1995: 11). Di samping itu adalah “Pengakuan suatu karya seseorang sebagai “sastra” didasarkan apa? Kenapa seorang pembaca, kritikus, atau penerbit menganggap suatu teks sebagai sastra?” (Luxemburg, dkk. 1991: 5).

Salah satu kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah suatu karya sastra itu “mahakarya” atau bukan adalah segi estetis. Kriteria yang lain dapat berupa reputasinya atau kecermerlangan ilmiahnya, ditambah penilaian estetis atas gaya bahasa, komposisi, dan kekuatan penyampaian yang tercermin dalam berbagai ujaran (Wellek dan Warren, 1995: 22).

Pada berbagai periode sejarah, ruang lingkup fungsi estetis dapat berubah, baik menyempit maupun meluas. Namun demikian, pengertian sastra sebaiknya kita batasi pada karya yang dominan fungsi estetisnya. Nilai estetis yang dimaksud menurut Wellek dan Warren (1995: 18). terdiri atas:

A. “kesatuan dalam keragaman” (unity in variety)

Karya sastra bukanlah merupakan objek yang sederhana tetapi merupakan objek yang kompleks dan rumit, bahkan ada yang menyamakan karya sastra seperti “organism”. Dalam hal ini yang ditekankan hanya satu aspek saja, yaitu”kesatuan dalam keragaman” (unity in variety) (Wellek dan Warren, 1995: 22).

Aspek ini menekankan kaitan erat unsur-unsur karya sastra, yang mana unsur-unsur tersebut, baik isi atau bentuknya, sama manfaatnya, sehingga dapat melihat karya sastra sebagai sesuatu yang totalitas (Wellek dan Warren, 1995: 22).

Luxemburg (1989: 5) mengatakan karya sastra “otonom” bercirikan suatu “koherensi”. Pengertian koherensi dapat ditafsirkan sebagai keselarasan yang mendalam antara bentuk dan isi. Setiap isi berkaitan dengan sesuatu bentuk atau ungkapan tertentu. Karena bentuk dan isi saling berhubungan, bagian dan kesuluruhan saling terkait dengan erat maka akan saling menerangkan. Suatu kesatuian struktural mencakup setiap bagian dan sebaliknya bahwa setiap bagian menunjukkan kepada kesuluruhan ini dan bukan yang lain (Luxemburg, 1989: 38).

B. “kontemplasi objektif” (disinterested contemplation)

Yang dimaksud dengan “kontemplasi objektif” adalah pengisahan yang dilakukan pengarang yang merupakan hasil dari perenungan yang objektif, netral, dan tidak memiliki tujuan atau tendensi tertentu (Luxemburg, 1989:10).

C. distansi estetis” (aesthetic distance)

“Distansi estetis” (Aesthetic distance) adalah suatu “jarak” yang harus dijaga pengarang dalam penciptaan karya sastra. Dalam menciptakan suatu karya sastra seorang pengarang harus menjaga “jarak” antara dirinya dengan karyanya sendiri, sehingga dia menjadi netral dan tidak memihak apa pun dan siapa pun karena ia “orang Lain” (Luxemburg, 1991: 17), sehingga tidak setiap karya yang menampilkan “Aku” dengan begitu saja dianggap sebagai pengakuan pribadi seorang penyair (Luxemburg, 1989: 10).

D. penciptaan kerangka seni” (framing)

Segi “penciptaan kerangka seni” (framing) berhubungan dengan apakah suatu tema atau cerita digambarkan dengan kerangka fiksionalnya dengan tepat atau sesuai.

E. ciptaan” (invention)

Menurut Luxemburg (1989: 17) sastra merupakan sebuah ciptaan atau suatu kreasi dan pedoman untuk menilai kreasi adalah kreatifitas dan spontanitas.

F.      “imajinasi”

Menurut Luxemburg (1984: 3), karena merupakan karya seni, karya sasta merupakan hasil kreatifitas pengarang dengan menggunakan bahasa sebagai medianya dan memiliki tujuan estetis untuk menyampaikannya. Semua karya tercipta melalui imajinasi, sehingga karya sastra dianggap sebagai karya kreatif pengarang karena pengarang dapat mengungkapkan segala yang bergejolak dalam jiwanya baik tentang konsep, ide, perasaan dan pikiran serta imajinasinya.

G.     “kreasi”

Menurut Luxemburg (1984: 3), karena merupakan karya seni, karya sasta merupakan hasil kreatifitas pengarang dengan menggunakan bahasa sebagai medianya dan memiliki tujuan estetis untuk menyampaikannya.

Di samping nilai-nilai estetis di atas, karya sastra menurut Horace dalam Teeuw (1998:8) bersifat “Dulce et Utile” yang berarti menyenangkan dan bermanfaat. Dalam karya sastra yang baik, pembaca akan mendapatkan kesenangan dan kegunaan yang diberikan oleh karya sastra yang berupa keindahan dan pengalaman-pengalaman yang bernilai tinggi baik secara langsung maupun tidak langsung.

Menurut Darma (2004: 9-10), Horace menganggap, karya seni yang baik, termasuk sastra, selalu memenuhi dua butir criteria, yaitu dulce et utile, artinya sastra harus bagus, menarik, memberi kenikmatan. Di samping itu sastra harus memberi manfaat atau kegunaan, yaitu kekayaan batin, wawasan kehidupan, dan moral.

Nilai kegunaan dari karya sastra merupakan salah satu kriteria karya yang baik karena melaui penyajian ceritanya, pengarang memberi dimensi baru dari kenyataan yang ada dan kemudian memberikan pengalaman hidup yang baru dan cara memandang kehidupan yang arif dan penuh kebijakan dan kebajikan bagi pembacanya. Dengan demikian karya tersebut tidak hanya sekedar hiburan tetapi dapat membentuk perilaku kehidupan (Sumardjo dan Saini, 1991: 37).

III. NILAI ESTETIS DAN “DULCE ET UTILE” DALAM CERPEN “DÉJÀ VU: KATHMANDU”

Sesuai dengan tujuan penulisan makalah di atas, berikut ini adalah hasil analisis cerpen “De Javu: Kathmandu” karya Veven SP. Wardhana dari segi nilai estetis dan “dulce et utile”:

A. SEGI NILAI ESTETIS

Dari segi estetis, analisis cerpen ini meliputi segi-segi:

1. “kesatuan dalam keragaman” (unity in variety)

Dari segi “kesatuan dalam keragaman”, kumpulan cerpen ini memiliki suatu bangun teks. Dengan kata lain, cerpen ini memiliki koherensi, yaitu suatu keselarasan yang mendalam antara bentuk dan isi. Bentuk dan isi ini saling berhubungan dan kait mengait, sehingga saling menerangkan.

Hal ini dapat kita lihat dari keselarasan antara judul dan isi cerpen ini. “De Javu:Katmandhu” yang berarti suatu perasaan yang muncul ketika seseorang merasa bahwa peristiwa tersebut pernah terjadi sebelumnya padahal sebenarnya peristiwa  yang belum pernah dialaminya (Hornby, 1987: 227). Sedangkan “Kathmandhu” merupakan latar (setting) cerpen ini. Isi cerita ini, yaitu pertemuan tak terduga antara sepasang manusia berlainan jenis ketika mereka melakukan perjalanan wisata di Kathmandhu.

Di samping itu, keragaman perilaku kedua tokoh utama cerpen ini sama-sama memiliki “de javu”. Mereka masing-masing merasa bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya. Hal ini sering mengganggu pikiran mereka. Namun mereka tidak pernah menemukan jawaban yang pasti tentang kapan dan dimana mereka pernah bertemu sebelumnya, sebagaimana yang terdapat dalam kutipan berikut ini:

“Jadi apa artikita selama ini? Kita bersama seharian, tapi aku merasa sudah berabad-abad bersamamu,” kata lelaki itu terkesan mengeluh.

“Perasaanku sama. Aku juga merasa sebenarnya kita pernah bersama-sama, di masa lalu, entah kapan,” timpal perempuan itu. (hlm. 93-94)

2. “kontemplasi objektif” (disinterested contemplation)

Cerpen ini ditulis oleh pengarangnya dengan “kontemplasi objektif” karena pengisahan yang dilakukan pengarang merupakan hasil dari perenungan yang objektif, netral, dan tidak memiliki tujuan atau tendensi tertentu, sebagaimana kutipan berikut ini:

Dalam perjalanan menuju Lhasa, Xiao Qing juga menembus barisan kabut. Xiao Qing berharap, dalam singkapan kabut dia bakal menemukan dirinya yang baru, yang tak harus terkait dengan sejarah kelam saudara kembarnya. (hlm. 97)

3. distansi estetis” (aesthetic distance)

Cerpen ini memiliki “distansi estetis” karena pengarang bersikap netral, objektif,  dan tidak menonjolkan atau melecehkan suatu komunitas atau etnis tertentu dan bukan merupakan apa yang disebut sebagai “local color” (warna lokal). Meskipun pengarang cerpen tersebut berdarah Jawa, namun dalam karyanya dia menampilkan tokoh yang bukan orang Jawa dan berbahasa Mandarin serta hal-hal umum dan universal  sebagaimana kutipan berikut:

Apalagi nyaris semua negeri sudah pernah dijelajahi lelaki itu. Hong Kong, Porte de Choisy di Paris distrik 13, pecinan di Los Angeles atau Singapura atau Kuala Lumpur … (hlm. 87)

4. penciptaan kerangka seni” (framing)

Dari segi “penciptaan kerangka seni” (framing), cerpen ini memiliki framing yang baik dan cukup luas. Pertemuan tak terduga yang langsung diwarnai keakraban dan kemesraan karena masing-masing merasa bahwa mereka telah saling kenal sebelumnya, meskipun mereka tidak mengetahui kapan dan dimana perjumpaan mereka tersebut, yang menjadi tema utama cerpen ini digambarkan kerangka fiksionalnya dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari penyampaian tentang pertemuan tersebut yang tepat dan sesuai dengan kenyataan, seperti pada kutipan berikut ini:

Karena sedang bukan musim mendaki gunung, Kathmandu tampak agak lengang. Hanya anjing dan sapi yang lalu-lalang. Sesekali turis bule melintas. Gang dan lorong memperlengang jalanan. Namun, dengan kelengangan itulah aroma kembang krisan yang tumbuh di tepi Sungai Vishnumati semerbaknya tercium hingga seluruh Kathmandu, termasuk di Durbar Square. (hlm. 89)

5. ciptaan” (invention)

Dilihat dari segi ciptaan (invention), misalnya dalam penokohan, Veven SP. Wardana berhasil menciptakan tokoh-tokohnya yang fiksional dan dari tokoh-tokoh tersebut kita mendapat gambaran umum mengenai manusia, sifatnya, tingkah lakunya dan pendapatnya. Di samping itu, cerpen ini menggambarkan hubungan yang terduga dari tokoh-tokoh tersebut, dan memiliki originalitas dalam bentuk dan isi, seperti kutipan berikut ini:

Tampaknya dia memiliki “sense of humor” yang cukup terjaga. Xiao Qing jelas bukan namaku yang sebenarnya. Lagi-lagi aku hanya asal sebut, dan dia menimpali memperkenalkan namanya yang pasti juga bukan asli.(hlm. 85-86)

6. “imajinasi”

Dilihat dari “imajinasi” cerpen ini memiliki imaginasi yang baik karena menggambarkan atau melukiskan apa yang terjadi di dunia nyata dan bagaimana keadaannya secara imajinatif, termasuk hal-hal metafisika saja, sebagaimana kutipan berikut ini:

Xiao Qing adalah nama siluman ular hijau dalam ceritera tentang dua siluman ular yang bertapa sampai beratus-ratus tahun memohon pada dewa agar mereka bisa menjadi sosok manusia. Xu Xian, nama yang kuperkenalkan secara apontan sebagai nama diriku, adalah nama seorang tabib yang kemudian jatuh cinta pada salah satu jelmaan siluman itu. (hlm. 86)

7. “kreasi”

Dilihat dari segi “kreasi”, cerpen ini merupakan proses pelukisan yang kreatif dan unik, seperti pada kutipan berikut ini:

Sepanjang jalan, sepanjang hari, sepanjang senja dan sepanjang malam mereka senantiasa bergandengan tangan. Bahkan saling berangkulan. Ketika menyeberang di sebuah simpang jalanan, lelaki itu mendadak berhenti di tengah jalan dan menghentikan langkah Xiao Qing …

(hlm. 91)

B. SEGI “DULCE ET UTILE”

Cerpen ini memiliki nilai “dulce et utile” karena cerpen ini memberi kesenangan dan hiburan serta sekaligus manfaat bagi para pembacanya. Berikut ini hasil analisis cerpen tersebut:

1. Nilai kesenangan

Cerpen ini terutama dalam pengungkapan fakta, pikiran, pendapat, dan perasaan dalam menyikapi fakta tersebut, pembaca dapat merasakan bahwa cerita-ceritanya dikemas secara unik tapi  menarik dan memberi kenikmatan dan hiburan, seperti pada kutipan berikut ini:

Terus terang, aku merasa begitu tentram bersama Xu Xian- yang nama aslinya aku tak tahu dan tak penting kuketahui. Aku merasa tentram berada di sampingnya. (hlm. 95)

2. Nilai manfaat

Cerpen ini memberikan wawasan tentang kehidupan melalui tema, penokohan, dan amanat (pesan) cerita-ceritanya, yaitu tentang bagaimana seseorang ingin menghapus kenangan masa lalu yang kelam, apalagi ketika orang tersebut dihadapkan dengan suatu peristiwa saat ini yang kemudian membuat orang tersebut memunculkan kembali sisi gelap masa lalunya itu, tanpa bersifat menggurui pembacanya seperti kutipan berikut ini:

“Jadi kenapa kita tidak terus menyambung kebersamaan kita?”

“Ni harus kembali ke peran semula. Ni akan kembali sebagai seorang suami, seorang ayah yang dirindukan anak-anaknya… ” (hlm. 94)

Di samping itu, cerpen ini disajikan dengan bahasa yang santai dan lugas sehingga terkesan tidak menampilkan permasalahan kehidupan yang serius atau tidak berusaha meresapi hakikat kehidupan. Namun demikian, cerpen ini secara implisit berupaya memberikan pengalaman yang berharga pada pembacanya atau paling tidak mengajaknya untuk meresapi dan merenungkan permasalahan yang dikemukakan.

IV. PENUTUP

Dari uraian di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa cerpen “De Javu: Kathmandu” karya Veven SP. Wardana memiliki nilai estetis yang baik, dalam segi “kesatuan dalam keragaman” (unity in variety), “kontemplasi objektif” (disinterested contemplation), “distansi estetis” (aesthetic distance),penciptaan kerangka seni” (framing), “ciptaan” (invention), “imajinasi”, dan “kreasi”. Meskipun belum nampak hal-hal yang sangat menonjol dan menambah unsur-unsur yang baru, serta cerita-cerita yang “tak terduga” dan “mengejutkan” yang mana semuanya ini dapat menjadikan cerpen ini suatu karya sastra yang bermutu. Di samping itu, cerpen ini dapat memberikan hiburan dan manfaat dan nilai bagi para pembacanya.

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 2005. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: PT. Sinar Baru Algesindo.

Darma, Budi. 2004. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Luxemburg, Jan van, dkk. 1991. Tentang Sastra. Jakarta: Intermasa.

Luxemburg, Jan van, dkk. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: PT. Gramedia.

Kompas. 2001. Mata Yang Indah (Cerpen Pilihan Kompas 2001). Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Sumarjo, Jacob dan Saini, K.M. 1991. Apresiasi Kesusatraan.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Wellek, Rene dan Warren, Austin. 2005. Teori Kesusasteraan (Terjemahan oleh Melani Budianta). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Teeuw, A. 1998. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Giri Mukti.

LAMPIRAN-LAMPIRAN:

I. SINOPSIS CERPEN “DÉJÀ VU: KATHMANDU”

Ketika menikmati makan pagi di sebuah hotel di lereng bukit di Kathmandu, Xiao Qing (bukan nama sebenarnya) bertemu dengan seorang perempuan bernama Xu Xian (juga bukan nama sebenarnya) yang penampilan fisiknya seperti orang Cina. Mereka lalu saling berkenalan. Dari sinilah mereka merasa bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya, namun mereka tidak ingat kapan dan dimana mereka saling bertemu. Nama Xiao Qing dan Xu Xian bukanlah nama mereka sebenarnya. Mereka asal menyebutnya saja ketika mereka saling berkenalan. Kedua nama itu berasal dari sebuah kisah legenda Cina.

Perasaan inilah yang kemudian menyebabkan kedekatan bahkan kemesraan di antara mereka berdua. Meskipun mereka sangat menikmati kedekatan itu, ada sesuatu yang mengganggu di antara mereka berdua, yaitu sebuah peristiwa di masa lalu mereka yang kelam. Karena mereka merasa telah saling mengenal sebelumnya, mereka berdua seolah-olah dihantui peristiwa yang sama di masa lalu. Hal inilah yang membuat mereka memutuskan untuk mengakhiri kebersamaan mereka. Akhirnya, mereka berpisah dan bertekad untuk melepaskan diri dari jerat bayangan masa lalu dan menjadi orang yang baru dan berbeda.

II. BIOGRAFI PENGARANG

Veven SP. Wardana lahir di Turen, Malang, Jawa Timur, pada tanggal 21 Januari 1959. Dunia tulis-menulis sudah tidak asing baginya. Ia pernah menjadi pelukis komik silat, menulis kumpulan puisi Mataair (1976). Pada saat ia kuliah di Fakultas Sastra UGM, ia sempat menjadi redaktur tamu rubric kebudayaan di harian Berita Nasional.

Kemudian, ia hijrah ke Jakarta dan menjadi redaktur majalah Hai dan Tiara, dan beberapa tabloid, yaitu Monitor, Bintang dan Citra. Ia juga menulis cerpen dan scenario sinetron di sela-sela kesibukannya. Novelnya berjudul Megatruh dimuat secara bersambung di majalah Hai (1986), sedangkan cerita bersambung Matahari Malam Hari dimuat di harian Surabaya Post (1993).

Selain itu, ia juga menulis beberapa buku yang sudah diterbitkan, yaitu Budaya Massa dan Pergeseran Masyarakat (1995), Kapitalisme Televisi dan Strategi Budaya Massa (1997), Kemelut PDI di Layar Televisi: Survey Jurnalisme Televisi Indonesia (1997), Para Superkaya Indonesia: Sebuah Dokumentasi Gaya Hidup (1998, 1999: ditulis bersama Herry Barus), Geger Santet Banyuwangi (2001: ditulis bersama Abdul Manan dan Imam Sumaatmadja), dan Televisi dan Prasangka Budaya Massa (2001). Sedangkan esai keksusasteraannya, Eksotisme Estetika Mitos hingga kini masih tersendat di mesin cetak.

Saat ini ia menjadi penanggung jawab Intermezzo, sebuah situs internet di Gramedia- Majalah Online. Selain itu, ia  menjadi Koordinator Program Media Watch di Institut Studi Area Informasi dan coordinator siding redaksi Pantau, jurnal kajian media dan jurnalisme (1999-Februari 2001)

Explore posts in the same categories: Cerpen

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: