<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dyra Hadi's Blog</title>
	<atom:link href="http://dyahrochmawati08.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dyahrochmawati08.wordpress.com</link>
	<description>Let's share and care!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 02 Oct 2011 07:00:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dyahrochmawati08.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Dyra Hadi's Blog</title>
		<link>http://dyahrochmawati08.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dyahrochmawati08.wordpress.com/osd.xml" title="Dyra Hadi&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dyahrochmawati08.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>SARCOMA</title>
		<link>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2010/01/18/sarcoma-2/</link>
		<comments>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2010/01/18/sarcoma-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 06:50:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyah rochmawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2010/01/18/sarcoma-2/</guid>
		<description><![CDATA[Tak biasanya cuaca dingin yang meremukkan tulang datang ditambah dengan angin kencang terjadi di bulan Januari. Tapi nyatanya begitu. Aku betulkan turtle-neck jumper-ku. Kutinggikan bagian lehernya agar angin yang menusuk itu tidak masuk ke dalam celah-celahnya. selanjutnya Meski warnanya pudar, bahkan tulisannya hanya terlihat bekasnya, tapi masih berfungsi dengan baik. Gila, rupanya efek global warming [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahrochmawati08.wordpress.com&amp;blog=5650448&amp;post=205&amp;subd=dyahrochmawati08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak biasanya cuaca dingin yang meremukkan tulang datang ditambah dengan angin kencang terjadi di bulan Januari. Tapi nyatanya begitu. Aku betulkan turtle-neck jumper-ku. Kutinggikan bagian lehernya agar angin yang menusuk itu tidak masuk ke dalam celah-celahnya. <a href="http://kebunemas.com/?id=dyra2010">selanjutnya</a></p>
<p><span id="more-205"></span></p>
<p>Meski warnanya pudar, bahkan tulisannya hanya terlihat bekasnya, tapi masih berfungsi dengan baik. Gila, rupanya efek global warming yang selama ini aku lihat di film-film atau aku baca di media cetak benar-benar terjadi! Salah satunya adalah perubahan cuaca yang ekstrim!<br />
Aku memandang keluar jendela untuk memastikan apa yng sebenarnya sedang terjadi. Ya, aku melihat daun-daun bagai ditiup kipas angin raksasa yang sudah usang. Aku bisa mendengar suara derunya. Aku lirik kalender yang menempel di dinding dekat jendela itu. Terlihat angka sebelas! Ini berarti sudah dua tahun aku hanya bisa berbaring di atas tempat tidur ini. Dan selama itu pula kanker di salah satu bagian alat reproduksiku telah mencengkeramku!<br />
Beruntung aku masih bisa memainkan jari-jariku untuk mengekspresikan ide-ideku dengan notebook-ku seperti yang biasa aku lakukan ketika aku masih segar bugar. Bedanya, kalau dulu menulis cerpen bisa aku selesaikan dalam waktu satu-dua jam non-stop. Tapi sekarang, maksimal aku hanya bisa bertahan kurang dari setengah jam hanya untuk bisa duduk sambil bersandar pada tumbukan bantal-bantal. Selepas itu aku hanya bisa merebahkan tubuhku sambil memandangi langit-langit kamarku.<br />
Tiba-tiba di luar jendela ada sosok bayangan berjubah putih dan berpenutup kepala kembali menampakkan diri. Kurang jelas siapa karena penutup kepala itu cukup untuk menutupi wajah orang itu. Dia seperti memandangiku, tapi tanpa ekspresi. Jelas bayangan itu bukan hantu, karena tidak satu pun bulu kudukku berdiri!<br />
Inikah sosok malaikat yang siap mencabut nyawaku? Aku jadi ingat ekspresi wajah dokter onthologiku yang tiba-tiba berubah ketika membaca hasil terakhir laboratorium medis milikku. Namun beliau tetap tersenyum untuk tetap memberiku semangat untuk bertahan hidup, sambil mengingatkanku akan otobiografiku yang belum kuselesaikan.<br />
Kupandangi jendela itu sekali lagi. Sosok itu masih bertahan di posisi ketika aku tadi melihatnya. Yang berubah, di luar jendela itu bukan taman, namun terowongan yang gelap!Aku juga melihat sesosok wanita muda berpakaian putih yang tengah tersenyum kepadaku. Senyumnya mengingatkanku pada sosok yang sepertinya amat kukenal. Dia masih tersenyum ketika aku pandangi untuk kesekian kali. Ya, senyum itu adalah milik nenekku yang telah meninggal dunia sepuluh tahun lalu. Dan kali ini dia melambai-lambaikan tangannya. Aneh, tiba-tiba tanganku tak bisa kugerakkan padahal aku ingin membalas lambaiannya karena aku tak mungkin lari dan memeluknya!<br />
Inikah saat-saat terakhir kehidupan seseorang sebelum dia memasuki gerbang kematian? Aku melihatnya dengan jelas sekarang! Mungkin di saat-saat seperti inilah orang biasanya memberikan pesan terakhirnya sebelum meninggalkan dunia ini selamanya. Dan inilah saat yang paling tepat untuk membalas surat yang kugenggam sekarang ini. Surat yang dikirim oleh kekasih terakhirku saat kami mengakhiri semuanya lima tahun lalu!<br />
Kubuka perlahan-lahan surat yang masih tersimpan rapi di dalam amplopnya lalu kubaca kembali surat yang kata-katanya masih terngiang-ngiang sampai detik ini. Yang paling aku ingat adalah paragraf terakhir yang dia tulis, &#8220;The sun rises and sets. The day comes and the night goes. The waves rise and fall. Our love is forever over all!&#8221;<br />
Kalimat terakhir itulah yang menyemangati hari-hariku tanpa kehadirannya. Kalimat terakhir itulah yang membarakan bekunya di malam-malam sepiku. Kalimat terakhir itu pulalah yang telah memeras air mataku setiap kali aku mengingat masa-masa yang membahagiakan bersamanya walaupun aku juga selalu ingat akan kata-katanya,&#8221;Jangan kau tangisi setiap kebahagiaan yang kita nikmati atau perpisahan yang mengakhirinya. Semuanya ini sudah takdir-Nya!&#8221;<br />
Takdir-Nyakah yang mempertemukan lalu mempertautkan kami pada tiang yang tak patut sehingga kami lalu memutuskan untuk melepaskannya?Aku tidak pernah memintaNya untuk bertemu dengannya ketika kami masing-masing masih terikat pernikahan yang sakral itu! Takdir-Nyakah yang membuatku harus menjalani pernikahan tanpa cinta sebelum bertemu dengannya? Takdir-Nyakah yang membuatnya menjalani pernikahan tanpa putra? Takdir-Nyakah yang membawanya bertemu dengan diriku yang tak kan mungkin memenuhi harapannya itu?Aku tak mengerti kenapa kami dipertautkanNya lalu dilepaskanNya? Takdir-Nyakah yang membuat kita berfikir untuk menafikan pasangan kita yang telah diberikan olehNya? Yang sangat aku fahami adalah aku tidak akan pernah mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu!<br />
Kupejamkan mataku beberapa saat karena terasa panas setelah rasa pedih itu muncul untuk kesekian kalinya. Lebih pedih dari sakit yang disebabkan kanker yang sekarang bersarang di tubuhku dan hampir merenggut nyawaku. Tiba-tiba aku ingin bertemu dengannya. &#8220;Tidak, tidak! Tak mungkin dengan kondisiku yang seperti ini!&#8221; pikirku. Akibat chemotherapy yang tak terhitung lagi berapa kali aku telah menjalaninya, tentu saja aku tidak semenarik lagi seperti dulu.<br />
Kupandangi diriku di cermin di atas meja riasku yang tak lagi ada benda-benda kosmetik yang bertengger di sana. Hanya beberapa buku dan majalah serta kliping hasil karyaku selama aku berbaring di dalam kamar ini. Tepatnya, setelah aku mendengar status medisku dari dokterku bahwa aku positif menderita kanker stadium akhir! Lalu aku rapikan scarf yang telah setia menutupi kepala plontosku dengan mengikat tali di belakang tengkukku. Tidak! Dia tidak boleh melihatku seperti ini. Biarlah dia akan mengingat sosokku seperti ketika dia masih bersamaku. Aku tidak mengharapkan belas kasihannya seperti ketika kami harus berpisah. Aku tidak menangis sedikit pun saat itu. Hatikulah yang pada waktu itu banyak berkata-kata. &#8220;Ya Allah, betapa aku sangat merindukannya saat ini!&#8221; keluhku. Aku biarkan satu butir air mataku menetes menelusuri pipiku yang kusam dan keriput.<br />
Kemudian kuputuskan untuk menulis surat elektronik kepadanya. Ini adalah kali pertama kuputuskan untuk mengirimkannya kepadanya. Ada folder di file-ku yang aku beri nama &#8220;The Unsent Letters&#8221; yang isinya curahan perasaanku padanya. Tak seorang pun tahu kalau itu bukanlah cerpen fiksiku, tapi kisah nyataku! Dan mungkin juga, ini adalah sekaligus surat terakhirku padanya!<br />
Kubuka dan kunyalakan notebook-ku. Kupilih juga lagu-lagu yang akan mengiringku. Mulailah aku menulisnya:</p>
<p>&#8220;My dearest Archie,<br />
I&#8217;m sorry that I can&#8217;t help writing, though I do think it rather odd to write you first. I think you have to know that every letter I&#8217;m now saying is exactly the opposite from what I said when we last met. I am taking pains and bitterness that I feel saying it. This might be the last!</p>
<p>I love you indefinitely and I still and surely do. How much I love goodness, straightness, singleness of heart- you. I shall say I enjoyed every second of the wonderful moments that we shared together in our blindness. Yet it&#8217;s worth enjoying and it has made our life worth having! But now I feel that my life is at its end, that my soul will come home to the place where it first belongs after it has wandered thousands of miles. I remember Earnest Dowson&#8217;s poem:<br />
Now I will take me to a place of peace,<br />
Forget my heart&#8217;s desire-<br />
In solitude and prayer work out my soul&#8217;s release…</p>
<p>We shall be friends still. Yes, to be friends is the only right and possible way. It&#8217;s the wisest to be at all times. And that&#8217;s what we both have been though it&#8217;s been almost unbearable and dreadful with our secret tenderness of soul as we want more! Sometimes it&#8217;s very tiresome and I find myself no longer able to bear the silence.. Yet it was a pretty thing in its beginnings, a sweet and darling thing. And there shall be no pain in the end.</p>
<p>However, soon it will all be bound to end in smoke and nothingness. All is to finish that which has never been begun! All would be bound in a memory forever unlike any other. I shall then be as silent as the grave. My heart stands still at the thought of when next we meet. I shall then go to sleep, and sleep and sleep for years and forget that I have ever hoped for anything. Finally, farewell my dearest! God bless you a thousand times.</p>
<p>Yours,</p>
<p>Nadeera</p>
<p>Lega dan puas rasanya. Ku kirim e-mail ini kepadanya. Tiba-tiba badanku terasa ringan seperti kapas. Perlahan-lahan aku mulai merasakan seperti terbang melayang. Aku lihat ke bawah badanku mulai naik. Tiba-tiba sosok berjubah putih itu datang dan memegang lenganku seperti menuntunku terbang menuju gerbang itu. Dia tidak punya sayap seperti yang sering digambarkan orang. Nampaknya dia tidak perlu sayap untuk terbang. Sosok nenekku menyambutku masih dengan senyuman dan tanpa kata-kata lalu menuntunku dan memegang lenganku lainnya.<br />
Ada suara lonceng bergemerincing. Seperti ada yang menyuruhku untuk mengucap doa. Yang aku ingat adalah doa yang selalu diucapkan anak bungsuku sebelum tidur. Aku selalu menungguinya sampai dia selesai membacanya, mengecup keningnya dan mematikan lampu di samping tempat tidurnya. Pelan-pelan aku melafalkan doa itu,&#8221;Ya Allah, dengan namaMu aku hidup dan dengan namaMu aku mati, amin!&#8221;<br />
Masih kudengar sayup-sayup lagu &#8220;Sarcoma&#8221; milik Rafika Duri dari notebook-ku, &#8220;&#8230;Kucoba sadari,insyafi, kenyataan di dalam diri. Mandiri dalam suasana pilu yang mencekam menghimpitku. Kucoba berdoa, bertaqwa dan pasrah pada Ilahi. Menangguhkan segala siksa dan masa-masa penantianku dan kini tiba mengakhiri semuanya ini&#8230;menutup masa duniawi, berakhir semua penderitaan ini&#8230;&#8221;<br />
Sementara itu, aku melihat tubuhku yang lain ambruk dan jatuh dari tempat tidur. Kepalaku terlihat membentur lampu di sisi tempat tidur itu dan menimbulkan suara gaduh. Ibuku dan anakku berlarian masuk dan memeluk tubuhku. Mereka membisikkan ke telingaku nama Allah berulang-ulang.Tak ada suara jerit tangis. Aku telah meminta kepada mereka berdua untuk tidak menangisi kepergianku seandainya waktuku tiba untuk meninggalkan dunia fana ini. Aku telah pasrah dan tawakkal kepada-Nya bahkan jauh sebelum penyakit kanker itu mulai menyebarkan jalanya di dalam tubuhku dan sebelum aku bertemu dengannya.<br />
Tubuhku yang melayang mulai menembus atap kamar itu dan aneh aku tak merasa sakit sedikit pun. Aku sempat melihat notebook-ku masih menyala. Mudah-mudahan nanti anakku melihatnya dan menemukan e-mail yang baru terkirim itu. Biarlah dia akhirnya mengetahui bahwa ada sosok lain yang hadir dalam kehidupan ibunya selain ayahnya yang kini hidup bersama wanita lain setelah orang tuanya bercerai. Dan syukurlah, dia mengetahui kenyataan itu langsung dariku melalui e-mail itu. Itu bagian dari kehidupan yang harus dia pelajari. Kehidupan di dunia tak ada yang sempurna! Kesempurnaan itu hanya Milik-Nya!</p>
<p>R.S. Husada Utama<br />
Surabaya, 11 Januari 2010, 12.35 WIB.</p>
<p><em> </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dyahrochmawati08.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dyahrochmawati08.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dyahrochmawati08.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dyahrochmawati08.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dyahrochmawati08.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dyahrochmawati08.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dyahrochmawati08.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dyahrochmawati08.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dyahrochmawati08.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dyahrochmawati08.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dyahrochmawati08.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dyahrochmawati08.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dyahrochmawati08.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dyahrochmawati08.wordpress.com/205/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahrochmawati08.wordpress.com&amp;blog=5650448&amp;post=205&amp;subd=dyahrochmawati08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2010/01/18/sarcoma-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ee1d0c49ecd63275bd9efb1ebb8fabc?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">dyahrochmawati08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SARCOMA: BEHIND THE SCENE (DIBALIK PENCIPTAAN SUATU KARYA SASTRA)</title>
		<link>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2010/01/18/sarcoma-behind-the-scene-dibalik-penciptaan-suatu-karya-sastra/</link>
		<comments>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2010/01/18/sarcoma-behind-the-scene-dibalik-penciptaan-suatu-karya-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 06:46:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyah rochmawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2010/01/18/203/</guid>
		<description><![CDATA[Assalaamu &#8216;alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh, Saya merasa saya harus menulis suatu &#8220;catatan&#8221; kecil ini agar para pembaca (mudah-mudahan) lebih memahami tentang bagaimana suatu karya sastra itu diciptakan. Hal ini dikarenakan banyak karya sastra yang telah dipublikasikan lalu disalah-interpretasikan oleh sebagian kalangan. Nilai &#8220;dulce et utile&#8221; sebagai salah satu &#8220;pesan&#8221; pengarang ketika menulis karya sastra tersebut yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahrochmawati08.wordpress.com&amp;blog=5650448&amp;post=203&amp;subd=dyahrochmawati08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalaamu &#8216;alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,</p>
<p>Saya merasa saya harus menulis suatu &#8220;catatan&#8221; kecil ini agar para pembaca (mudah-mudahan) lebih memahami tentang bagaimana suatu karya sastra itu diciptakan. Hal ini dikarenakan banyak karya sastra yang telah dipublikasikan lalu disalah-interpretasikan oleh sebagian kalangan.</p>
<p> <span id="more-203"></span>
<p>Nilai &#8220;dulce et utile&#8221; sebagai salah satu &#8220;pesan&#8221; pengarang ketika menulis karya sastra tersebut yang sebenarnya mulia, bahwa suatu karya sastra memberikan hiburan dan rasa senang sekaligus manfaat bagi para pembacanya, namun dibiaskan lalu mengakibatkan timbulnya tendensi dan prasangka tertentu. Meskipun hal ini juga merupakan &#8220;hak&#8221; pembaca untuk menanggapinya (Reader&#8217;s Response Theory) <br />Karya sastra merupakan hasil kreativitas pengaraan yang melibatkan unsur-unsur fiksionalitas (rekaan) sebagai salah satu unsur utama karya sastra. Unsur inilah yang membedakan karya sastra dengan teks lainnya. Namun terkadang karya sastra itu mengandung unsur realitas karena karya sastra dapat juga mengacu pada dunia nyata atau realita yang dimaksudkan untuk memberi informasi tentang apa yang terjadi di dunia nyata atau bagaimana keadaannya, seperti pada teks referensial. Karya sastra mencerminkan &#8220;kebebasan&#8221; pengarang berekspresi menurut persepsinya tentang dunia nyata atau dunia yang mungkin ada. <br />Karya sastra bersifat ekspresif. Hal ini berarti bahwa tujuan utama diciptakannya suatu karya sastra adalah untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, pengalaman, dan pendapat pengarang. Karya sastra juga bersifat persuasif (dalam bahasa Latin &#8220;persuadere&#8221;) karena penciptaannya bertujuan untuk mempengaruhi, meyakinkan, atau mendorong perilaku tertentu. Dalam hal ini, pengarang menggunakan teknik-teknik tertentu sehingga pembacanya terkesan, misalnya dengan ketegangan, keharuan, penghiburan, atau seperti &#8220;mengajari&#8221; pembaca. <br />Cerita pendek &#8220;Sarcoma&#8221; yang baru saja saya tulis berawal dari pertemuan saya dengan pasien kanker stadium lanjut di sebuah rumah sakit di Surabaya. Pasien tersebut adalah seorang perempuan separuh abad. Perempuan ini menginspirasi saya untuk menjadikannya sebagai tokoh Nadeera.Yang membuat saya terharu dan trenyuh adalah semangat kepasrahan kepada takdir Ilahi atas penyakit mematikan yang dideritanya itu. Tindakan-tindakan medis yang begitu &#8220;menyakitkan&#8221; seolah-olah &#8220;lagu pengantar tidur&#8221;nya. Namun penulisan cerita ini terhenti sejenak dikarenakan saya harus menjalani terapi medis untuk beberapa lama yang membuat saya tidak bisa bermain-main dengan laptop saya sebagaimana biasanya ketika saya mendapat ide untuk meciptakan suatu karya sastra. <br />Tentang romansa yang terjadi dalam cerita itu, saya terinspirasi dari perkuliahan &#8220;Stylistics&#8221; yang diampu oleh Prof. Abbas. Pada saat itu kami membicarakan tentang keindahan sebuah puisi yang dilagukan yang berjudul &#8220;Where does Love Go?&#8221;. Salah satu bait dari puisi yang cukup panjang itu berbunyi, &#8220;Love is like a flock of birds flying to different directions&#8221;. Lalu timbullah pikiran &#8220;nakal&#8221; saya tentang perjalanan sebuah cinta. Apalagi di dalam perkuliahan tersebut, ada seorang teman yang mengatakan bahwa menurut Jaya Suprana mengutip hasil penelitian, cinta itu akan kuat bertahan paling lama selama 7 tahun. Kami semua tertawa karena hal itu terdengar &#8220;lucu&#8221; di balik kekagetan saya mungkin juga teman-teman sekelas saya waktu itu. <br />Ide &#8220;nakal&#8221; ini menginspirasi saya untuk menulis tentang cinta yang tumbuh setelah suatu pernikahan yang sakral itu diikrarkan di hadapan Allah, Tuhan yang telah mempertemukan pasangan tersebut. Mungkinkah? Menurut persepsi saya, hal itu sangat mungkin terjadi. Banyak cerita tentang liku-liku suatu pernikahan telah saya dengar dan mungkin saya alami sendiri. Hal inilah yang mendorong saya menciptakan tokoh Archimedes, yang saya ambil dari seorang fisikawan. Saya ingat Hukum Archimedes yang sudah sangat kita kenal pada saat kita mempelajari fisika di sekolah. Mengapa demikian? Menurut saya, cinta itu ibarat sesuatu yang melayang-layang di dalam kehidupan kita. Cinta itu timbul dan tenggelam! <br />Tentang gambaran tokoh &#8220;malaikat&#8221; di dalam cerpen itu tercipta juga karena pikiran &#8220;nakal&#8221; saya, &#8220;Bagaimana jika pencitraan malaikat itu berbeda dengan apa yang selama ini dipersepsikan banyak orang. Mudah-mudahan Allah SWT mengampuni dosa saya kalau apa yang saya gambarkan di dalam cerpen ini tidak sesuai kenyataan. <br />Akhirnya, itulah bagaimana kronologi penulisan cerita pendek saya. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas masukan yang konstruktif dari teman-teman pembaca guna perbaikan cerpen-cerpen saya selanjutnya. Saya mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan dengan apa yang saya suguhkan dalam cerpen tersebut. Cerita itu murni FIKSI meski berlatar belakang realita yang saya hadapi. Mohon tidak disalah artikan. Mudah-mudahan &#8220;catatan&#8221; kecil saya bermanfaat bagi kita semua, terutama bagaimana kita menyikapi suatu karya sastra. Catatan ini sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman pembaca tentang bagaimana dan maksud saya menulis cerita itu. Sekian dan terima kasih atas perhatian semuanya.</p>
<p>Wa&#8217;alaikum salaam warahmatullaahi wabarakatuuh,</p>
<p>Dyra Hadi</p>
<p>Surabaya, 17 Januari 2010, 16:00 WIB</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dyahrochmawati08.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dyahrochmawati08.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dyahrochmawati08.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dyahrochmawati08.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dyahrochmawati08.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dyahrochmawati08.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dyahrochmawati08.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dyahrochmawati08.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dyahrochmawati08.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dyahrochmawati08.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dyahrochmawati08.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dyahrochmawati08.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dyahrochmawati08.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dyahrochmawati08.wordpress.com/203/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahrochmawati08.wordpress.com&amp;blog=5650448&amp;post=203&amp;subd=dyahrochmawati08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2010/01/18/sarcoma-behind-the-scene-dibalik-penciptaan-suatu-karya-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ee1d0c49ecd63275bd9efb1ebb8fabc?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">dyahrochmawati08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TAHAPAN AWAL ANALISA DATA DALAM PENELITIAN KUALITATIF</title>
		<link>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/11/10/tahapan-awal-analisa-data-dalam-penelitian-kualitatif-2/</link>
		<comments>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/11/10/tahapan-awal-analisa-data-dalam-penelitian-kualitatif-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 05:43:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyah rochmawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[kualitatif]]></category>
		<category><![CDATA[penelitian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/11/10/tahapan-awal-analisa-data-dalam-penelitian-kualitatif-2/</guid>
		<description><![CDATA[A. PENDAHULUAN Penelitian kualitatif merupakan suatu kegiatan (ilmiah) yang ditempuh melalui proses yang relatif panjang; menemukan rumusan masalah, menentukan rencana penelitian, melakukan tahap-tahap penelitian, baik untuk mencari data melalui studi pustaka maupun ke lapangan, sampai menyusun sistematika hasil penelitian (Bungin, 2006: 3). Dalam hubungannya dengan data penelitian, penelitian kualitatif menggunakan data kualitatif dan mengolahnya secara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahrochmawati08.wordpress.com&amp;blog=5650448&amp;post=194&amp;subd=dyahrochmawati08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><strong>A.</strong> <strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">
<p style="text-indent:32.1pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 39.9pt;">Penelitian kualitatif merupakan suatu kegiatan (ilmiah) yang ditempuh melalui proses yang relatif panjang; menemukan rumusan masalah, menentukan rencana penelitian, melakukan tahap-tahap penelitian, baik untuk mencari data melalui studi pustaka maupun ke lapangan, sampai menyusun sistematika hasil penelitian (Bungin, <span id="more-194"></span>2006: 3). Dalam hubungannya dengan data penelitian, penelitian kualitatif menggunakan data kualitatif dan mengolahnya secara kualitatif, yaitu tidak menggunakan rumus-rumus statistik serta tidak melibatkan generalisasi dalam penarikan kesimpulannya (Arifin, 2008: 22-23).</p>
<p style="text-indent:32.1pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 39.9pt;">Makalah ini membahas tentang metode-metode untuk analisa data kualitatif yang bermanfaat pada tahap-tahap awal suatu penelitian, bahkan pada saat pengumpulan data sedang berlangsung. Metode-metode tersebut dapat membantu pengorganisasian data untuk analisa data lebih lanjut dan lebih mendalam lagi. Manfaat lain dari analisa data pada tahap awal adalah untuk efisiensi waktu sehingga memungkinkan adanya pengambilan data baru atau menguji hipotesis apabila diperlukan untuk melengkapi data penelitian serta untuk mengoreksi kekurangan sehingga dari awal ada kesesuaian antara pengumpulan data dan analisanya (Miles dan Huberman, 1994: 50).</p>
<p style="text-indent:32.1pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 39.9pt;">Makalah ini membahas empat metode dari delapan metode penganalisaan data pada tahap awal. Masing-masing metode akan disajikan dalam suatu format yang terdiri atas: (1) nama metode, (2) masalah analisa, yang berkenaan dengan masalah, kebutuhan, atau kesulitan yang dihadapi oleh analis data kualitatif, (3) penjelasan singkat, tentang metode apa dan bagaimana cara kerjanya, (4) ilustrasi, tentang bagaimana metode tersebut dikembangkan dan digunakan, (5) variasi, tentang pendekatan-pendekatan alternative yang menggunakan prinsip-prinsip umum yang sama dan hasil penelitian lainnya yang relevan, (6) saran, yang merangkum komentar-komentar tentang metode tersebut dan tips bagaiman menggunakan metode tersebut dengan baik, dan (7) waktu yang diperlukan, tentang estimasi-estimasi untuk membimbing peneliti yang bervariasi tergantung masalah, ketrampilan peneliti, masalah penelitian, jumlah kasus, dan lain-lain.</p>
<p style="text-indent:12.15pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 59.85pt;">
<p style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><strong>B.</strong> <strong>ASUMSI TENTANG DATA</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">
<p style="text-indent:34.85pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 37.15pt;">Yang dimaksud dengan data adalah informasi yang diperoleh peneliti dalam bentuk catatan-catatan dalam tulisan tangan atau ketikan, rekaman interview atau kegiatan lainnya di tempat penelitian. Namun fokusnya adalah kata-kata sebagai bentuk dasar dari data yang ditemukan. Data kasar yang berupa catatan-catatan di lapangan maupun rekaman-rekaman dalam kaset harus diproses sebelum siap untuk dianalisa. Catatan- catatan di lapangan harus diubah atau langsung diketik atau ditulis kalau berupa rekaman suara, sehingga hasilnya lebih mudah dibaca bagi siapa saja, baik peneliti maupun orang lain, dapat diedit untuk keakuratan, diberi komentar, diberi kode, dan dianalisa dengan menggunakan metode-metode apa saja yang akan dijelaskan dalam makalah ini.</p>
<p style="text-indent:34.85pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 37.15pt;">Kemudian data ini disusun dari yang paling awal sampai dengan yang paling akhir sesuai urutan dalam pengumpulan data serta dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling kompleks. Dimulai dari lembaran rangkuman kontak (<em>contact summary sheet),</em> suatu cara yang sederhana untuk merangkum suatu data yang memiliki keterbatasan waktu, kemudian pengkodean tingkat pertama, tingkat kedua atau kode-kode pola (<em>pattern codes),</em> dan proses derivasi (turunan) tema-tema yang lebih umum yang disebut memo (<em>memoing).</em> Keempat metode inilah yang akan dibahas dalam makalah ini.</p>
<p style="text-indent:34.85pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 37.15pt;">Sedangkan setelah data terkumpul sampai tahap memo, pertemuan analisa kasus (<em>case analysis meeting),</em> rangkuman kasus interim (<em>interim case interim)</em> juga penting untuk difahami. Berikutnya adalah <em>vignette</em> yang menyajikan informasi yang berfokus dan memiliki keterbatasan waktu tentang satu atau beberapa episode. Lalu kasus pra-berstruktur (<em>pre-structured case)</em> merupakan suatu cara yang ekonomis untuk mengintegrasikan data suatu kasus. Terakhir adalah analisis berseri (<em>sequential analysis)</em> menjelaskan bagaimana metode-metode ini dapat berkaitan satu dengan yang lain menjadi suatu rangkaian (Miles dan Huberman, 1994: 51)</p>
<p style="text-indent:34.85pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 37.15pt;">
<p style="text-indent:34.85pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 37.15pt;">
<p style="text-indent:34.85pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 37.15pt;">
<p style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><strong>C.</strong> <strong>LEMBARAN RANGKUMAN KONTAK</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;">
<p style="text-indent:-36pt;text-align:justify;margin:0 0 0 90pt;"><strong>I.</strong> <strong>Masalah Analisa</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 54pt;">
<p style="text-indent:16.7pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.3pt;">Setelah suatu kontak lapangan (mulai selama satu hari atau beberapa hari) dan hasil pencatatan selesai dilakukan, seringkali muncul suatu kebutuhan untuk berhenti sejenak untuk merenungkan hal-hal berikut ini: Apa konsep utama, tema, masalah, dan pertanyaan yang saya telah amati selama kontak ini? Tanpa refleksi seperti ini kita mudah kehilangan detail-detail yang penting. Dan mengkomunikasikan hal-hal penting tentang kontak dengan seorang kolega sangat diperlukan untuk proyek apa pun dengan lebih dari satu peneliti lapangan.</p>
<p style="text-indent:16.7pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.3pt;">
<p style="text-indent:-36pt;text-align:justify;margin:0 0 0 90pt;"><strong>II.</strong> <strong>Penjelasan Singkat</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">
<p style="text-indent:13.95pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 94.05pt;">Suatu rangkuman kontak (<em>contact summary)</em> merupakan suatu lembaran dengan beberapa pertanyaan yang berfokus atau merangkum suatu kontak lapangan tertentu. Peneliti lapangan mereview hasil pencatatan dan menjawab setiap pertanyaan dengan singkat dan jelas untuk mengembangkan suatu rangkuman keseluruhan poin-poin utama dalam kontak tersebut.</p>
<p style="text-indent:13.95pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 94.05pt;">
<p style="text-indent:-36pt;text-align:justify;margin:0 0 0 90pt;"><strong>III.</strong> <strong>Ilustrasi</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 108pt;">
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 117pt;">1. Memutuskan masalah</p>
<p style="text-indent:27.2pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 116.8pt;">Hal yang penting di sini adalah kejelasan tentang apa yang harus diketahui dari suatu kontak lapangan. Rumusan masalah apa yang sesuai dengan esensi dari sekumpulan data. Berikut ini adalah beberapa contoh rumusan masalah tersebut:</p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 144pt;">Ø Siapa, <em>event</em> atau situasi apa yang dilibatkan?</p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 144pt;">Ø Tema dan masalah apa yang terdapat dalam kontak tersebut</p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 144pt;">Ø Rumusan masalah apa dan variabel-variabel apa di dalam suatu kerangka awal yang terdapat dalam kontak tersebut?</p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 144pt;">Ø Hipotesis, spekulasi, kata hati apa yang berkaitan dengan situasi lapangan yang disarankan oleh kontak?</p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 144pt;">Ø Di mana peneliti lapangan menempatkan energi terbanyaknya selama kontak berikutnya dan jenis informasi apa yang dicari?</p>
<p style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 117pt;">2. Membuat format</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 99pt;">
<p style="text-indent:30pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 114pt;">Pertanyaan-pertanyaan harus di susun dalam suatu lembaran kertas dengan menyediakan tempat kosong bagi jawaban-jawaban peneliti lapangan. Pengidentifikasi informasi tentang suatu kasus, kontak tertentu, dan tanggal harus diidentifikasi juga.</p>
<p style="text-indent:30pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 114pt;">
<p style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 117pt;">3. Memasukkan data</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 99pt;">
<p style="text-indent:30pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 114pt;">Lembar Rangkuman Kontak akan berfungsi dengan baik setelah diisi lengkap dan telah direview dan dikoreksi. Hal ini berarti juga mengandung pandangan umum hasil refleksi tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam kontak termasuk hasil refleksi dari diri kita sendiri dan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab selama kontak selanjutnya. Kalau kita menunggu sampai proses pengkodean selesai seluruhnya, kita akan membutuhkan waktu yang panjang dan barangkali sudah terlambat.</p>
<p style="text-indent:30pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 114pt;">Data pada lembar rangkuman kontak ini pada dasarnya berupa frase atau kalimat yang dianggap peneliti lapangan sebagai jawaban atas pertanyaan setelah pencatatan lapangan selesai direview. Membuat catatan-catatan selama pencatatan lapangan berlangsung akan sangat membantu kita dalam hal ini.</p>
<p style="text-indent:30pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 114pt;">
<p style="text-indent:30pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 114pt;">
<p style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 117pt;">4. Menggunakan hasil</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 99pt;">
<p style="text-indent:27.2pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 116.8pt;">Lembar yang telah terisi lengkap dapat dimanfaatkan untuk: (a) membantu perencanaan untuk kontak berikutnya, (b) memberi saran kode-kode baru, (c) koordinasi apabila melibatkan lebih dari satu peneliti lapangan, (d) reorientasi diri kita kepada kontak ketika kembali ke catatan lapangan, (e) membantu analisa data berikutnya. Semua ini lebih mudah jika format-format ini dimasukkan ke dalam suatu <em>database</em> komputer.</p>
<p style="text-indent:27.2pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 116.8pt;">
<p style="text-indent:-36pt;text-align:justify;margin:0 0 0 90pt;"><strong>IV.</strong> <strong>Variasi</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 54pt;">
<p style="text-indent:13.95pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 94.05pt;">Lembaran rangkuman kontak dapat digunakan dengan cara yang lebih sistematis dengan pemberian kode. Kode-kode baru juga dapat dipakai. Tidak disarankan untuk memasukkan &#8220;kesan-kesan pertama&#8221; ke dalam lembaran ini segera setelah kontak sebelum pencatatan, karena beresiko: (1) terlalu terkesan dengan kejadian-kejadian yang muncul, dan (2) menunda pencatatan dengan konsekuensi distorsi atau kehilangan memori. Yang disarankan adalah melakukan pencatatan sehari setelah kontak lapangan.</p>
<p style="text-indent:13.95pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 94.05pt;">
<p style="text-indent:-36pt;text-align:justify;margin:0 0 0 90pt;"><strong>V.</strong> <strong>Saran</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 54pt;">
<p style="text-indent:16.8pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.2pt;">Format rangkuman kontak merupakan suatu cara yang cepat dan praktis untuk melakukan reduksi data tahap awal tanpa kehilangan informasi dasar (catatan) karena mengandung kesan dan refleksi yang penuh pemikiran. Juga dapat bermanfaat untuk refleksi dan analisa berikutnya oleh peneliti lapangan itu sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, format ini dibuat sederhana dengan menfokuskan pada masalah, pertanyaan, dan konsep dasar. Disarankan untuk meminta orang lain untuk membaca catatan-catatannya lalu membuat format rangkumannya untuk menghindari <em>bias</em> atau subjektifitas. Disarankan juga untuk melampirkan salinan format rangkuman ini pada catatan-catatan lapangan agar rangkuman ini dekat dengan data yang dirangkumnya.</p>
<p style="text-indent:16.8pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.2pt;">
<p style="text-indent:-36pt;text-align:justify;margin:0 0 0 90pt;"><strong>VI.</strong> <strong>Waktu yang Diperlukan</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 54pt;">
<p style="text-indent:13.9pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 94.1pt;">Melengkapi format rangkuman ini memerlukan kegiatan membaca dan mereview catatan-catatan (umumnya 3 atau 4 menit setiap halaman lalu kira-kira satu jam untuk mengisi format tersebut. Apabila membutuhkan waktu yang lebih banyak dari itu, maka kemungkinan formatnya terlalu kompleks.</p>
<p style="text-indent:13.9pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 94.1pt;">
<p style="text-indent:13.9pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 94.1pt;">Berikut ini adalah contoh-contoh format/lembaran rangkuman kontak:</p>
<p style="text-indent:13.9pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 94.1pt;">Tabel 1: Format Rangkuman Kontak</p>
<table style="border-collapse:collapse;border:medium none;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:426.45pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="569" valign="top">
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">Tipe kontak: Tempat: _________</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">Kunjungan ___________ Tanggal kontak: _________</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">Telepon ___________ Tanggal hari ini: _________</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">(dengan siapa) Diisi oleh: _________</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">Apa isu/masalah atau tema utama yang Anda temukan dalam kontak ini?</li>
<li style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">Rangkumlah informasi yang Anda peroleh atau gagal Anda peroleh untuk masing-masing masalah yang telah Anda rumuskan untuk kontak ini?</li>
<li style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">Apakah ada hal-hal lain yang Anda anggap menarik, menonjol dan penting dalam kontak ini?</li>
<li style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">Pertanyaan/masalah baru (atau lama) apa yanag akan Anda cari dalam kontak berikutnya dengan tempat ini?</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-indent:13.9pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 94.1pt;">
<p style="text-indent:32.1pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 39.9pt;">Sedangkan tabel berikut ini menyajikan contoh format rangkuman kontak dengan pemberian kode-kode pada tema-temanya:</p>
<p style="text-indent:32.1pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 39.9pt;">
<p style="text-indent:32.1pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 39.9pt;">
<p style="text-indent:32.1pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 39.9pt;">
<p style="text-indent:32.1pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 39.9pt;">
<p style="text-indent:32.1pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 39.9pt;">Tabel 2: Format Rangkuman Kontak dengan Pemberian Kode</p>
<table style="border-collapse:collapse;border:medium none;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:426.45pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="569" valign="top">
<p style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;">
<p style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;">RANGKUMAN KONTAK</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;">Tipe kontak:</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;">Pertemuan. Para Kepsek Kantor B.Ken 4/2/06 Tempat: Surabaya</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;">siapa,kel.apa tempat tanggal Pemberi kode: MM</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;">Telepon. __________ __________ ______ Tgl.pengkodean: 4/18/06</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;">
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Pilihlah poin-poin yang paling menonjol dalam kontak. Berilah nomor secara berurutan dalam kertas dan tulislah nomor halaman poin tersebut berada. Berilah nomor poin dalam catatan. Tulislah tema atau aspek tiap-tiap poin dengan HURUF BESAR. Buatlah tema-tema baru apabila tidak terdapat dalam tema-tema yang telah ada dan beri tanda * pada tema yang baru itu. Jika memberi komentar, berilah tanda kurung di antara komentar tersebut.</em></p>
<p style="margin:0;">
<p style="margin:0;">HALAMAN POIN-POIN YG MENONJOL TEMA/ASPEK</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;">
<p style="line-height:150%;margin:0;">1 1. Pengambilan Keputusan Staf s.d 30 April STAFF</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;">1 2. Variasi kemauan guru berintegrasi dgn siswa khusus *RESIST</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;">(dikemukakan B. Ken, disetujui para guru)</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;">
<p style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;">……</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-indent:32.1pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 39.9pt;">
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">Di samping itu, ada format rangkuman dokumen untuk menunjukkan secara ringkas isi dokumen tersebut. Berikut ini adalah contoh formatnya:</p>
<p style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;">Tabel 3: Format Rangkuman Dokumen</p>
<table style="border-collapse:collapse;border:medium none;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:426.45pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="569" valign="top">
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;">FORMAT RANGKUMAN DOKUMEN</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;">Tempat: ______________</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;">Dokumen: ______________</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;">Tgl penerimaan/pengambilan: ______________</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;">
<p style="line-height:150%;margin:0;">FORMAT DOKUMEN</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;">Nama atau deskripsi dokument: _______________________________________</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;"><em>Event</em> atau kontak yang berkaitan dengan dokumen ini: _____________________</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;">Pentingnya dokumen ini: ____________________________________________</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;">Rangkuman singkat isi dokumen:</p>
<p style="line-height:150%;border:medium none;margin:0;padding:0;">
<p style="line-height:150%;border:medium none;margin:0;padding:0;">
<p style="line-height:150%;margin:0;">
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">Format ini dapat diberi pengkodean baik secara manual maupun dengan bantuan komputer (ibid: 51-55).</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><strong>D.</strong> <strong>KODE DAN PEMBERIAN KODE (<em>CODING)</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">
<p style="text-indent:16.8pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 37.05pt;">Pengkodean merupakan proses penguraian data, pengkonsepan, dan penyusunan kembali dengan cara baru. Hal ini merupakan proses utama penyusunan teori dari data (Strauss dan Robin, 2007: 51). Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengkodean data (Miles dan Huberman, 1994: 55-69):</p>
<p style="text-indent:-36pt;text-align:justify;margin:0 0 0 90pt;"><strong>I.</strong> <strong>Masalah Analisa</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 54pt;">
<p style="text-indent:19.65pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 88.35pt;">Setelah peneliti lapangan mulai mengkompilasi informasi-informasi yang diperlukan, muncullah masalah karena beragamnya sumber data dan format, misalnya observasi terstruktur/kasual, interview, arsip, catatan harian, dan sebagainya. Banyak data yang nampak menjanjikan dapat memberikan informasi sebanyak-banyaknya, namun ternyata hanya dapat memberikan sedikit informasi. Hal ini dapat menimbulkan masalah <em>overload.</em> Dan proses penyeleksian data kadang-kadang tidak menyelesaikan masalah ini. Waktu yang dibutuhkan untuk menyeleksi dan mengklasifikasi data yang beraneka ragam ini dapat menyamai waktu yang dibutuhkan peneliti untuk mengumpulkannya. Ada dua jenis masalah yang dilematis ini, yaitu <em>overload</em> data dan perujukan data (<em>data retrieval).</em></p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 117pt;">1. Masalah overload data</p>
<p style="text-indent:24.3pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 119.7pt;">Suatu masalah yang kronis dalam penelitian kualitatif adalah bahwa data penelitian itu berhubungan dengan kata-kata, bukan dengan angka-angka. Kata-kata lebih &#8220;gemuk&#8221; daripada angka dan kata-kata biasanya mengandung makna ganda (<em>ambiguous).</em> Hal inilah yang membuat analisa datanya menjadi lebih sulit. Sedangkan angka biasanya tidak bermakna ganda dan bisa diproses secara lebih ekonomis. Untuk mengatasi masalah ini, hendaknya kita menempatkan kata-kata selalu berssms-sama dengan angka.</p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 117pt;">2. Masalah perujukan data</p>
<p style="text-indent:21.45pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 122.55pt;">Dengan melimpahnya data yang kita peroleh, mungkin kita tidak akan mengetahui, yang mana yang paling penting dan sesuai dengan tujuan kita. Kita harus terus terbuka terhadap data yang mungkin bermanfaat dan tapi kita harus menghindari <em>overload.</em> Oleh karena itu, untuk mengatasinya, kita memerlukan adanya kecocokan antara pengurangan data dengan analisanya.</p>
<p style="text-indent:21.45pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 122.55pt;">
<p style="text-indent:-36pt;text-align:justify;margin:0 0 0 90pt;"><strong>II.</strong> <strong>Penjelasan Singkat</strong></p>
<p style="text-indent:16.75pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.3pt;">
<p style="text-indent:16.75pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.3pt;">Pengkodean merupakan analisa. Untuk mereview sekumpulan data lalu dilakukan pencatatan dan penggabungan lalu pemecahan dengan selalu menjaga hubungan antara bagian-bagiannya, dan itulah analisanya. Analisa ini melibatkan bagaimana cara kita membeda-bedakan dan mengkombinasikan data yang telah kita rujuk termasuk refleksi yang kita buat berdasarkan informasi tersebut.</p>
<p style="text-indent:16.75pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.3pt;">Kode biasanya bervariasi ukurannya, bisa berupa kata-kata, frase, atau kalimat yang berhubungan dengan suatu <em>setting</em> tertentu. Kita dapat memakai nama/label kategori yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Yang lebih penting bukan kata-katanya melainkan maknanya.</p>
<p style="text-indent:16.75pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.3pt;">Kode-kode tersebut digunakan untuk perujukan dan pengorganisasian kategori-kategori yang telah ditetapkan sebelumnya sehingga peneliti dengan cepat dapat mememukan dan mengelompokkan segmen-segmen tersebut dan menghubungkannya dengan masalah penelitian, hipotesa, atau tema. Pengelompokan ini akan bermanfaat pada saat penarikan kesimpulan.</p>
<p style="text-indent:16.75pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.3pt;">
<p style="text-indent:-36pt;text-align:justify;margin:0 0 0 90pt;"><strong>III.</strong> <strong>Ilustrasi</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 108pt;">
<p style="text-indent:16.8pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.2pt;">Cara pengkodean adalah sebagai berikut: misalnya dalam suatu penelitian tentang perbaikan sekolah sehingga suatu metode pembelajaran yang baru dapat diadopsi untuk sekolah tersebut. Barangkali kita memulai penelitian tersebut dengan bertanya kepada informan kita mengapa mereka memutuskan untuk mencoba menggunakan metode teersebut. Catatan lapangan yang diperoleh mungkin seperti ini:</p>
<p style="text-indent:16.8pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.2pt;">
<p style="text-indent:16.75pt;text-align:justify;margin:0 0 0 91.3pt;"><em>Saya menanyakan kepadanya apa kebutuhan dari program baru tersebut dan dia mengatakan bahwa siswa yang memasuki kelas 9 berarti dua tahun di bawah tingkat satuan pendidikan dan bahwa kurikulum yang lama tidak efektif untuk mereka. Melalui &#8216;Nelson Reading Test&#8217; terlihat bahwa siswa tumbuh secara akademis hanya 5 atau 6 bulan dalam 10 bulan dari tahun akademik</em></p>
<p style="text-indent:16.75pt;text-align:justify;margin:0 0 0 91.3pt;">
<p style="text-indent:16.75pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.3pt;">Dari catatan ini kita dapat memberi suatu notasi yang dapat merangkumnya yaitu &#8220;MOT&#8221; yang berarti &#8220;motivasi&#8217; (atau bisa kode yang lain). Kode ini kita letakkan pada margin sebelah kiri karena margin sebelah kanan akan digunakan untuk komentar. Jika kita ingin lebih banyak diferensiasi, kita dapat membedakannya lagi menjadi &#8220;motivasi guru&#8221; dan &#8220;motivasi administrator&#8221;. Misalnya, untuk yang kedua ini kita beri label &#8220;ADM-MOT&#8221;. Atau kalau kita ingin lebih khusus lagi karena kita kan menghubungkannya dengan periode atau fase di mana motivasi tersebut akan muncul, yaitu fase adopsi, maka kita dapat memberi nama &#8220;AD/MOT&#8221; atau jika kita ingin memasukkan semuanya, kita dapat memberi nama lebih lengkap yaitu &#8220;AD/ADM-MOT&#8221;</p>
<p style="text-indent:16.75pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.3pt;">Kode-kode tersebut merupakan kode <em>deskriptif (descriptive codes)</em> yang mengandung sedikit sekali interpretasi. Untuk membuatnya lenih interpretatif, kita bisa mengacu pada motif-motif yang muncul, bisa dari masyrakat setempat atau dari sekolah itu sendiri untuk promosi. Dengan demikian, kita peroleh &#8220;PUB-MOT&#8221; dan &#8220;PRIV-MOT&#8221;.</p>
<p style="text-indent:16.75pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.3pt;">Kode-kode tingkat berikutnya adalah kode pola (<em>pattern codes).</em> Kode ini lebih informative daripada jenis kode-kode lainnya. Misalnya, catatan lapangan yang telah diberi kode menunjukkan suatu <em>leitmotif</em> ataupola yang nampak dalam hubungan-hubungan. Kode-kodenya adalah sebagai berikut: &#8220;LM&#8221; (leitmotif), &#8220;PATT&#8221; (pola), &#8220;TH&#8221; (tema), dan &#8220;CL&#8221; (hubungan sebab-akibat) dan sebaiknya memasukkan suatu kata untuk menunjukkan tema atau pola yang ditarik, misalnya &#8220;PATT-TEAMS&#8221;. Kode-kode ini dapat juga diaplikasikan pada pengkodean sebelumnya.</p>
<p style="text-indent:16.75pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.3pt;">Semua kode-kode ini dimasukkan ke dalam suatu daftar awal (<em>start list)</em> yang dapat memuat paling banyak 60 kode. Daftar ini biasanya terdiri dari tiga kolom. Kolom yang pertama memuat label/kode deskriptif untuk kategori umum dengan kodenya masing-masing. Kolom kedua adalah kode-kode lebih lanjut, dan kolom ketiga adalah kode-kode yang merupakan dasar bagi jawaban atas rumusan masalah penelitian. Biasanya daftar ini disertai dengan suatu daftar definisi dari kode-kode yang ada. Berikut ini adalah contoh-contohnya berdasarkan penelitian tentang inovasi pembelajaran di atas:</p>
<p style="text-indent:16.75pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.3pt;">
<p style="text-indent:16.75pt;line-height:150%;text-align:center;margin:0 0 0 91.3pt;">Tabel 4: Daftar Awal Kode-kode</p>
<table style="border-collapse:collapse;border:medium none;margin:auto auto auto 48.15pt;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:378.3pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="504" valign="top">
<p style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;">DAFTAR AWAL KODE-KODE</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;">PROPERTI INOVASI PI-TUJU 3.1</p>
<p style="margin:0;">PI: TUJUAN PI-TJ 3.1.1</p>
<p style="margin:0;">PI ORGANISASI PI-ORG/DD.LS 3.1.4</p>
<p style="margin:0;">…</p>
<p style="margin:0;">
<p style="line-height:150%;margin:0;">PROSES ADOPSI PA 3.2, 3.3</p>
<p style="margin:0;">PA: KRONOLOGI EVENT PA-KRON/PUB 3.2.4</p>
<p style="margin:0;">PA: MOTIF PA-MOT 3.2.6</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;">&#8230;</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-indent:16.75pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.3pt;">
<p style="text-indent:16.75pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.3pt;">
<p style="text-indent:16.75pt;line-height:150%;text-align:center;margin:0 0 0 91.3pt;">
<p style="text-indent:16.75pt;line-height:150%;text-align:center;margin:0 0 0 91.3pt;">
<p style="text-indent:16.75pt;line-height:150%;text-align:center;margin:0 0 0 91.3pt;">Tabel 5: Daftar Definisi Kode-kode</p>
<table style="border-collapse:collapse;border:medium none;margin:auto auto auto 48.15pt;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:378.3pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="504" valign="top">
<p style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;">DEFINISI KODE-KODE DARI TABEL 4</p>
<p style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;">
<p style="line-height:150%;margin:0;">Dinamika dan Transformasi- DT</p>
<p style="margin:0;">Kronologi event: kronologi event selama pelaksanaan oleh siswa,</p>
<p style="margin:0;">DT-KRON/PUB administrator dan responden lainnya</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;">
<p style="line-height:150%;margin:0;">…</p>
<p style="line-height:150%;margin:0;">
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p style="text-indent:-36pt;text-align:justify;margin:0 0 0 90pt;"><strong>IV.</strong> <strong>Saran</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 54pt;">
<p style="text-indent:19.55pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 88.45pt;">Kode merupakan pelabelan data yang efisien dan dapat melancarkan proses analisa data selanjutnya. Agar benar-benar dapat dimanfaatkan, berilah kode sesuai dengan makna semantiknya. Dan jangan menggunakan angka-angka sebagai kode. Berikan definisi kode-kode tersebut secara operasional dan dapat digunakan oleh analist lainnya, terutama jika penelitiannya melibatkan lebih dari satu peneliti. Jangan menunda proses pengkodean sampai berakhirnya proses pengumpulan data karena penelitian kualitatif ini sangat bergantung pada analisis yang sedang berjalan. Pengkodean merupaka alat yang berguna untuk mendukung proses analisis tersebut.</p>
<p style="text-indent:19.55pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 88.45pt;">
<p style="text-indent:-36pt;text-align:justify;margin:0 0 0 90pt;"><strong>V.</strong> <strong>Waktu yang Diperlukan</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;">
<p style="text-indent:19.65pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 88.35pt;">Waktu yang dibutuhkan untuk pemberian kode-kode awal dan definisinya tergantung pada berapa jumlah kategori awalnya dan klarifikasi dari kerangka konseptual dan rumusan masalah penelitian. Untuk membuat suatu daftar awal dan definisinya kira-kira membutuhkan dua hari, kira-kira 1 hari untuk pengkodean dan satu hari untuk definisi. Untuk revisi dan kelengkapan lainnya kira-kira membutuhkan waktu dua hari.</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><strong>E.</strong> <strong>MEMO</strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p style="text-indent:-36pt;text-align:justify;margin:0 0 0 90pt;"><strong>I.</strong> <strong>Penjelasan Singkat</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 54pt;">
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 108pt;">Memo (<em>Memoing)</em> adalah catatan tentang analisis yang berhubungan dengan perumusan teori. Memo ini bisa terdiri dari catatan kode, catatan teoretik, dan pencatatan operasional. Memo ini dapat disertai dengan penyajian hubungan antarkonsep secara visual atau diagram. Pembuatan memo dan diagram ini merupakan langkah analisis yang penting (Strauss dan Corbin, 2007: 223-225).</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 108pt;">Berikut ini dalah hal-hal yang perlu kita pertimbangkan jika kita menggunakan memo ini (Miles dan Huberman, 1994: (72- 76):</p>
<p style="text-indent:-36pt;text-align:justify;margin:0 0 0 90pt;"><strong>II.</strong> <strong>Ilustrasi</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 54pt;">
<p style="text-indent:16.8pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.2pt;">Berdasarkan penjelasan singkat di atas, memo merupakan perumusan teori berdasarkan hasil pencatatan lapangan tentang kode-kode dan hubungannya yang ditemukan analist ketika proses pengkodean berlangsung. Memo dapat berupa suatu kalimat, paragraf, atau beberapa halaman. Berikut ini adalah beberapa contoh memo yang berhubungan dengan penelitian tentang inovasi pembelajaran di atas:</p>
<p style="text-indent:16.8pt;line-height:150%;margin:0 0 0 91.2pt;">Tabel 5: Contoh Memo 1</p>
<table style="border-collapse:collapse;border:medium none;margin:auto auto auto 62.4pt;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:364.05pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="485" valign="top">
<p style="text-align:center;margin:0;">MEMO: PROSES-PROSES PERBANDINGAN (19 MARET)</p>
<p style="text-align:center;margin:0;">
<p style="text-align:justify;margin:0;">Mengenalkan program baru akan selalu melahirkan suatu proses perbandingan, khususnya perbandingan alternatif-alternatif (lihat kasus-kasus TR-KRON atau TR-ORG)</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-indent:16.75pt;text-align:justify;margin:0 0 0 91.3pt;">
<p style="text-indent:16.75pt;text-align:justify;margin:0 0 0 91.3pt;">Tabel 6: Contoh Memo 2</p>
<table style="border-collapse:collapse;border:medium none;margin:auto auto auto 62.4pt;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:364.05pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="485" valign="top">
<p style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;">MEMO: POLA KARIR (22 FEBRUARI)</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">Pada umumnya, orang-orang akan melakukan inovasi-inovasi ketika mereka berada dalam masa transisi. Ke arah mana mereka?</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Ke atas:</em> dari kelas ke peranan pengawas atau administrasi yang lebih tinggi. Inovasi akan berjalan lebih cepat daripada menunggu orang lain kembali setelah menempuh gelar.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Menjauh</em>: dari mengajar ke pekerjaan lain yang lebih fleksibel. Memungkinkan adanya permutasi ke atas atau menjauh…</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p style="text-indent:16.8pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.2pt;">Memo berfungsi untuk menjelaskan atau menjabarkan suatu ide, dan menghubungkannya dengan suatu informasi dalam kasus tersebut, serta memilah ide itu dari kode-kode yang ada. Dengan demikian, memo tidak sekedar melaporkan data, namun juga menghubungkan berbagai macam data menjadi suatu konsep umum.</p>
<p style="text-indent:16.8pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.2pt;">Setiap memo dan diagram harus dibubuhi tanggal penulisan dan referensi mengenai dokumen asal. Pada referensi tersebut harus ada nomor kode wawancara, nomor kode observasi, nomor kode dokumen, tanggal pada saat data tersebut dikumpulkan, halaman serta cara identifikasi lainnya yang mungkin bermanfaat untuk mendapatka kembali data tersebut di kemudian hari. Setiap memo dan diagram harus juga memiliki judul yang menyuratkan konsep atau kategori yang akan dijelaskan.</p>
<p style="text-indent:16.8pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.2pt;">
<p style="text-indent:-36pt;text-align:justify;margin:0 0 0 90pt;"><strong>III.</strong> <strong>Variasi</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 108pt;">
<p style="text-indent:13.95pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 94.05pt;">Memo dapat juga ditulis untuk hal-hal yang masih menjadi teka-teki dan yang mengejutkan bagi kasus yang sedang diteliti, dan dapat pula berfungsi sebagai suatu hipotesis alternatif sebagai respons memo dari orang lain ketika analist tidak memiliki suatu konsep yang jelas dan masih berupaya untuk menjelaskannya. Berbagai macam jenis memo dapat digunakan dalam berbagai tahapan penelitian. Memo-memo tersebut dapat berupa pola lintas kasus, ide-ide cemerlang, implikasi kebijakan, dan ide-ide untuk proses sintesis selanjutnya.</p>
<p style="text-indent:13.95pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 94.05pt;">
<p style="text-indent:-36pt;text-align:justify;margin:0 0 0 90pt;"><strong>IV.</strong> <strong>Saran</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 54pt;">
<p style="text-indent:16.8pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.2pt;">Hal-hal yang disarankan untuk penggunaan memo ini adalah kita seyogyanya memberikan prioritas kepada pembuatan memo ini ketika ide muncul. Proses pembuatan memo ini sebaiknya dimulai begitu data lapangan pertama kita peroleh dan proses ini berlanjut sampai proses akhir penelitian. Bentuk dan jenis memo tidak ada yang standard. Kita bisa menciptakan bentuk memo secara kreatif yang sesuai dengan kebutuhan kita.</p>
<p style="text-indent:16.8pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 91.2pt;">
<p style="text-indent:-36pt;text-align:justify;margin:0 0 0 90pt;"><strong>V.</strong> <strong>Waktu yang Diperlukan</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;">
<p style="text-indent:13.95pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 94.05pt;">Penulisan memo ini memerlukan waktu yang tidak lama, tidak lebih dari setengah jam untuk tiap memo yang kita tulis. Selanjutnya memo dapat dijelaskan secara lebih gamblang lagi. Memo merupakan cara yang cepat untuk menangkap pemikiran-pemikiran yang muncul apada saat pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, pengujian kesimpulan, dan pelaporan akhir penelitian.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;">
<p style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><strong>F.</strong> <strong>KESIMPULAN DAN PENUTUP</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">
<p style="text-indent:32.05pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 39.95pt;">Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pada tahap awal pengumpulan data, catatan-catatan (<em>field notes)</em> sebaiknya komplit, tepat, detail, sitematik dan analitik yang harus disusun setelah observasi maupun setelah mengadakan hubungan dengan subjek yang diteliti termasuk pertemuan di luar tempat. Meskipun pengambilan catatan yang intensif terjadi ketika di lapangan, namun peneliti seyogyanya menyusun catatan-catatannya sebelum terjun ke lapangan dan membuat analisis formal setelah kontak dengan subjek (Bodgan dan Taylor, 1993: 106). Hal ini memerlukan kemampuan untuk melakukan observasi (atau wawancara) dan analisa serta kerja keras. Seorang peneliti harus mencurahkan sejumlah waktu dan energi agar pengumpulan data dan pendokumentasiannya dapat secara cermat dan tepat terpenuhi.</p>
<p style="text-indent:32.05pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 39.95pt;">Proses awal dari pengumpulan data ini meliputi pengisian format rangkuman kontak, pengkodean, dan pembuatan memo. Semua ini merupakan langkah analisis yang penting untuk tahapan penelitian selanjutnya.</p>
<p style="text-indent:32.05pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 39.95pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">
<p style="text-align:center;margin:0 0 0 18pt;"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p style="text-align:center;margin:0 0 0 18pt;">
<p style="text-indent:-47.55pt;text-align:justify;margin:0 0 0 65.55pt;">
<p style="text-indent:-47.55pt;text-align:justify;margin:0 0 0 65.55pt;">Arifin, Zaenal. 2008. <em>Metodologi Penelitian Pendidikan: Filosofi, Teori &amp; Aplikasinya.</em> Surabaya: Lentera Cendekia.</p>
<p style="text-indent:-47.55pt;text-align:justify;margin:0 0 0 65.55pt;">
<p style="text-indent:-47.55pt;text-align:justify;margin:0 0 0 65.55pt;">Bodgar, Robert dan Taylor, Steven J. 1993. <em>Kualitatif (Dasar-Dasar Penelitian)</em> Terjemahan oleh A. Khozin Afandi. Surabaya: Usaha Nasional</p>
<p style="text-indent:-47.55pt;text-align:justify;margin:0 0 0 65.55pt;">
<p style="text-indent:-47.55pt;text-align:justify;margin:0 0 0 65.55pt;">Bungin, Burhan. 2006. <em>Metodologi Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodologis ke Arah Ragam Varian Kontemporer.</em> Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.</p>
<p style="text-indent:-47.55pt;text-align:justify;margin:0 0 0 65.55pt;">
<p style="text-indent:-47.55pt;text-align:justify;margin:0 0 0 65.55pt;">Miles, Matthew B. dan Huberman, A. Michael. 1994. <em>Qualitative Data Analysis: Second Edition.</em> Thousand Oaks: SAGE Publication</p>
<p style="text-indent:-47.55pt;text-align:justify;margin:0 0 0 65.55pt;">
<p style="text-indent:-47.55pt;text-align:justify;margin:0 0 0 65.55pt;">Moleong, Lexi J. 1988. <em>Metodologi Penelitian Kualitatif.</em> Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan, Tenaga Kependidikan.</p>
<p style="text-indent:-47.55pt;text-align:justify;margin:0 0 0 65.55pt;">
<p style="text-indent:-47.55pt;text-align:justify;margin:0 0 0 65.55pt;">Strauss, Anselm dan Corbin, Juliet. 2007. <em>Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif: Tatalangkah dan Teknik-teknik Teoritisasi Data.</em> (Penerjemah: Muhammmad Shodiq dan Imam Muttaqien). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.</p>
<p style="text-align:center;margin:0;">
<p style="text-align:center;margin:0;">
<p style="text-align:center;margin:0;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dyahrochmawati08.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dyahrochmawati08.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dyahrochmawati08.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dyahrochmawati08.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dyahrochmawati08.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dyahrochmawati08.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dyahrochmawati08.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dyahrochmawati08.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dyahrochmawati08.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dyahrochmawati08.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dyahrochmawati08.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dyahrochmawati08.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dyahrochmawati08.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dyahrochmawati08.wordpress.com/194/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahrochmawati08.wordpress.com&amp;blog=5650448&amp;post=194&amp;subd=dyahrochmawati08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/11/10/tahapan-awal-analisa-data-dalam-penelitian-kualitatif-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ee1d0c49ecd63275bd9efb1ebb8fabc?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">dyahrochmawati08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Balada Ayam Goreng II</title>
		<link>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/09/14/balada-ayam-goreng-ii/</link>
		<comments>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/09/14/balada-ayam-goreng-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 01:33:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyah rochmawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Masih Yang Terbaik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/09/14/balada-ayam-goreng-ii/</guid>
		<description><![CDATA[Masih Yang Terbaik (Balada Ayam Goreng Bag.2) By Dyra Hadi La Cafe di ujung Bournemouth Shopping Centre masih nampak seperti dulu ketika dia terakhir mengunjunginya tiga belas tahun lalu. Cat dinding dan kordennya masih putih. Rupanya inilah salah satu ciri khas kafe itu. Ketika matahari bersinar cerah saat musim panas, kafe itu tampak cerah, kontras [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahrochmawati08.wordpress.com&amp;blog=5650448&amp;post=189&amp;subd=dyahrochmawati08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;margin:0 0 0 18pt;"><strong>Masih Yang Terbaik</strong></p>
<p style="text-align:center;margin:0 0 0 18pt;"><strong>(Balada Ayam Goreng Bag.2)</strong></p>
<p style="text-align:center;margin:0 0 0 18pt;">By Dyra Hadi</p>
<p style="text-align:center;margin:0 0 0 18pt;">
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><em>La Cafe</em> di ujung <em>Bournemouth Shopping Centre</em> masih nampak seperti dulu ketika dia terakhir mengunjunginya tiga belas tahun lalu. Cat dinding dan kordennya masih putih. Rupanya inilah salah satu ciri khas kafe itu. Ketika matahari bersinar cerah saat musim panas, kafe itu tampak cerah, kontras dengan langit biru yang sangat biru dan tanpa awan.<span id="more-189"></span> Kafe itu pasti akan terlihat sedikit menjulang menyerupai seonggok awan. Siapa saja yang melewati pusat perbelanjaan itu pasti dengan mudah akan mengenalinya.</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">Dan itulah yang kini dia rasakan. Meski masih beberapa puluh meter lagi dia harus berjalan, kafe itu nampak sangat menonjol. &#8220;Ah, aku lupa bawa payung atau jas hujan!&#8221; keluhnya. Kebiasaan buruk ini masih saja dia lakukan karena dia pikir cuaca saat ini cerah sekali untuk ukuran musim panas di sana. Dia lalu ingat kata-kata <em>hostmother-</em>nya,&#8221;Namun jangan tertipu dengan cerahnya cuaca seperti itu, bisa saja tiba-tiba mendung dan diikuti hujan beberapa saat!&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">Tak heran jika orang-orang Inggris sangat gemar membicarakan tentang cuaca yang gampang berubah di negara mereka ini sebagai topik awal pembicaraan. Dan juga itulah sebabnya program acara ramalan cuaca, baik di media cetak maupun elektronik, selalu diikuti mereka dengan antusias terlebih jika mereka akan keluar rumah.</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">Perempuan itu ingat ketika untuk pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di Heathrow Int&#8217;l Airport dia menggigil kedinginan, siapa sangka suhu di musim panas itu bisa mencapai 11°C pada bulan Juli itu. Dia hanya mengenakan <em>t-shirt</em> katun dan jeans kesayangannya yang ditutupi dengan <em>sweater</em> tipis. Dia mengira bahwa suhu musim panas di Inggris kurang lebih sama dengan suhu di musim kemarau di negara asalnya yang tropis itu. Lalu dia bergegas mencari taksi. Di berharap <em>heater</em> di dalam taksinya bekerja dengan baik sehingga bisa sedikit menghangatkan dirinya&#8230;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">Lamunannya berhenti saat kakinya menginjakkan taman yang letaknya di tengah-tengah pusat perbelanjaan yang sekelilingnya terdapat bangku-bangku kayu. Burung-burung merpati sering hinggap di sana. Para lansia senang memberi makan mereka sambil berjemur ketika cuaca cerah. Perempuan itu berhenti sejenak melihat pemandangan itu. Dia lalu membayangkan apakah ketika dia lanjut usia, dia bisa seperti itu.</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">Salah satu lansia itu lalu melambaikan tangannya mengajak perempuan itu bergabung dengan mereka. Perempuan itu melihat sekilas arloji di pergelangan tangan kirinya. Waktu menunjukkan 9:20. Hal ini berarti tak ada waktu baginya utuk ikut mereka memberi makan burung-burung itu karena 10 menit lagi dia harus menemui seseorang di kafe itu. Lalu dia menggelengkan kepalanya dan melambaikan tangan tanda perpisahan sambil mengumbar senyum sebagai ucapan terima kasih atas tawaran yang diberikan.</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">Perempuan itu lalu mempercepat langkahnya untuk sampai ke kafe itu. Tak banyak pengunjung ternyata. Dia melihat-lihat apakah sosok bayangan yang dicarinya sudah ada. Hatinya mulai berdebar-debar. Getaran-getaran yang dulu itu ternyata masih dia rasakan. Bayangan yang dicarinya sudah duduk di sana. Dia menarik nafas panjang, orang itu sedang menunggunya sambil membaca koran. Perempuan itu lalu cepat-cepat menghampiri lelaki yang sudah sepuluh tahun tidak ditemuinya semenjak peristiwa di taman di depan restoran ayam goreng itu.</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Assalamu &#8216;alaikum&#8221; sapa perempuan itu pelan dan terdengar sedikit gugup.</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Wa&#8217;alaikum salam. &#8221; jawab lelaki itu lalu melipat korannya setelah tahu siapa yang menegurnya. Dengan isyarat tangannya, lelaki itu menyilahkan perempuan itu duduk, &#8220;Mau pesan apa?&#8221;.</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;<em>Coffee latte</em> dan <em>Fish and Chips&#8221;</em> kata perempuan itu sambi melirik cangkir yang ada di hadapannya yang isinya tinggal setengahnya. Rupanya lelaki itu telah lama menunggunya. Ada laptop kecil di samping cangkir itu sedang menyala.</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">Lelaki itu lalu memanggil pelayan kafe itu dan memesan apa yang telah di pesan perempuan itu. Setelah itu me-<em>shut down</em> laptop-nya dan menutupnya lalu berkata, &#8220;Kita bicara.&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">Rupanya laki-laki itu tidak ingin berbasa-basi. Budaya Barat yang tidak suka basa-basi ini telah mempengaruhinya. Disamping itu, apa yang pernah mereka obrolkan di <em>Facebook</em> sepertinya sirna. Mereka nampak &#8220;akrab&#8221; di dalam jejaring sosial itu, tapi seperti dua orang asing yang baru saja bertemu. Perempuan itu semakin <em>nervous.</em> Rasanya ia ingin lari dari lelaki itu seperti yang dilakukannya dulu ketika dia menyadari bahwa dia hanya kekasih gelap laki-laki itu, seperti yang diucapkan laki-laki itu kepada pemilik restoran ayam goreng ketika wartawan dipanggil untuk mempublikasikan kejujurannya mengembalikan uang sepuluh juta yang secara tidak sengaja dimasukkan ke dalam bungkusan ayam goreng yang dipesannya. Dan perempuan itu lalu menyadari betapa laki-laki itu tidak pantas ada di dalam kehidupannya. Lelaki itu juga hanyalah kekasih gelapnya.</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">Niat itu diurungkannya. Perempuan itu mencoba menikmati debaran-debaran itu. Bukankah debaran-debaran itu yang dia rasakan ketika mereka bertemu di dalam jejaring sosial itu, bahkan setelahnya dia masih merasakannya. Perempuan itu menunggu lelaki itu berkata-kata lagi karena dia tidak tahu apa yang mesti dikatakannya.</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">Pertemuan ini juga sebenarnya tanpa rencana. Sebagai seorang konselor di British Council, Jakarta, dia mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Inggris untuk ketiga kalinya. Kebetulan ada waktu untuk berwisata ke rumah salah seorang sastrawan besar Inggris, Thomas Hardy, di Dorset, tak jauh dari Bournemouth. Kebetulan lelaki itu akan mengunjungi kakaknya di Wimborne, tak jauh dari situ. Dia memang sudah satu tahun kuliah S3 di University of Manchester, mendapat beasiswa dari The British Chievening Awards. Dipilihnya Bournemouth karena dekat Pool yang memiliki pantai yang indah dan menenangkan dengan angsa-angsa yang berenang-renang di sana. Pantai adalah tempat favorit mereka berdua. Lewat <em>Facebook</em> juga mereka akhirnya berjanji untuk bertemu.</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">Diteguknya kopi yang masih panas. Lumayan untuk mengusir dingin yang menusuk-nusuk. Perempuan itu akhirnya bersuara, &#8220;Apa yang mau dibicarakan?&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Tentang kita&#8221; jawab laki-laki itu.</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Semua sudah berakhir, tak ada yang tersisa. Maafkan aku, aku harus meninggalkanmu begitu saja. Aku sadar, itu yang terbaik.&#8221; kata perempuan itu dengan lugas.</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Aku tahu. Mungkinkah kita bisa bersama kembali?&#8221; harap laki-laki itu.</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Tidak, tak mungkin!&#8221; bantah perempuan itu.</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Mengapa? Kamu kembali ke suamimu?&#8221; balas laki-laki itu.</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Ya. Demi yang terbaik untuk anakku.&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Meski itu status palsu!&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Aku berusaha untuk tidak menjadikannya begitu.&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Salut buat kamu.&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Kamu sendiri gimana?&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Kami bercerai. Setelah kamu pergi, aku baru tahu kalau istriku telah hamil. Aku berusaha melekatkan kembali pernikahan kami yang retak sampai dia melahirkan anak perempuan kami. Kami berpikir dengan hadirnya anak yang telah kami tunggu selama bertahun-tahun itu dapat menyatukan kami kembali. Ternyata tidak demikian.&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Di mana mereka sekarang?&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Tetap tinggal di Jakarta bersama mertuaku. Setelah kami bercerai, hak asuh anakku jatuh ke ibunya. Sesekali aku mengunjunginya. Hubungan kami baik-baik saja.&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Mengapa itu tidak kamu pertahankan?&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Aku tidak seperti kamu. Aku memang bisa membohongi istriku dengan berpura-pura mencintainya, tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Itu hal tersulit bagiku. Aku tidak suka kemunafikan.&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Berusaha mencintai itu bukan suatu kemunafikan, meski kita tidak tahu sampai kapan. Dan aku tidak mungkin mengulang perceraian yang dialami orang tuaku kepada anakku. Aku tahu bagaimana rasanya tumbuh dalam keluarga yang <em>broken home.</em> Mempertahankannya apa pun resikonya adalah masih yang terbaik.&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Bagiku, ketidaksempurnaan atau ketidakutuhan itu adalah bagian kehidupan yang kita jalani. Aku harap suatu hari anakku tahu itu. Kehidupan tidak harus selalu yang sempurna dan utuh. &#8220;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Dalam hal ini memang kita tidak pernah sepaham.&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;OK, kalau begitu. Semua sudah jelas sekarang. Terima kasih kamu masih mau menemuiku. &#8220;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Maafkan aku.&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Tak ada yang perlu dimaafkan. Aku sangat memahaminya. Maafkan aku yang telah berharap akan kebersamaan kita lagi.&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Berharap itu bukan suatu kesalahan. Meski kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan.&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Kamu mau pesan kopi lagi atau tambah <em>snack</em>-nya.&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;<em>Thanks, but no thanks.</em> Maaf aku harus pergi. Aku ada janji makan siang dengan seseorang di <em>Burger King</em>. &#8220;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8221; Jadi kita tidak ke Pool sekarang?&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Mungkin lain waktu.&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Aku di sini aja kalau begitu. Kapan kembali ke Jakarta?&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Besok lusa. &#8220;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;Kalau sampai di rumah, salam buat suamimu ya.&#8221;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">&#8220;OK. <em>Good luck!&#8221;</em></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">Perempuan itu lalu bergegas meninggalkan kafe putih itu. Langkahnya terasa ringan sekarang. Beban masa lalu kini sirna sudah. Kini dia lepas dari belenggu yang selama ini menggayutinya. Dipercepatnya langkahnya ke halte bus yang jaraknya seratus meter lagi. Dilihatnya arlojinya, sudah hampir jam 11. Dia harus sampai di halte itu 10 menit lagi karena <em>shuttle bus</em> bernomor 34 yang akan membawanya ke restoran cepat saji yang salah satu menunya adalah ayam goreng dengan saus <em>barbeque</em> kesukaanya. Lelaki yang baru saja ditemuinya itu tidak tahu kalau dia akan menemui teman lamanya yang pernah menjalin kisah romantis di masa SMA-nya. Mereka bertemu lewat <em>Facebook</em> juga dan lagi-lagi secara kebetulan laki-laki itu juga mengunjungi Inggris untuk mengikuti <em>Summer Course</em> di Oxford bahkan mereka akan pulang ke Indonesia dengan <em>flight</em> yang sama meski <em>seat</em> -nya berbeda&#8230;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">Sementara itu, laki-laki itu masih duduk di kafe itu. Dia juga menunggu seorang wanita yang telah menjadi teman dekatnya selama dia kuliah di sana. Wanita itu berkebangsaan Malaysia. Setahun lalu, ketika lelaki itu berangkat ke sana, dia bertemu dengan wanita itu. Mereka duduk bersebelahan setelah pesawatnya transit di Kuala Lumpur dan melanjutkan penerbangannya ke London. Perkenalan itu lalu berajut menjadi sebuah hubungan yang sangat akrab. Meski mereka kuliah di <em>college</em> yang berbeda dan di kota yang berbeda pula, tiap hari mereka bertemu via <em>Facebook.</em> Sambil menanti wanita itu, dikeluarkannya MP3 playernya lalu didengarkannya melalui <em>ear-phone</em> di kedua telinganya, lagu <em>Jatuh Cinta Lagi-</em>nya <em>Matta&#8230;</em></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:center;margin:0 0 0 18pt;"><strong><em>(To be continued)</em></strong></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dyahrochmawati08.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dyahrochmawati08.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dyahrochmawati08.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dyahrochmawati08.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dyahrochmawati08.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dyahrochmawati08.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dyahrochmawati08.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dyahrochmawati08.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dyahrochmawati08.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dyahrochmawati08.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dyahrochmawati08.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dyahrochmawati08.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dyahrochmawati08.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dyahrochmawati08.wordpress.com/189/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahrochmawati08.wordpress.com&amp;blog=5650448&amp;post=189&amp;subd=dyahrochmawati08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/09/14/balada-ayam-goreng-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ee1d0c49ecd63275bd9efb1ebb8fabc?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">dyahrochmawati08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Balada Ayam Goreng I</title>
		<link>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/09/14/balada-ayam-goreng-i/</link>
		<comments>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/09/14/balada-ayam-goreng-i/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 01:26:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyah rochmawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[ayam]]></category>
		<category><![CDATA[ayam goreng]]></category>
		<category><![CDATA[balada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/09/14/balada-ayam-goreng-i/</guid>
		<description><![CDATA[Yang Benar, Yang Terbaik (Balada Ayam Goreng) by Dyra Hadi (Lanjutan &#8220;Baik Belum Tentu Benar&#8221; by Indra Perdana, a great FB friend &#38; classmate) Lelaki itu lalu bergegas ke taman menemui perempuan itu dengan membawa bungkusan ayam goreng pemberian si pemilik restoran itu, tanpa memperdulikan pemilik itu terheran-heran dengan perkataannya bahwa perempuan yang bersamanya itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahrochmawati08.wordpress.com&amp;blog=5650448&amp;post=187&amp;subd=dyahrochmawati08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;margin:0;">Yang Benar, Yang Terbaik</p>
<p style="text-align:center;margin:0;">(Balada Ayam Goreng)</p>
<p style="text-align:center;margin:0;">by Dyra Hadi</p>
<p style="text-align:center;margin:0;">(Lanjutan &#8220;Baik Belum Tentu Benar&#8221; by Indra Perdana, a great FB friend &amp; classmate)</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">
<p style="text-align:justify;margin:0;">Lelaki itu lalu bergegas ke taman menemui perempuan itu dengan membawa bungkusan ayam goreng pemberian si pemilik restoran itu, tanpa memperdulikan pemilik itu terheran-heran dengan perkataannya bahwa perempuan yang bersamanya itu adalah kekasih gelapnya dan meninggalkan istrinya di rumahnya, tanpa mengetahui keberadaan suaminya dengan perempuan lain.<span id="more-187"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Bagaimana mungkin lelaki itu baru saja mengembalikan uang penjualannya hari itu sebesar sepuluh juta yang secara tak sengaja dimasukkannya ke dalam bungkusan ayam goreng yang dipesan lelaki itu. Lelaki itu lalu mengembalikan uang tersebut tanpa berpikir panjang, seolah-olah uang di dalam bungkusannya itu hanya sebesar seribu perak! Ternyata dunia yang sekarang penuh dengan kebohongan, kepalsuan, kemunafikan dan <em>gang</em>-nya masih menyimpan orang-orang yang masih menjunjung tinggi kejujuran&#8230;&#8221; gumam pemilik restoran itu dengan matanya yang masih memelototi sosok lelaki itu hingga hilang ditelan rimbunan semak-semak di taman seberang restorannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.</p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;">
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;">Sementara itu di sudut taman seberang jalan &#8230; Perempuan itu agak heran mengapa kekasihnya lama sekali. &#8220;Katanya resto cepat saji, masak ayam goreng beberapa potong saja perlu waktu hampir setengah jam!&#8221; gerutunya. Padahal dia tidak melihat antrian panjang para pelanggan seperti biasanya pada jam makan malam saat ini. Mungkin karena pengeboman di dua hotel ternama di Mega Kuningan seminggu yang lalu sehingga banyak orang yang memilih tetap di rumah dan menikmati dua bungkus mie instan sambil menonton TV daripada terkena resiko yang mengerikan akibat peledakan seperti itu.</p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;">
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;">Belum sempat ia melanjutkan keluhannya itu, kekasihnya tiba-tiba muncul bersamaan dengan aroma khas menu favoritnya. &#8220;Kenapa lama, Mas?&#8221; tanyanya sambil menerima bungkusan itu.</p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;">Sambil menyeka keringat yang membasahi kedua ujung luar pipinya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dengan sapu tangan yang selalu disiapkan istrinya kapan saja dia ke luar rumah (Malam hari ini, sama seperti siang tadi, panas sekali padahal beberapa saat lalu matahari terbenam bersama harapan-harapan manusia akan esok hari yang lebih baik.), menjawab dengan polosnya, &#8220;Pemilik resto itu ngotot ingin mempublikasikan kejujuranku mengembalikan uangnya tanpa minta imbalan apa-apa. Apa kata orang jika mereka mengetahui kebersamaan kita ini? Kubilang saja terus terang aku hanya minta ayam goreng yang telah aku pesan dan aku bilang kamu adalah kekasih gelapku&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;">
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;">Entahlah tiba-tiba ucapan yang tanpa beban dari kekasihnya itu bagai gempa bumi dengan lebih dari 9 SR mengguncang-guncangkan dirinya lalu gelombang tsunami yang pernah melanda Aceh tahun 2004 silam menimpa dirinya.</p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;">&#8220;KEKASIH GELAP???&#8221;teriaknya dalam hati, &#8220;Ya, aku memang kekasih gelap, hanya kekasih gelap. Suatu sebutan yang paling aku benci. Bagaimana tidak, hidupku menderita gara-gara tiba-tiba ayahku pergi begitu saja dengan kekasih gelapnya meninggalkan ibuku dan aku yang masih bayi kala itu&#8230;.!! Sampai saat inipun ketika aku berkeluarga dan punya satu anak laki-laki, rasa sakit hatiku ini belum terenyahkan!!&#8221;</p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;">Dan tiba-tiba juga aroma menu yang masih panas itu serta asap yang muncul di sela-sela ayam goreng di hadapannya itu membentuk sosok bayangan mungil yang sangat dicintainya dengan kepolosan dan keluguannya. Tiba-tiba pula dia ingin memeluk dan menciuminya.</p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Ya Tuhan, maafkan diri hamba.&#8221; pintanya memelas, &#8220;Nak, maafkan ibumu!&#8221;. Lalu tiba-tiba dia berlari tanpa sepatah kata pun meninggalkan kekasihnya, meninggalkan segala impian bersamanya. Dia panggil taksi yang kebetulan lewat di hadapannya dan menghilang di tengah remang-remang lampu jalan. Kekasihnya berlari mengejarnya sambil meneriakkan namanya, tanpa memperdulikan tatapan aneh orang-orang di sekitar mereka, tanpa memperdulikan sayup-sayup lagu &#8220;Cinta Terlarang&#8221; dari The Virgins yang mengalun dari restauran itu yang tiba-tiba saja ingin diputar oleh pemilik resto itu untuk para pelanggannya.</p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;">Sopir taksi itu langsung tancap gas. Dia tidak bertanya ke mana tujuan penumpangnya itu. Sudah berkali-kali dia menerima penumpang seperti itu. Kebanyakan mereka tidak ingin segera pulang bahkan ingin segera menjauh dari rumah mereka, hal yang mereka inginkan adalah menenangkan diri. Biasanya yang dilakukan sopir itu adalah diam dan membawa penumpangnya ke pinggiran kota yang lebih tenang suasananya dan hal seperti ini adalah hari keberuntungan bagi dirinya karena berarti setorannya akan lebih besar dari hari-hari biasanya. Dan biasanya penumpang seperti itu akan memberinya ongkos yang lebih karena tidak akan peduli dengan uang kembaliannya. Dia lalu tersenyum membayangkan dirinya membawa beberapa bungkus ayam goreng dari restoran di mana perempuan itu memanggil taksinya. Lalu bungkusan itu dia bawa pulang untuk istri dan anak-anaknya di rumah.</p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;">Sementara itu di dalam taksi&#8230;, perempuan itu menerawang jauh lewat jendela taksi itu. Tak ada air mata yang keluar meski raut wajahnya mencerminkan kegalauan dan kesedihan yang amat dalam. Ya, airmatanya telah terkuras habis untuk menangisi pernikahan tanpa cinta yang selama ini telah dijalaninya. Lalu dia bertemu dengan lelaki yang kemudian menjadi kekasih gelapnya yang telah membuatnya merasakan getar-getar seperti ketika dia jatuh cinta untuk pertama kalinya, perasaan yang dikiranya telah lenyap selamanya dalam dirinya. Lelaki itu juga yang memberikan semangat buat dirinya untuk menjalani kehidupan berkeluarganya dan karirnya dan hal inilah kenapa pernikahannya yang telah dilakoninya selama 15 tahun itu bisa masih bertahan karena bersamanya dia tidak memperdulikan masalah keluarga yang sedang menimpanya.</p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Ya, aku harus dan harus segera mengakhiri semuanya ini. Aku juga tak ingin apa yang telah menimpaku di masa kecilku terjadi pada anak laki-laki semata wayangku. Ya Allah, kemana diri Engkau selama ini? Atau aku sudah buta bahwa Engkau ada di dekatku? Masihkah Engkau mau mengampuni dosa-dosaku?&#8221; katanya dalam hati dan pada detik itu, satu butir air matanya akhirnya jatuh.</p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Sayang, maafkan aku. Aku telah merasakan kebermaknaan dan telah memaknai kehadiranmu dalam hidupku. Dan itu indah. Namun semuanya harus terhenti pada kenyataan bahwa kita tidak akan dapat bersama selamanya karena Allah telah menciptakan pasangan-pasangan, lalu dari mereka lahirlah keturunan mereka atas kuasa-Nya dan mereka harus tetap selalu menjaganya sampai Allah memanggil salah satu atau keduanya ke pangkuan-Nya. Tak ada seorang pun dan apa pun mampu melawan apa yang telah menjadi kehendak-Nya. Meskipun kebenaran ini terkadang amat menyakitkan karena kebersamaan ini tidaklah benar. Dan apa saja yang ditulis oleh-Nya, itulah yang terbaik! Sayang, maafkan aku dan mari kita lupakan.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 216pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 216pt;">(Surabaya, 27 July 2009, 3:36 p.m.)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dyahrochmawati08.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dyahrochmawati08.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dyahrochmawati08.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dyahrochmawati08.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dyahrochmawati08.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dyahrochmawati08.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dyahrochmawati08.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dyahrochmawati08.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dyahrochmawati08.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dyahrochmawati08.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dyahrochmawati08.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dyahrochmawati08.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dyahrochmawati08.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dyahrochmawati08.wordpress.com/187/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahrochmawati08.wordpress.com&amp;blog=5650448&amp;post=187&amp;subd=dyahrochmawati08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/09/14/balada-ayam-goreng-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ee1d0c49ecd63275bd9efb1ebb8fabc?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">dyahrochmawati08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Realita Kehidupan Sosial Dalam ”LAGU CINTA UNTUK TUHAN” Kumpulan Cerpen Karya Aris Kurniawan</title>
		<link>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/05/04/realita-kehidupan-sosial-dalam-%e2%80%9dlagu-cinta-untuk-tuhan%e2%80%9d-kumpulan-cerpen-karya-aris-kurniawan/</link>
		<comments>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/05/04/realita-kehidupan-sosial-dalam-%e2%80%9dlagu-cinta-untuk-tuhan%e2%80%9d-kumpulan-cerpen-karya-aris-kurniawan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 May 2009 06:55:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyah rochmawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[realita]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dyahrochmawati08.wordpress.com/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[A. Pendahuluan Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat keyakinan dalam bentuk gambaran konkrit yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa (Sumardjo, 1988: 3). Cerita merupakan teks prosa yang mengisahkan keterlibatan sejumlah orang dalam sejumlah peristiwa. Suatu cerita akan menjadi cerita sastra apabila cerita itu bertentangan dengan pola pengharapan kita, serta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahrochmawati08.wordpress.com&amp;blog=5650448&amp;post=178&amp;subd=dyahrochmawati08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A. </strong><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat keyakinan dalam bentuk gambaran konkrit yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa (Sumardjo, 1988: 3). <span id="more-178"></span>Cerita merupakan teks prosa yang mengisahkan keterlibatan sejumlah orang dalam sejumlah peristiwa. Suatu cerita akan menjadi cerita sastra apabila cerita itu bertentangan dengan pola pengharapan kita, serta memiliki kontras-kontras ironis yang menjadikannya suatu cerita yang bermutu (Luxemburg, dkk., 1991: 5-6).</p>
<p>Dalam memahami suatu cerita sastra aktivitas pembaca menjadi lebih intensif daripada memahami cerita sastra yang kurang berkualitas. Kegiatan pembaca juga dituntut dalam menerangkan lambang dan pola. Aktivitas pembaca didorong lebih kuat oleh bangun teks yang terdiri dari empat unsur, yaitu pengarang, pembaca, teks, dan dunia yang dikisahkan dalam teks. Pengarang mengarang suatu teks yang mempunyai hubungan tertentu dengan dunia nyata atau dunia yang mungkin ada (ibid.:7, 11).</p>
<p>Dalam hubungannya dengan dunia yang digambarkannya, suatu teks sastra dapat mengungkapkan hakikat pandangan manusia terhadap eksistensinya dan ideologi mengenai kemanusiaan yang dianut dalam masyarakat yang bersangkutan beserta situasi dan kondisinya dalam masyarakat (Teeuw, 1984: 10). Kumpulan cerpen Aris Kurniawan yang berjudul “<em>Lagu Cinta untuk Tuhan” </em>(2005) sarat akan pengungkapan realitas kehidupan masyarakat kita. Kedua puluh cerpen dalam kumpulan ini banyak mencitrakan berbagai macam realita kehidupan sosial kita yang selama ini entah kita sengaja atau tanpa kita sadari, kita singkirkan dari kesadaran kita, misalnya homoseksual, kekerasan seksual, kejahatan seksual pada anak-anak/sodomi, dan sebagainya.</p>
<p>Kedua puluh cerpen dalam kumpulan ini adalah: “<em>Angelina”, “Episode Tanpa Babak”, “Lelaki Pemanggul Bunga”, “Kakek Marijan”, “Nokturno”, “Perempuan Eksperimen”, “Pertemuan Empat Bajingan”, “Sebuah Kota dalam Kepalaku”, “Sonia Menutup Gorden”, “Alam Sutra”, “Becak untuk Wardah”, “Bolehkah Kami Nongkrong di Pinggir Jalan, Tuhan?”, “Cerita dari Sebuah Rumah Sakit”, “Di Kebun Jepun”, “Kota Hujan”, “Lagu Cinta untuk Tuhan”, “Malam Kembang”, “Perempuan yang Ditelan Hujan”, “Petang di Taman”, dan “Tersesat di Pasar Malam”. </em>Dari kedua puluh cerpen dalam kumpulan ini, yang sarat akan penggambaran realita kehidupan masyarakat secara unik adalah “<em>Lelaki Pemanggul Bunga”, “Pertemuan Empat Bajingan”, dan “Becak untuk Wardah”.</em></p>
<p>Berdasarkan uraian di atas, makalah ini bertujuan untuk membahas permasalahan berikut ini:</p>
<ol>
<li>Realitas kehidupan sosial apa yang ingin diungkapkan pengarang melalui ketiga cerpen tersebut dalam kumpulan cerpen “<em>Lagu Cinta untuk Tuhan”?</em></li>
<li>Bagaimana penilaian atas ketiga cerpen dalam kumpulan cerpen “<em>Lagu Cinta untuk Tuhan” </em>berdasarkan kriteria ekspresivitas, emotivitas, dan realisme (Luxemburg dkk., 1989: 70-71)?<em></em></li>
</ol>
<p><strong>B. </strong><strong>Kerangka Teori</strong></p>
<p><strong>1. </strong><strong>Sastra dan Kenyataan</strong></p>
<p><strong> </strong>Sastra boleh dibaca, dinikmati, dan diapresiasi. Seorang penelaah sastra harus dapat menerjemahkan pengalaman sastranya dalam bahasa ilmiah dan menjabarkannya dalam uraian yang jelas dan rasional (Wellek dan Warren, 1995: 3-4). Karena setiap karya sastra memiliki ciri-ciri yang bersifat individual (khusus) dan umum, upaya untuk menguraikan karya sastra hanya dapat dilakukan secara universal jika didasarkan pada suatu teori sastra. Pemahaman dan apresiasi adalah syarat yang harus dipenuhi sebelum kita mengembangkan pemikiran terhadap karya sastra. Pemahaman ini dicapai melalui “membaca” secara kritis dan teliti (ibid: 9-10).</p>
<p>Selanjutnya Wellek dan Warren (1995: 109-114) menambahkan bahwa sastra “menyajikan kehidupan” dan “kehidupan” yang sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra juga “meniru” alam dan dunia subjektif manusia. Sastra adalah ungkapan perasaan masyarakat (Luxemburg dkk., 1989: 12). Melalui karya sastra, keterlibatan sosial, sikap dan ideologi pengarang dapat diungkap karena pengarang adalah warga masyarakat memiliki pendapat tentang permasalahan atau kenyataan sosial dan politik yang penting dan sedang berkembang pada saat itu (Ratna, 2006: 302). Sedangkan Newton (1990: 125) mengatakan bahwa kita harus memahami bahwa perilaku sosial dan bahasa suatu karya sastra itu selalu berkaitan oleh karena itu karya sastra harus diteliti hubungan keberadaan masyarakat dan dunia karya sastra serta keberadan masyarakat dalam dunia dalam karya sastra.</p>
<p>Dalam hubungan antara sastra dan kenyataan, M. H. Abrams dalam Teeuw (1984: 50-53) menyatakan bahwa salah satu pendekatan kritik utama terhadap karya sastra adalah pendekatan yang menitikberatkan semesta yang disebut mimetik. Istilah mimetik berasal dari bahasa Yunani, “mimesis”yang sejak dahulu dipakai sebagai istilah untuk menjelaskan hubungan antara karya seni dan kenyataan atau “reality”. Dalam pendekatan ini, hubungan karya seni dan kenyataan menjadi ciri utama dalam penilaiannya. Seni harus mencerminkan kenyataan sosial sebagai alat untuk merombak kondisi masyarakat tersebut.Orientasi mimetik memandang karya sastra sebagai tiruan, cerminan, atau pun representasi alam maupun kehidupan. Kriteria yang dikenakan pada karya sastra adalah “kebenaran” representasi objek-objek yang digambarkan atau pun yang hendaknya digambarkan (Pradopo, 2003: 94). Pendekatan-pendekatan lainnya dapat menitikberatkan apa karya itu sendiri (objektif), penulis (ekspresif) dan pembaca (pragmatik). Keempat pendekatan tersebut pada masa-masa tertentu salah satu di antaranya seringkali menjadi yang dominan.</p>
<p>Masalah hubungan antara sastra dan kenyataan tidak hanya menyangkut masalah ilmu sastra tapi juga masalah filsafat, psikologi, sosiologi, dan lain-lain (Newton, 1990: Menurut Plato dalam Teeuw, dunia empirik tidak mewakili kenyataan yang sungguh-sungguh, hanya dapat mendekatinya lewat <em>mimesis, </em>atau pembayangan/peniruan. Sedangkan Aristoteles dalam Teeuw mengatakan bahwa seniman menciptakan dunianya sendiri, pandangan dan penafsiran kenyataan adalah yang dominan dan kepandaiannya didedikasikan pada interpretasi atau pemberian makna pada eksistensi manusia. Di samping itu, hubungan antara kenyataan (<em>mimesis)</em> dan kreasi/rekaan (<em>creation)</em> merupakan interaksi yang kompleks dan tak langsung. Membaca suatu teks satra dan menganggapnya sebagai pencerminan belaka adalah menyesatkan. Demikian pula sebaliknya, membaca teks sastra dan menganggapnya sebagai rekaan murni adalah juga menyesatkan (ibid: 219-229). Di samping itu, sastrawan memberi makna lewat kenyataan yang diciptakannya dengan bebas asal tetap dapat difahami oleh pembaca oleh ragam konvensi bahasa, konvensi sosio-budaya, dan konvensi sastra (ibid: 248).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2. </strong><strong>Penilaian Karya Sastra</strong></p>
<p>Untuk menilai karya sastra, Luxemburg dkk. (1989: 70-71) mengemukakan bahwa penilaian karya sastra dapat didasarkan atas beberapa kriteria, di antaranya adalah kriterium ekspresivitas, artinya sebuah karya adalah baik apabila pribadi dan emosi pengarang diungkapkan dengan baik. Kriteria berikutnya adalah kriterium intensi, artinya sebuah karya adalah baik bila intensi (maksud) pengarang diungkapkan dengan baik selaras dengan norma-normanya. Sedangkan kriteria realisme atau mimesis artinya sebuah karya sastra dinilai baik bila kenyataan diungkapkan dengan tepat, lengkap, dan menampilkan ciri-ciri yang khas. Kriteria ini berkaitan dengan kriteria kognitif yang mengukur mutu sebuah karya sastra berdasarkan pengetahuan yang disampaikan.</p>
<p>Kriteria berikutnya mengaitkan pendapat kritikus yang mempergunakan kriteria politik, religius, atau moral. Kalau penilaian didasarkan atas apakah sebuah karya memiliki kemampuan membangkitkan emosi para pembacanya berarti kriteria yang dimaksud di atas adalah kriterium emotivitas. Kriteria yang terakhir adalah kriterium struktur, artinya sebuah karya dikatakan baik apabila memperhatikan susunan, keberkaitan, dan kesatuan karya tersebut. Yang dipakai dalam meganalisan kumpulan cerpen ini adalah kriteria ekspresivitas, emotivitas, dan realisme karena kriterian ini yang berhubungan dekat dengan pendekatan mimesis.</p>
<p>Di samping itu, karya sastra merupakan ekspresi suatu sikap yang umum tentang kehidupan. Hal ini dapat menambah nilai artistik karya sastra karena mendukung beberapa nilai artistik penting seperti kompleksitas dan koherensi (Wellek dan Warren, 1995: 141, 152; Darma, 2007: 95). Damono (1983: 15) juga mengatakan bahwa seperti puisi, prosa memiliki daya tarik melalui unsur-unsur citra, simbol, kiasan dan paradoks, termasuk kepekaan pengarang terhadap perubahan sosial yang melibatkan nasib manusia yang mewakili pergeseran-pergeseran penting dalam nilai-nilai sosial.</p>
<p><strong>C. </strong><strong>Realitas Kehidupan Sosial dalam Kumpulan Cerpen “<em>Lagu Cinta untuk Tuhan” </em>Karya Aris Kurniawan</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sebagaimana yang dikemukakan di atas bahwa cerpen-cerpen dalam kumpulan ini banyak menggambarkan realita kehidupan masyarakat, terutama dalam ketiga cerpennya, yaitu “<em>Lelaki Pemanggul Bunga”, “Pertemuan Empat Bajingan”, </em>dan<em> “Becak untuk Wardah”.</em> Penggambaran realita tersebut dikemas dengan cara yang unik dan bisa dipastikan bahwa realita tersebut memang nyata ada dalam masyarakat kita meskipun realita tersebut amat jarang kita jumpai. Berikut ini adalah pembahasannya:</p>
<p><strong><em>1. </em></strong><strong>“<em>Lelaki Pemanggul Bunga”</em></strong></p>
<p>Dalam cerpen ini, dapat dikatakan masalah trauma masa kecil atas kekerasan yang dialami seseorang yang ingin dikemukakan pengarang. Trauma tersebut sulit hilang dan akan terus membayangi orang tersebut hingga dewasa. Hal ini nyata di dalam masyarakat. Banyak orang yang hidup dengan trauma tersebut. Ada yang berhasil menaklukannya, ada juga yang gagal. Banyak pelaku kejahatan sadis dan tak berperikemanusiaan yang memiliki trauma seperti itu, sebagaimana kutipan berikut:</p>
<p><em>Masalah lalu kita tidak begitu menggembirakan meski tidak terlalu kelam. Setiap hari kita disuguhi pertengkaran, caci maki, dan umpatan-umpatan paling busuk berhamburan dari mulut mereka. Bila ayah berucap sepatah, dibalas ibu sepuluh pantah. Lantas benda-benda apa saja, piring-piring, gelas, guci-guci keramik, patung-patung hias, akuarium akan beterbangan dan pecah berkeping-keping di lantai… <span style="text-decoration:underline;">Hmm, rupanya kau masih mengakui masa lalu yang entah harus kita simpan di mana. Ah masa lalu yang kadang suka bangkit dan minta dipahami kembali</span> (</em>hlm. 25-26)<em>.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Bahkan trauma itu bisa berubah menjadi suatu motif yang mewarnai perilakunya dan atas kekerasan dan bentuk kejahatan lainnya yang ia lakukan, sebagaimana kutipan berikut:</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“<span style="text-decoration:underline;">Jangan kau jadikan masa lalu kelam sebagai pembenaran bagi kebiadabanmu.”</span></em></p>
<p><em>Hmm, aku tak sudi mendengar lanjutannya. Terlalu klise dan sok tahu. Siapa bilang aku sedang menjadikan masa lalu sebagai penolongku. Tidak. Ia cukup indah dan sama sekali bukan pembenaran untuk kepahitan yang aku alami … <span style="text-decoration:underline;">Masa lalu yang membuatku terangsang setiap mengenangnya</span> (</em>hlm. 28<em>).</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Ia akan mengulangi perbuatan keji tersebut bahkan dia mendapatkan “kenikmatan” setelah melakukannya. Ia akan berdalih bahwa ia hanya ingin membebaskan korbannya dari kemungkinan mengalami hal yang sama dengan dirinya, sebagaimana kutipan berikut:</p>
<p><em>Jangan kau bayangkan diriku seorang iblis yang meneteskan liur saat menatap bocah-bocah manis yang berhamburan bagai sekelompoklaron di kolong-kolong jalan layang, Kawan. Mataku merah bagai kelelawar yang memancarkan pijar api, tetapi lebih anggun dari iblis. <span style="text-decoration:underline;">Justru akulah malaikat yang ingin membebaskan mereka dari sengat matahari yang senantiasa memanggang tubuh mungil itu hingga gosong dan bersisik</span> (</em>hlm. 21).</p>
<p>Di sisi lain, orang tersebut akan selalu ingin melepaskan diri dari bayangan masa lalu dan saat itulah yang menurutnya sangat melegakan dan membahagiakan, sebagaimana kutipan berikut:</p>
<p><em>Maka sudahlah, kalau kau mau bunuh aku, lekaslah… <span style="text-decoration:underline;">Lekaslah, aku pun menantikan saat yang menurut kebanyakan orang sangat menegangkan. Aku sudah bosan memanggul bunga ke sana kemari</span> </em>(hlm. 29<em>).</em></p>
<p>Di dalam masyarakat, hal seperti ini akan terus terjadi selama kekerasan terus ada dan membayangi serta menghantui siapa saja yang mengalaminya. Tidak mengherankan jika hampir tiap tahun kita menjumpai kejahatan yang fenomenal yang mana para pelakunya seringkali memiliki motif psikologis akibat trauma kekerasan yang mereka alami di masa lalu mereka, di samping motif ekonomi. Hal ini perlu mendapat perhatian kita. Suatu terapi psikologis bagi orang-orang seperti itu sangat penting untuk mencegah hilangnya nyawa orang-orang yang tak berdosa akibat kejahatan keji itu.</p>
<p><strong>2. </strong><strong><em>“Pertemuan Empat Bajingan”</em></strong></p>
<p>Realitas kehidupan sosial yang ingin dikemukakan oleh pengarang adalah adanya konspirasi di dalam masyarakat untuk menghilangkan nyawa seseorang, terutama bagi orang-orang yang akan dapat membahayakan posisi seseorang yang memiliki status sosial ekonomi atau jabatan politis yang terpandang, terutama bagi yang telah melakukan kejahatan dan kebusukan yang berusaha mereka tutup-tutupi dari publik. Orang tersebut dikhawatirkan akan dapat membongkarnya sehingga mengancam statusnya. Orang-orang “terpandang” seperti ini akan selalu berkeinginan untuk mempertahankan statusnya dan berfikir untuk melenyapkan nyawa orang tersebut dengan melakukan konspirasi yang rapi tapi terselubung. Salah satu caranya adalah dengan menyewa pembunuh bayaran yang profesional di bidangnya, sebagaimana kutipan berikut:</p>
<p><em>Uang persekot dari bupati yang memberiku order yang kukerjakan malam ini. <span style="text-decoration:underline;">Order membunuh wartawan yang kata bupati sok menjadi pahlawan membongkar perselingkuhan bupati dengan biduan dangdut.</span> Bupati memberiku waktu seminggu </em>(hlm. 61<em>).</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Pembunuh bayaran ini dapat bekerja sendiri atau bekerja secara tim. Tim pembunuh bayaran ini terdiri dari orang-orang yang memiliki keahlian tertentu. Mereka bekerja sama dengan rapi untuk menuntaskan kerja masing-masing, sebagaimana kutipan berikut ini:</p>
<p><em>“Jadi begini, <span style="text-decoration:underline;">kita sengaja berkumpul</span> di Santai Girang ini bukan untuk apa-apa, <span style="text-decoration:underline;">melainkan untuk membicarakan pekerjaan kita masing-masing… Memang kita mempunyai spesialisasi masing-masing</span>, tapi siapa tahu, kan? Lagi pula pertemuan semacam ini untuk mempererat persauadaraan, tukar-menukar informasi, dan lain-lain </em>(hlm. 67).</p>
<p><em> </em></p>
<p>Realita ini juga kerap kali terjadi di dalam masyarakat. Beberapa orang yang berjuang membela kebenaran dan keadilan, terutama hak-hak asasi manusia, meninggal dunia karena dibunuh dengan cara konspirasi yang cermat dan rapi seperti ini sehingga sulit sekali mengungkap siapa dalang pembunuhan tersebut. Dan hal ini akan terus terjadi selama kebenaran dan keadilan yang hakiki belum ditegakkan dan selama masyarakat masih lebih memuja status sosial ekonomi, status politis, dan sebagainya daripada kebenaran dan keadilan untuk semua golongan.</p>
<p><strong>3. </strong><strong><em>“Becak untuk Wardah”</em></strong></p>
<p>Realita kehidupan sosial yang diangkat oleh pengarang melalui cerpen ini adalah persamaan gender (<em>gender equity) </em>dalam bidang sosial-ekonomi. Hal ini berarti bahwa baik laki-laki maupun perempuan dapat mencari penghidupan atau menjalani profesi apa pun. Seorang wanita dapat memiliki profesi yang biasanya dilakukan oleh laki-laki dan sebaliknya, sebagaimana kutipan berikut ini:</p>
<p><em>Dan tahun-tahun lewat sudah, <span style="text-decoration:underline;">Wardah terus menggayuh pedal becak</span>.Sepasang kakinya yang panjang, kekar, hitam dan berkilat, turun naik dengan irama yang tetap</em>(hlm. 96).<em></em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong> </strong>Hal ini dapat terjadi karena tekanan ekonomi atau memang merupakan pilihan hidup. Karena desakan ekonomi, seorang wanita  misalnya, harus melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan laki-laki. Pekerjaan yang dimaksud biasanya merupakan pekerjaan yang banyak membutuhkan kekuatan fisik, sebagaimana kutipan berikut:</p>
<p><em>Waktu kecil sebagaimana anak perempuan lainnya, <span style="text-decoration:underline;">Wardah tidakpunya cita-cita jadi tukang becak…</span>Dan memang bapaknya hanya bisa memberinya warisan becak yang diserahkannya beberapa menit sebelum mati dilindas truk </em>(hlm. 98).</p>
<p><em> </em></p>
<p>Meskipun pada awalnya merupakan keterpaksaan namun pada akhinya, seseorang dapat menjadi tenaga yang trampil dan profesional di bidangnya, sebagaimana kutipan berikut:</p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;">Dengan tekun Wardah belajar mengayuh becak pada bapak. Mengayuh becak ternyata bukan perkara mudah, apalagi untuk seorang anak perempuan…pada usia 17 tahun baru Wardah menguasai benar bagaimana mengatuh becak secara menarik, indah, khusuk seperti sedang menghadap Tuhan </span></em>(hlm. 99).</p>
<p><em>Orang-orang berfikir seandainya ada lomba mengayuh becak terindah, pasti Wardahlah pemenangnya … <span style="text-decoration:underline;">Wardah akan menggondol semua piala</span> </em>(hlm. 100)<em>.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Pekerjaan ini dapat dilakukan selama hayat hingga orang tersebut menghembuskan nafas terakhir ini, sebagaimana kutipan berikut ini:</p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;">Kini dia telah sampai ke angkasa</span></em><em> …aku melihat Wardah di layar televisi meluncur dengan becaknya yang cemerlang keperakan di antara bintang-bintang </em>(hlm. 104).<em></em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Kenyataan ini bisa kita temukan di dalam masyarakat, terutama masyarakat dengan keterbatasan ekonomi. Kaum perempuannya kadang-kadang harus berprofesi seperti layaknya laki-laki karena tuntutan ekonomi.</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>D. </strong><strong>Penilaian atas Tiga Cerpen dalam Kumpulan “<em>Lagu Cinta untuk Tuhan”</em></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Seperti yang telah dikemukakan di atas, penilaian atas tiga cerpen dalam kumpulan “<em>Lagu Cinta Untuk Tuhan” </em>didasarkan kriteria yang telah dikemukakan oleh Luxemburg, dkk. (1989, 70-71). Kriteria tersebut meliputi ekspresivitas, emotivitas, dan realisme. Berikut ini adalah hasil analisanya.</p>
<p><strong>1. </strong><strong>Segi ekspresivitas</strong></p>
<p>Dari segi ekspresivitas, pengarang kumpulan cerpen ini mengungkapkan pribadi dan emosinya dengan cukup baik, sebagaimana kutipan berikut:</p>
<p><em>Masalah lalu kita tidak begitu menggembirakan meski tidak terlalu kelam. Setiap hari kita disuguhi pertengkaran, caci maki, dan umpatan-umpatan paling busuk berhamburan dari mulut mereka. Bila ayah berucap sepatah, dibalas ibu sepuluh pantah. Lantas benda-benda apa saja, piring-piring, gelas, guci-guci keramik, patung-patung hias, akuarium akan beterbangan dan pecah berkeping-keping di lantai…</em>(“<em>Lelaki Pemanggul Bunga”, </em>hlm. 25).</p>
<p><em>Hari-hari terus merambat dengan cepat memakan apa saja yang dilintasinya dengan sengit. Bus-bus, truk, container, sepeda motor jetmatic, telah diparkirkan, para pengemudinya beristirahat sejenak untuk makan, sembahyang, nonton televisi, ngobrol bersama keluarga,bercanda, tidur, bercinta. Sementara Wardah terus melaju </em>(“<em>Becak untuk Wardah”, </em>hlm. 96-97)</p>
<p><em>Hujan sudah reda. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu warna-warni. Sisa-sisa air menggenang di jalan berlubang. Angin berkesiur menampar pepohonan yang mengigil. Jalanan tidak seramai sore tadi. Toko-toko sudah banyak yang tutup. Salon para bencong yang biasanya sampai subuh, kini kelihatan gelap. Sebuah kios rokok di sudut pertokoan mebel itu masih buka dngan penjualnya yang duduk terkantuk-kantuk (“Pertemuan Empat Bajingan”, </em>hlm. 58)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Namun ada beberapa hal yang diungkapkan secara berlebih-lebihan oleh pengarang, kecuali pada cerpen “<em>Pertemuan Empat Bajingan”, </em>sebagaimana kutipan berikut:</p>
<p><em>Kita tumbuh bersama perempuan kampung pengasuh kita yang gemar menyiksa binatang. Aku pernah melihat bagaimana <span style="text-decoration:underline;">kucing itu mati perlahan oleh tusukan pisau belati yang dipanaskan… Juga anjing kita yang lucu tewas diceburkan ke kolam dengan tubuh diganduli batu …rupanya dia terlalu banyak makan bawang dan tikus bakar</span>…</em>(“<em>Lelaki Pemanggul Bunga”,</em>hlm. 27).</p>
<p><em>Mereka melihat becak itu <span style="text-decoration:underline;">meluncur menerobos hutan, menyusuri padang gurun, membelah lautan …</span> </em>(“<em>Becak untuk Wardah”, </em>hlm. 97).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2. </strong><strong>Segi emosivitas</strong></p>
<p>Dari segi emotivitas, kumpulan cerpen ini karya memiliki kemampuan membangkitkan emosi para pembacanya, seperti yang terdapat dalam kutipan berikut:</p>
<p><em>Waktu itu kita masih lima tahun dan belum mengerti kenapa malam itu ayah tiba-tiba mengemuk mendapati ibu terkapar di antara sekelompok lelaki. Bagai serigala ayah merenggut pedang pajangan di dinding dan membabatnya pada mereka. Kita mengigil dalam dekapan seorang perempuan kampong yang suka sekali makan cecak dan tikus baker (”Lelaki Pemanggul Bunga”, </em>hlm. 26).</p>
<p><em>Diberinya Wardah kaus dan uang dua puluh ribu sehari selama seminggu menjelang pemilu. Ketika pemilu berakhir, dengan kemenangan partainya, politisi itu berteriak, inilah saatnya kaum miskin berkuasa.Inilah saatnya kaum borjuis menyerahkan diri pada kaum proletariat. Tetapi kemudian Wardah kecewa keika waktu berlalu dan tak ada perbaikan nasib apalagi untuk tukang becak. Nasib mereka malah makin terpuruk dengan naiknya BBM tiap tiga bulan, tarif listrik, biaya sekolah … (“Becak untuk Wardah” </em>hlm. 102).</p>
<p><em>Dulu aku berpikir, Anan berkata begitu karena dia kaya, tidak pernah mengalami bagaimana rasanya lapar, tapi tdak ada nasi untuk dimakan. Sekolah dekat saja dia diberi uang saku lima puluh ribu. Padahal sudah sarapan pakai opor, roti selai, minum susu. Hidup memang tidak adil. Orang tuaku yang sudah kerja keras, banting tulang tiap hari tetap saja kere </em>(“<em>Pertemuan Empat Bajingan”, </em>hlm.63).</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Segi realisme</strong></p>
<p>Tiga cerpen ini menggambarkan realitas kehidupan masyarakat secara baik. Ketiganya mengemukakan realita yang memang nyata dalam kehidupan sosial masyarakat. Realita tersebut dicitrakan dengan jelas, gamblang, apa adanya, meskipun kadang-kadang sangat bombastis dengan menggunakan majas <em>hyperbole</em>. Realita tersebut dipadu dengan kreasi atau rekaan pengarang. Jadi ketiga cerpen itu memiliki perpaduan antara dua unsur, yaitu realita (<em>mimesis</em>) dan rekaan (<em>creatio</em>).</p>
<p>Di samping itu, pada bagian akhir masing-masing cerpen itu terdapat “keterkejutan-keterkejutan” di luar ekspektasi para pembacanya yang dapat “mempermainkan” perasaan pembacanya, seperti dalam kutipan berikut ini:</p>
<p><em>Waktu yang diberikan Pak Bupati sudah habis, itu artinya aku batal mendapat dua puluh juta. Bangsat! Kuhantam tembok di depanku, tanganku terasa nyeri, sialan. Sedang kesal begitu, handphoneku berbunyi. Dengan geram kusambar.</em></p>
<p><em>“Halo! Kamu memang cerdas. Bisa kuandalkan. Kapan-kapan kita teruskan kerjasama ini. Oke, ceknya bisa kamu ambil besok di tempat biasa. Klek! Telepon ditutup. Aku terkejut beberapa saat tapi kemudian tersenyum puas setelah mnbaca koran hari ini:</em></p>
<p><em>“Seorang wartawan berinisial AI (24 tahun) ditemukan tewas di Santai Girang, sebuah rumah bordil yang berkedok warung kopi di jalan Raya Kesunyian No. 212, semalam.”</em>(“<em>Pertemuan Empat Bajingan”, </em>hlm. 48).</p>
<p><strong>E. </strong><strong>Kesimpulan dan Penutup</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kumpulan cerpen “<em>Lagu Cinta untuk Tuhan” </em>karya Aris Kurniawan:</p>
<ol>
<li>mengungkapkan kondisi sosial yang merupakan realita dalam masyarakat, terutama yang bersifat anomali dan paradoks, sebagai respons atas masalah-masalah sosial yang terjadi saat ini, dengan harapan akan adanya realita yang lebih baik (Darma, 2007: 129)</li>
<li>adalah baik berdasarkan kriteria ekspresitivitas, emotivitas, dan realisme.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p>Di samping itu, nampaknya pengarang memiliki kebebasan ekspresi diri sejara jujur dan apa adanya tentang realitas sosial di hadapannya. Tidak nampak adanya tendensi “politis” tertentu atau berpretensi memperjuangkan “ideologi” tertentu. Pengarang menunjukkan sikap kritis dan tanggung jawab yang besar terhadap masyarakat dan masa depan mereka. Kumpulan cerpen ini merupakan karya yang memancarkan orisinalitas personal yang kreatif.</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center"><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Damono, Sapardi Djoko. 1983. <em>Kesusastraan Indonesia: Beberapa Catatan. </em>Jakarta: PT Gramedia.</p>
<p>Darma, Budi. 2007. <em>Bahasa, Sastra,dan Budi Darma.</em> Surabaya: Jawa Pos Group.</p>
<p>Kurniawan, Aris. 2005. <em>Lagu Cinta untuk Tuhan. </em>Yogyakarta: Penerbit Logung Jaya.</p>
<p>Luxemburg, Jan van, Bal, Mieke, dan Westeijn, Willem G. 1991. <em>Tentang Sastra.</em> (Penerjemah: Akhadiati Akram). Jakarta: Intermasa.</p>
<p>Luxemburg, Jan van, dkk. 1989. <em>Pengantar Ilmu Sastra. </em>Jakarta: PT. Gramedia.</p>
<p>Newton, K.M. 1990. <em>Interpreting the Text: A Critical Introduction to the Theory and Practice of Literary Interpretation. </em>London: Harvester Wheatsheaf, A Division of Simon &amp; Schuster International Group.</p>
<p>Pradopo, Rachmat Djoko. 2003. <em>Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. </em>Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.</p>
<p>Ratna, Nyoman Kutha. 2006. <em>Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. </em>Yogyakarta: Pustaka Pelajar.</p>
<p>Sumarjo, Jacob dan Saini, K.M. 1991. <em>Apresiasi Kesusatraan.</em>Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.</p>
<p>Teeuw, A. 1982. <em>Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Ilmu Sastra. </em>Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.</p>
<p>Wellek, Rene dan Warren, Austin. 2005. <em>Teori Kesusasteraan (Terjemahan oleh Melani Budianta). </em>Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Lampiran-Lampiran:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>A. </strong><strong>Sinopsis Cerpen-Cerpen dalam Kumpulan “<em>Lagu Cinta untuk Tuhan</em>” Karya Aris Kurniawan</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li>“<em>Angelina”</em></li>
</ol>
<p>Fred, lelaki beristrikan Sophie, perempuan yang menurutnya tidak menarik karena bertubuh gembrot dan berkulit coklat tua, secara iseng berkunjung ke kafe yang sekaligus berfungsi sebagai galeri seni yang pada saat itu sedang menggelar pameran seni. Di sana ia bertemu dengan Angelina, salah satu pelukis yang sedang memamerkan lukisan-lukisannya. Bagi Fred, Angelina adalah sosok perempuan idamannya. Hubungan Fred dengan pelukis cantik itu semakin intensif dan intim sehingga menjadi suatu perselingkuhan. Hal ini diketahui Sophie secara diam-diam. Dia lalu membalas perselingkuhan suaminya dengan membayar seorang laki-laki muda dan tampan untuk berpura-pura menjadi pasangan selingkuhnya ketika Fred pulang ke rumahnya. Fred lalu pergi setelah menyaksikan pemandangan yang mengejutkannya. Dia lalu pergi ke apartemen Angelina, ternyata kejadian yang sama juga terjadi pada Angelina.</p>
<ol>
<li><em> “Episode Tanpa Babak”</em></li>
</ol>
<p>Atik, perempuan cantik dan eksekutif muda bersuamikan lelaki yang senang melakukan kekerasan fisik pada dirinya sesaat sebelum mereka bercinta. Di luar itu, lelaki itu adalah suami yang penyayang. Mereka menikah karena perjodohan orang tua Atik yang khawatir anak perempuannya menjadi perawan tua karena terlalu asyik menggeluti karirnya. Awalnya, Atik merasa amat tersiksa dengan semuanya ini dan ingin segera mengakhiri hidupnya. Lalu mereka akhirnya berpisah. Namun, seiring waktu berlalu, ternyata Atik sangat merindukan mantan suaminya dengan kekerasan seksualnya.</p>
<ol>
<li><em>“Lelaki Pemanggul Bunga”</em></li>
</ol>
<p>Lelaki itu tidak waras bahkan dia adalah sebenarnya seorang psikopat. Karena ketidakadaan kasih sayang orang tua dan kekerasan seksual yang dialaminya sejak kecil membuatnya gila seperti itu. Ia tidak hanya dapat bercinta dengan wanita, tapi juga dengan sesama jenis dan anak-anak. Karena keanehannya, dia dibuang oleh keluarganya. Dia paling senang jika bercinta dengan anak-anak ketika mereka meregang nyawa setelah dibunuhnya. Polisi berhasil menangkapnya atas kekejian yang telah lama dilakukannya. Dia tidak takut menghadapi kematiannya, bahkan inilah saat yang paling dia rindukan karena kematian adalah akhir dari penderitaan panjangnya.</p>
<ol>
<li><em> “Kakek Marijan”</em></li>
</ol>
<p>Kakek Marijan telah membunuh Parto, cucu yang disayanginya untuk membalas sakit hatinya atas perbuatan ayahnya yang merupakan anak menantunya. Anak menantunya ini seringkali melontarkan kata-kata yang menyakitkan dan menganggap dirinya tua bangka yang tidak ada gunanya. Dia juga kerap kali bertindak kasar kepada istrinya yang merupakan anak kandungnya. Setelah dibunuh, mayat cucunya itu ia buang ke selokan. Karena takut polisi mengetahui siapa pembunuh anak yang tidak berdosa itu di kemudian hari dan memasukkannya ke dalam penjara, ia lalu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan meneggelamkan dirinya ke dalam selokan itu.</p>
<ol>
<li><em> “Nokturno”</em></li>
</ol>
<p>Seorang perempuan akhirnya membunuh lelaki yang telah menikahinya di rumah mereka sendiri, Sejak dulu ia tidak pernah menginginkan suatu pernikahan meskipun akhirnya ia melakoninya. Kekhawatirannya tentang kebebasan individunya akibat pernikahan akhirnya terbukti. Lelaki itu telah merenggutnya. Di samping itu, lelaki itu selalu menuntut kesetiaannya namun lelaki itulah yang akhirnya tidak setia. Dia lalu memutuskan untuk pergi dari rumah itu,</p>
<ol>
<li><em> “Perempuan Eksperimen”</em></li>
</ol>
<p>Seorang perempuan pelacur di suatu kelompok pelacuran yang sering melayani berbagai macam lelaki pada malam hari, tetapi pada siang hari dia adalah seorang eksekutif muda yang sangat sibuk tapi sebenarnya sangat kesepian.</p>
<ol>
<li><em> “Pertemuan Empat Bajingan”</em></li>
</ol>
<p>Empat bajingan, satu diantaranya perempuan sepakat untuk bertemu. Mereka adalah pembunuh bayaran dengan spesialisasi masing-masing. Pertemuan itu biasa mereka lakukan apabila mereka mendapat pesanan untuk membunuh seorang target. Kali ini targetnya adalah wartawati bernama Anan yang ternyata teman masa kecil bahkan pernah menjadi teman dekat salah satu dari mereka yaitu eksekutornya. Hal inilah yang membuat eksekutor tersebut menjadi galau. Kegalauan inilah yang membuat dia menunda-nunda mengeksekusi perempuan ini. Dia juga tahu teman lamanya ini adalah kekasih gelap Pak Camat. Suatu hari orang yang memesannya menelponnya dan menyatakan kepuasannya atas kerja tim pembunuh ini. Dia lalu melihat tayangan berita di TV bahwa wartawati itu telah tewas dibunuh, tapi sebenarnya bukan dia atau timnya yang melakukannya.</p>
<ol>
<li><em>“Sebuah Kota dalam Kepalaku”</em></li>
</ol>
<p>Seorang suami yang sekaligus ayah dari satu anak sedang melamunkan suatu kota di mana dahulu dia menghabiskan masa-masa romantismenya, kota kecil bersuasana tenang. Dia sangat merindukannya. Dalam lamunannya itu, dia bertemu dengan seorang perempuan bernama Wartini yang menunjukkan suatu kota yang mirip dengan kota yang dirindukannya. Suara tangisan anak kecil yang memanggilnya “Ayah” lalu menyadarkan lamunannya.</p>
<ol>
<li><em> “Sonia Menutup Gorden”</em></li>
</ol>
<p>Sonia adalah perempuan yang cantik dan menawan. Dia adalah ibu dari tiga anak. Suaminya meninggalkan mereka begitu saja. Suaminya pergi dengan kekasih yang dihamilinya entah ke mana. Sonia harus bekerja keras untuk menghidupi ketiga anaknya. Dia lalu bertemu dengan teman laki-lakinya semasa kecil di kampung halamannya. Laki-laki itu sudah beristri dan beranak namun sedang menghadapi masalah dalam rumah tangganya juga karena ketidakcocokan dengan istrinya. Keluarga lelaki itu tinggal di luar kota, setiap akhir pekan lelaki itu mengunjungi anak dan istrinya. Reuni itu lalu berubah menjadi percintaan dan perselingkuhan di antara mereka. Hampir tiap malam selama enam bulan ini, kecuali akhir pekan, laki-laki itu diam-diam di tengah malam menemui Sonia dan mereka bercinta, sebelum fajar menyingsing lelaki itu pergi meninggalkannya. Anak-anak Sonia juga menyayangi lelaki itu dan menganggapnya sebagai pengganti ayah mereka karena lelaki itu sangat penyayang. Ketika kemudian Sonia menuntut kejelasan status hubungan mereka akibat tetangganya yang mulai mencium perbuatan mesum mereka, lelaki itu menjawab bahwa mulai minggu depan dia dipindahtugaskan ke luar pulau.</p>
<p>10.  <em> “Alam Sutra”</em></p>
<p>“Alam Sutra” adalah kota tempat tinggal arwah yang penasaran. Seorang perempuan muda sedang naik taksi ke kota itu. Dia ingin memenuhi undangan Feri, teman dekatnya, yang mati bunuh diri. Perempuan itu merasa telah berjam-jam menaiki taksi itu, namun sopir taksi itu mengatakan baru setengah jam. Di tengah perjalanan, sopir tersebut memberi tumpangan kepada seorang perempuan lain, karena keisengannya mengakibatkan ia mati. Perempuan pertama tersadar bahwa “Alam Sutra” bukanlah tujuannya karena dirinya bukanlah roh yang penasaran, lalu dia mencoba menghubungi keluarganya melalui telepon genggamnya tapi tak ada signal. Kemudian dia merasakan tubuhnya sangat ringan dan melayang.</p>
<p>11.  <em> “Becak untuk Wardah”</em></p>
<p>Wardah adalah perempuan perkasa yang telah bertahun-tahun, semenjak remaja, menjadi pengayuh becak warisan ayahnya yang juga pengayuh becak yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dia sangat menikmati profesinya itu hingga akhir hayatnya. Baginya, menerima kehidupan yang telah digariskan Tuhan kepada dirinya adalah kebahagiaan dirinya yang hakiki. Dia lalu memjalaninya dengan jujur. Dia pernah dibujuk oleh kenalannya yang politisi untuk mencoblos partai yang sedang diperjuangkan politisi tersebut sambil memberinya kaos berlambang partai itu yang sarat dengan kata-kata yang nampak menjanjikan. Namun ketika partai itulah yang memenangkan pemilu, nasibnya tidak berubah. Bahkan tekanan-tekanan hidup semakin memberatkan kehidupannya. Dia masih memakai kaos itu, bukan karena dia adalah pendukung setia partai tersebut tetapi memang itu satu-satunya kaos yang dimilikinya sampai akhir hidupnya.</p>
<p>12.  <em> “Bolehkah Kami Nongkrong di Pinggir Jalan, Tuhan?”</em></p>
<p>Lelaki itu sering nongkrong di pinggir jalan sejak ditinggal pergi istrinya entah ke mana. Ketidakmampuan dan ketidakberdayaan dirinya sebagai lelaki dan banyak hal lainnya yang membuat istrinya akhirnya pergi meninggalkannya. Dia menyadari hal ini. Dia selalu menikmati pemandangan sore hari dengan beragam orang lalu lalang di hadapannya. Hal ini akan membawa ingatannya kembali ke istrinya. Dia lalu berharap bahwa suatu hari nanti setelah angin membawa kerinduan ini kepada istrinya dan lalu membawanya kembali ke dalam pelukannya.</p>
<p>13.  <em> “Cerita dari Sebuah Rumah Sakit”</em></p>
<p>Seorang laki-laki tiba-tiba jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Tak pernah terbayang sebelumnya kalau dia harus merasakan kehidupan di rumah sakit. Orang-orang terdekatnya datang mengunjunginya. Rasa kesepian menderanya dan bayangan kematian senantiasa mengikutinya. Keadaan sakit ini menyebabkan dia sering merenung. Dia lalu menyadari bahwa manusia itu terlalu disibukkan oleh dunianya masing-masing. Tanpa disadari, hal ini mengakibatkan manusia kehilangan kebebasannya.</p>
<p>14.  <em> “Di Kebun Jepun”</em></p>
<p>Kebun Jepun menjadi saksi bisu bagi berbagai percakapan dan perdebatan dari berbagai macam pasangan yang datang ke sana silih berganti untuk memadu kasih mereka.</p>
<p>15.  <em> “Kota Hujan”</em></p>
<p>Jack dan Fred adalah mantan narapidana yang ingin mengunjungi sesama mantan narapidana yang sekarang menjadi orang kaya di kota kecil ini bernama Sorta. Sorta adalah kepala sindikat perdagangan perempuan-perempuan ke luar negeri. Jack adalah pemimpin mereka ketika mereka masih dipenjara. Jack dan Fred dipenjara karena merampok, sedangkan Sorta dipenjara karena membunuh istrinya yang cantik dan manja setelah dia memergoki perempuan itu bercinta dengan pemuda lainnya. Tidak seperti Fred yang lemah dan penurut, Sorta adalah anak buah Jack yang paling muda dan sadis namun cerdas dan bernaluri tajam, tapi tidak setia. Sorta pernah bercinta dengan kekasihnya dan bahkan berencana untuk membunuh Jack namun gagal. Jack dan Fred harus menginap selama hampir sebulan di terminal sebelum Fred akhirnya melihat sosok bayangan yang pernah ia kenal dan saat ini sedang dicarinya. Akhirnya mereka bertemu Sorta di rumah seorang pengusaha yang baru saja dibunuh Sorta. Mayatnya masih di situ. Sorta melepas senyumnya kepada mereka dan dengan cepat menghilang di telan malam meninggalkan mereka berdua menyambut kedatangan para polisi yang datang dengan tiba-tiba.</p>
<p>16.  <em> “Lagu Cinta untuk Tuhan”</em></p>
<p>Rendi adalah seorang laki-laki banci yang dibuang oleh keluarganya dan masyarakat sekitarnya. Sejak kecil ia memang merasakan keanehan pada dirinya dibanding saudara-saudaranya. Tidak hanya itu, ia sering dihukum ayahnya karena keanehannya. Ia sering dilanda kebingungan, kesepian an kesendirian. Oleh karena itu, ia sering membaca buku tentang psikologi dan berkonsultasi dengan psikolog untuk mencari tahu kenapa hanya dia yang punya keanehan itu. Dia tak pernah menginginkannya dan sering menyalahkan Tuhan atas takdir-Nya itu. Sebagai curahan hatinya, ia sering menulis surat-surat untuk orang-orang dekat yang amat dicintainya. Ia tumpahkan kerinduannya dan keinginannya untuk kembali berkumpul bersama mereka untuk menghabiskan sisa hidupnya. Tak jarang surat-surat itu hanya ia simpan seperti ia menyimpan segala perasaannya. Yang paling ia inginkan adalah mengirimkan suatu surat yang telah ia tulis kepada Tuhan karena nampaknya Ialah yang paling memahami dirinya.</p>
<p>17.  <em> “Malam Kembang”</em></p>
<p>Munawir adalah  seorang pembunuh bayaran dan telah lama menjalani pekerjaan ini. Kekerasan hidup yang ia alami sejak kecil selama menjadi anak jalanan telah menempanya menjadi pembunuh bayaran yang handal. Tak ada yang tahu apa sebenarnya pekerjaaannya itu. Sebelum menjalani pekerjaan ini, dia pernah diberi pelatihan oleh sebuah LSM yang memang membantu para anak-aak dan orang-orang jalanan dan memberi ketrampilan-ketrampilan yang bermanfaat untuk kelangsungan kehidupan mereka, namun ia kembali ke dunia jalanan karena lebih “menjanjikan”. Kali ini dia mendapat pesanan dari seseorang untuk membunuh tokoh wanita LSM tersebut karena sering “vocal” menyuarakan ketidakadilan walikota yang lebih mementingkan para pemilik modal dibandingkan rakyat kecil. Wanita tersebut adalah wanita yang baik hati padanya. Orang kedua yang paling baik baginya setelah neneknya yang membesarkannya meskipun bukan neneknya yang sebenarnya, Ia adalah orang yang berusia lanjut ketika memungutnya di tepi jalan karena dibuang setelah dilahirkan. Berat baginya utuk melakukan pekerjaannya kali ini karena dia tidak pernh berniat untuk membunuh wanita itu. Ia menjadi pucat dan lemas ketika tiba-tiba berita di TV menayangkan tewasnya wanita itu karena dibunuh.</p>
<p>18.  <em> “Perempuan yang Ditelan Hujan”</em></p>
<p>Seorang laki-laki datag kembali ke kota dimana beberapa waktu yang lalu pernah dikunjunginya. Yang membawanya datang kembali ke kota ini adalah kenangan yang tak terlupakan dan sangat menyiksa dirinya. Dia selalu terkenang pada pertemuannya dengan seorang perempuan cantik secara tidak sengaja ketika perempuan itu sedang menangis meraung-raung di tepi jalan  karena ditinggal kekasihnya yang telah memiliki perempuan lain pada saat hujan turun.</p>
<p>19.  <em> “Petang di Taman” </em></p>
<p>Seorang perempuan pergi ke taman pinggiran kota yang sejuk dan rindang atas saran kawannya untuk menghibur dirinya atau mengusir kesepiannya sejak ditinggal suaminya. Mereka belum dikaruniai anak meskipun mereka sudah lama menikah. Tiba-tiba datang seorang perempuan hamil datang kepadanya dan mengatakan kepada dirinya bahwa ia adalah pacar suaminya dan meminta seluruh harta suaminya. Di taman itu dia berharap menapat teman bicara. Di sana ia bertemu dengan seorang laki-laki berkursi roda. Perempuan iu berbohong dengan mengatakan bahwa suaminya juga berkursi roda dan malu bertemu orang lain. Sementara itu, laki-laki itu mengatakan bahwa istrinya sedang istirahat di rumah. Perempuan itu kemudian mengetahui bahwa ternyata laki-laki itu berbohong seperti dirinya. Istrinya sebenarnya seorang peragawati yang cantik dan setia, namun wanita karir yang mencampakkan dirinya karena kecacatannya itu.</p>
<p>20.  <em>“Tersesat di Pasar Malam”</em></p>
<p>Seorang laki-laki mengunjungi pasar malam. Dia merasakan keanehan-keanehan. Dia lalu menelusuri hampir setiap sudut pasar malam itu untuk mencari tahu apa sebenarnya kecurigaannya itu. Seorang ibu penjaga warung memberitahunya bahwa pasar malam ini adalah pasar malam yang ajaib. Ketika ia menyadarinya, ia ingin pulang saja. Tiba-tiba ia tersadar dari lamunannya.</p>
<p><strong>B. </strong><strong>Tentang Pengarang</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Aris Kurniawan, lahir di Cirebon, 24 Agustus 1976. Menulis sajak dan cerpen untuk <em>Horison, Republika, Media Indonesia, Suara Pembaharuan, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, </em>dan sebagainya<em>. </em>Karya-karyanya juga terdapat dalam antologi kolektif, antara lain <em>Tamansari </em>(Festival Kesenian Yogyakarta, 1998), <em>Resonansi Indonesia </em>(KSI, 2000), <em>Sajadah Kata </em>(Syamil, 2002), <em>Bisikan Kata Teriakan Kota </em>(DKJ-Bentang, 2003). Aktivitasnya terakhir sebagai Kurator Komunitas Kebon Nanas.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dyahrochmawati08.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dyahrochmawati08.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dyahrochmawati08.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dyahrochmawati08.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dyahrochmawati08.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dyahrochmawati08.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dyahrochmawati08.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dyahrochmawati08.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dyahrochmawati08.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dyahrochmawati08.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dyahrochmawati08.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dyahrochmawati08.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dyahrochmawati08.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dyahrochmawati08.wordpress.com/178/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahrochmawati08.wordpress.com&amp;blog=5650448&amp;post=178&amp;subd=dyahrochmawati08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/05/04/realita-kehidupan-sosial-dalam-%e2%80%9dlagu-cinta-untuk-tuhan%e2%80%9d-kumpulan-cerpen-karya-aris-kurniawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ee1d0c49ecd63275bd9efb1ebb8fabc?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">dyahrochmawati08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>THE ENGLISH LANGUAGE VARIATIONS AND VARIETIES  IN READER’S DIGEST</title>
		<link>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/03/31/the-english-language-variations-and-varieties-in-reader%e2%80%99s-digest/</link>
		<comments>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/03/31/the-english-language-variations-and-varieties-in-reader%e2%80%99s-digest/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 05:57:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyah rochmawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dyahrochmawati08.wordpress.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[A. Introduction Man is constantly using language- spoken, written, and printed language. Every time we investigate a language, it is variable and in a state of change (Milroy and Milroy, 2007: 52; Fishman, 1976: 45). This reflects in the language we use in everyday living. We will find out that it remarkably varies since an [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahrochmawati08.wordpress.com&amp;blog=5650448&amp;post=173&amp;subd=dyahrochmawati08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A. </strong><strong>Introduction</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Man is constantly using language- spoken, written, and printed language. Every time we investigate a language, it is variable and in a state of change (Milroy and Milroy, 2007: 52; Fishman, 1976: 45). <span id="more-173"></span>This reflects in the language we use in everyday living. We will find out that it remarkably varies since an individual can use language in variety of ways and for many different purposes (Goodenough, 1981: 1; Wardhaugh, 1986: 5, 7; Downes, 1998: 1). It changes in different ways in a wide variety of places and times. Moreover, it varies according to the setting of its use (Wallwork, 1978: 23; Bright, 2007: 81). The variation covers a number of structural levels- in phonology, morphology, and syntax in particular (Milroy and Milroy, 2007: 48). Moreover, the variation may also include the semantic and symbolic levels (Goodenough, 1981: 5).</p>
<p>What is done by the speaker or the language use is a form of social behavior or phenomenon (Downes, 1998: iii).  It may imply a choice of a particular form of social behavior. This choice may be influenced by personal, social, and cultural factors. (Wallwork, 1978: 27).  Thus we change our way of speaking depending on whom we are talking, where we are talking, and on what topic we are talking. Such changes are common and commonly recognized. This may occur in written or printed language as well. A well-known source for useful printed material to investigate the change(s) is any popular magazine such as <em>Reader&#8217;s Digest.</em> This magazine has the largest circulation since it is published in 50 editions in 21 languages. <em>Reader&#8217;s Digest</em> is a general interest, family-oriented publication known for positive, conservative and pro-American views. Its circulation reaches 85 million readers every month including 44 million in the United States.</p>
<p>Turning to more recent innovations in the Teaching of English as a Second Language (TESL) and Teaching English as a Foreign Language (TEFL), the communicative approach sees language learning as a process of developing a capability to operate in situations of language use. The aim is to replicate actual social uses of language and make students aware of the processes where by meanings are generated and understood. In addition, the instructional materials should be tailored to suit the age, interests, social class, financial means, lifestyle, and aspirations of the group of learners. Moreover, the cultural constraints imposed by the society and the context in which the course will be taught must be fully taken into account. In addition, the instructional materials should be tailored to suit the age, interests, social class, financial means, lifestyle, and aspirations of the group of learners. Moreover, the cultural constraints imposed by the society and the context in which the course will be taught must be fully taken into account (Murdoch, 1989: 15).</p>
<p>By doing so, we can create courses of optimum interest, appropriacy, and relevance. A versatile source of printed material for those sorts of texts is the <em>Reader&#8217;s Digest </em>magazine. The texts can be used to illustrate structures, inspire discussions and dialogues, or for straightforward description. This can produce a further creativity for classroom exploitation. Besides that, in relation to the issues of the English language variation and varieties, this magazine offers the English language use in a wide variety of contexts written by various writers. To make the students aware of the diverse varieties of English will help them broaden their knowledge of the language, and they will be better equipped to deal with those varieties (Takagaki, 2005: 5).</p>
<p>This paper aims at exploring to some extent the range and depth of variation that exists in the English language in terms of some linguistic dimensions in which the variation is observed in the articles of <em>Reader&#8217;s Digest </em>magazine of the 2008- present Asian editions of the English Language version. In addition, the paper addresses the pedagogical implications of the observed variation in the teaching of English language. To be more specific, the paper addresses the following problems:</p>
<p>Ø                  What variation/varieties of the English language found in <em>Reader&#8217;s Digest?</em></p>
<p>Ø                  What are the pedagogical implications of the observed variation/varieties in the teaching of the English language?</p>
<p>The scope of the study is the analysis of the English variation and varieties. The analysis of the variation/varieties limits itself on the three linguistic levels: phonological, grammatical, and lexical. Additionally, the source of data is the articles of <em>Reader&#8217;s Digest </em>magazine of the 2008- present Asian editions of the English Language version. The study also employs the definition of the following key terms:</p>
<p>Ø      A variation is differences in &#8216;ways of speaking&#8217; a language in the levels of phonological, grammatical, and lexical systems.</p>
<p>Ø      A variety of language is a set of linguistic items with similar distribution, presumably a geographical area or a social group (Hudson in Wardhaugh, 1986: 22).</p>
<p><strong>B. </strong><strong>The Theoretical Framework</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>To start with this discussion, we take a look at some definitions of language variation and varieties. Hudson in Wardhaugh (1986: 22) defines a variety of language as a set of linguistic items with similar distribution, presumably a geographical area or a social group. We thus recognize many different ways of speaking the same language. In other words, we find speakers with different dialects or accents.</p>
<p>A variety can be something greater than a single language as well as something less that what traditionally referred to a dialect. The following is some examples of varieties: English, London English, the English of football commentaries, Standard English, lower-class New York City speech, Oxford English, and so forth. Another definition of a language is a body of standards of speech behavior. The standards comprise of several systems or levels of organization: The phonological, the morphological, the syntactic, semantic, and symbolic (Goodenough, 1981: 4). The language variation may take place simultaneously on all three linguistic levels: phonologically, grammatically, and in terms of its vocabulary or lexically (Bright and Ramanujan, 1972: 157; Downes, 1998: 17).  The present study follows the latter classification.</p>
<p>As Saussure (1967:45) suggested that language is first and foremost most a spoken system while writing is a secondary one, the study of language variation and change starts with performance data and thus employs methodological instruments appropriate to the study of spoken records. There are areas of study, however, for which the spoken records are not readily available it is usually in such instances that variation and change has to be investigated on the basis of written documents only (Schneider, 2007: 67). This case occurs in the present study. The study, therefore, investigates the English language variation and varieties in the largest-circulated magazine, <em>Reader&#8217;s Digest </em>since there are available for the writer during the study.  The following part extends the discussion of the English language variation and varieties found in <em>Reader&#8217;s Digest </em>in the above-mentioned linguistic levels: phonological, morphological, syntactical, and semantic/lexical levels:</p>
<p><strong>1. </strong><strong>The Phonological Level</strong></p>
<p>The phonological system includes standards for discriminating the differences in sound, intonation, and stress that are consistently associated with differences in meaning. This system involves a set of discriminations by which speakers perceive what for that language is meaningful distinctions in sound. (Goodenough, 1981: 6). The English language variation may take place in the phonological level. For instance, the working class Londoners (Cockney) pronounce &#8216;with&#8217; as /wiv/ whereas the middle-class Londoners pronounce it as /wiđ/ (Wallwork, 1978: 32-33). The following is some more examples of the variation or varieties in this level:</p>
<p>Ø      butter, budder, bu&#8217;er</p>
<p>Ø      fishing, fishin&#8217;</p>
<p>Ø      farm, fahm</p>
<p>Ø      width pronounced like wit or with</p>
<p>Ø      Cuba pronounced as Cuber</p>
<p>Ø      ate pronounced like eight or et</p>
<p>Ø      been pronounced like bean or bin, etc. (Wardhaugh, 1986: 23)</p>
<p><strong>2. </strong><strong>The Morphological Level</strong></p>
<p>The morphological system is built up from combinations of a language&#8217;s phonemes are the minimal units. These units carry specific meanings in that language called morphs. This system comprises the various principles by which morphs are combined to form words (Goodenough, 1981: 6). The following is some examples of the variation or varieties in this level:</p>
<p>Ø      ice tea for iced tea</p>
<p>Ø      smoke fish for smoked fish</p>
<p>Ø      can drink for canned drink, etc. (Bright, 2007: 82).</p>
<p><strong>3. </strong><strong>The Syntactic Level</strong></p>
<p>The syntactic system comprises its principles of syntax, the principles by which words are ordered into clauses and sentences. There are various functional categories (part of speech) into which words and phrases sort themselves. There are principles governing their sequential arrangements (Goodenough, 1981: 9), for instance, &#8216;I don&#8217;t have any.&#8217;, or &#8216;I haven&#8217;t any.&#8217;, or &#8216;I ain&#8217;t got none.&#8217; The following illustrates some more examples of the variation or varieties in this level found in the American Negro English or &#8216;Black English&#8217;:</p>
<p>Ø      &#8216;Jim he was fakin it and makin it.&#8217;</p>
<p>Ø      &#8216;Laying in the cut till I&#8217;m hipped.&#8217;</p>
<p>Ø      &#8216;Man that dude was really stroking.&#8217; (Wallwork, 1978: 65)</p>
<p>Ø      &#8216;He ain&#8217;t got none.&#8217; (Wardhaugh, 1986: 52)</p>
<p><strong>4. </strong><strong>The Semantic or Lexical Level</strong></p>
<p>The semantic system has to do with the standards by which people select particular words and expressions to convey particular meanings (Goodenough, 1981: 9). The following is some examples of the variation and varieties in the semantic level:</p>
<p>Ø      elevator &#8211; lift</p>
<p>Ø      petrol &#8211; gas</p>
<p>Ø      carousel &#8211; roundabout (Wardhaugh, 1986: 42)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>C. </strong><strong>The English Language Variation and Varieties in <em>Reader&#8217;s Digest</em></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>This section presents the findings of the study. They address the English language variation and varieties found in the articles of the <em>Reader&#8217;s Digest </em>magazine. The diversity covers all linguistic levels: phonological, grammatical, and lexical. The grammatical levels consist of the morphological and syntactical levels. The following table summarizes the findings:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="129" valign="top">
<p align="center"><strong>Linguistic </strong></p>
<p align="center"><strong>Levels</strong></p>
</td>
<td width="308" valign="top">
<p align="center"><strong>The English Variation/Varieties</strong></p>
</td>
<td width="132" valign="top">
<p align="center"><strong>Sources</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="129" valign="top">Phonological</td>
<td width="308" valign="top">Ø         &#8216;organisation&#8217; for &#8216;organization&#8217; (p. 5)</p>
<p>Ø         &#8216;reali<span style="text-decoration:underline;">s</span>ed&#8217; for &#8216;realized&#8217; (p. 30)</p>
<p>Ø         &#8216;organi<span style="text-decoration:underline;">s</span>ation&#8217; for &#8216;organization&#8217; (p.46)</p>
<p>Ø         &#8216;organi<span style="text-decoration:underline;">s</span>ed&#8217; for &#8216;organized&#8217; (p. 51)</p>
<p>Ø         &#8216;customised&#8217; for &#8216;customized&#8217; (p.72)</td>
<td width="132" valign="top">April-2008 edition</p>
<p>January-2009 edition</td>
</tr>
<tr>
<td width="129" valign="top">Grammatical</td>
<td width="308" valign="top">Ø       Is the <em>XXL-ing</em> of America..   (p.46)</p>
<p>Ø       Who <em>Ya Callin&#8217;</em> Baby? (p. 23)</p>
<p>Ø       <em>Comin</em> straight <em>outta</em> <em>crib</em>-town!   (p.23)</p>
<p>Ø       One Foundation <em>is hoping</em> to act as an &#8220;<em>enabler</em>&#8221;   &#8230; (p.46)</p>
<p>Ø       &#8220;<em>damned</em> if you do, <em>damned</em> if you don&#8217;t&#8221; (p.   16)</p>
<p>Ø       <em>Want </em>to   hear? (p. 57)</td>
<td width="132" valign="top">April-2008 edition</p>
<p>January-2009 edition</td>
</tr>
<tr>
<td width="129" valign="top">Lexical</td>
<td width="308" valign="top">Ø       &#8216;<em>Bishawa   Ijtema</em>&#8216; (= a religious pilgrimace)</p>
<p>Ø       Is the <em>XXL-ing</em> of America..   (p.46)</p>
<p>Ø       <em>&#8216;Zamboni&#8217;</em> (= ice resurfacer) (p. 23)</p>
<p>Ø       <em>&#8216;Gangsta&#8217;</em> Babies (p.23)</p>
<p>Ø       Pookie and his &#8216;<em>homies&#8217;</em> Benjino, &#8216;<em>Rey   Rey&#8217;</em> and Big Deuce</p>
<p>Ø       She signed it<em> &#8220;smoochykins&#8221; </em>(p. 26)</p>
<p>Ø       This<em> dhobi ghat (= washing place in Hindi) </em>(p. 32)</p>
<p>Ø       This<em> dhobi-wallah (= washerman)</em> (p. 32)</p>
<p>Ø       <em>&#8220;</em>Don&#8217;t shoot<em>! Bueno hombrey! </em>Good   guy<em>!&#8221;</em> (p. 53)</p>
<p>Ø       Want   to hear what this <em>jerk</em> just did? (p.57)</td>
<td width="132" valign="top">April-2008 edition</p>
<p>January-2009 edition</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Fig.1. the English language variation and varieties in <em>Reader&#8217;s Digest</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>The findings reveal that the variation and varieties covers the three linguistic levels: phonological, grammatical, and lexical. This ranges from Standard English to Non-standard English. In the phonological level, we find out a phonological variation, the /z/ sound is converted into the /s/ sound, such as &#8221;<em>reali<span style="text-decoration:underline;">s</span>ed</em>&#8216; for &#8216;realized&#8217;, &#8216;<em>organi<span style="text-decoration:underline;">s</span>ation</em>&#8216; for &#8216;organization&#8217;, <em>&#8216;organi<span style="text-decoration:underline;">s</span>ed</em>&#8216; for &#8216;organized&#8217;, and &#8216;<em>customised</em>&#8216; for &#8216;customized&#8217;.</p>
<p>Whereas in the grammatical level we discover that there some grammatical variations the speakers of Black English usually employ, such as &#8216;Who <em>Ya Callin&#8217;</em> Baby?&#8217;, and &#8216;<em>Comin</em> straight <em>outta</em> <em>crib</em>-town!&#8217; The expression of a curse is found as well, for instance, &#8216;&#8230;<em>damned</em> if you do, and <em>damned</em> if you don&#8217;t!&#8217; Also, we find out the simplification or reduction of a yes/no question, such as &#8216;<em>Want</em> to hear what the jerk just did?&#8217; In addition, there is a grammatical variation dealing with the formation of a noun, such as &#8216;<em>XXL-ing</em>&#8216;.</p>
<p>In the lexical level, we discover some lexical variations. One variation shows that there are some vocabulary borrowed from Hindi, such as &#8216;Bishawa ijtema&#8217; which means &#8216;a religious pilgrimace&#8217;, &#8216;<em>dhobi ghat&#8217; </em>which means<em> &#8216;</em>washing place in Hindi<em>&#8216;</em> and <em>&#8216;dhobi-wallah&#8217; </em>which means<em> </em>&#8216;washerman&#8217;. The other words are from non-English language, such as &#8216;<em>zamboni</em>&#8216; which means &#8216;ice resurfacer&#8217;, and &#8216;<em>bueno hombrey</em>&#8216;. We also discover that there are some vocabulary which speakers of Black English typically use, such as &#8216;<em>gangsta</em>&#8216; which means &#8216;gangster&#8217;. Another lexical variation is the reduplication of a proper name, such as &#8216;<em>Rey Rey</em>&#8216;.</p>
<p>To sum up, all the variations and varieties of the English language employed in the articles of <em>Reader&#8217;s Digest </em>show that Standard English can be used in a variety of ways. The existence of these different varieties is interesting. As a language changes, it may well change in different ways and in different places.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>D. </strong><strong>The Pedagogical Implications of the Variation and Varieties in the Teaching of the English Language</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>The issues of language variation and varieties fall under the area of study known as Sociolinguistics. The Sociolinguistics is important in language learning. It can broaden the students&#8217; knowledge about the target language as they will encounter the varieties of the language. Moreover, the students will be better prepared to cope with those varieties. Therefore, they will develop increased tolerance for speakers of different dialects (Takagaki, 2005: 4-5).</p>
<p>As the research findings have shown, Standard English can be manifested in a variety of ways. This may pose certain difficulties for the teaching of English in non-English speaking countries, in particular, for the teachers of English with little knowledge about the diverse varieties of English that are spoken throughout the world, and what type of variation exist in those countries. The teachers, therefore, should incorporate activities regarding language varieties, language styles, and the role of English as an international language into the classroom. As educators as well, the teachers should not simply have a good command of English but also be informed speakers of English. They thus can provide direct answers to questions which considerations of language diversity may raise by allowing a deeper appreciation of the uses to which English may be put (Preston and Shuy, 1984: 1)</p>
<p>A basic understanding of sociolinguistics is also essential for English learners who wish to take full advantage of job opportunities in the new global economy, where they will undoubtedly encounter different varieties of English. Additionally, they will have a good understanding about the role of Global English and will be aware of important issues such as multilingualism and the functions of English as an international language. This will, accordingly, familiarize them with how varieties of English are actually used in the global communities.</p>
<p><strong>E. </strong><strong>Conclusion</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Based on the previous discussion, we can draw a conclusion that, like many other languages that contain a great deal of variety, the English language used in everyday living is remarkably varied. The variation and varieties are investigated by using written or printed material, i.e., the <em>Reader&#8217;s Digest</em> magazine. It turns out that it can indeed serve as a valuable source of data in the quantitative investigation of language variation and change. We then find the diversity within the language on all levels- phonological, grammatical (consisting of morphological and syntactical), and lexical.</p>
<p>Analyzing the pedagogical implications of the English language variation and varieties employed in <em>Reader&#8217;s Digest, </em>this paper will hopefully bring about a greater understanding of the English variation and varieties to teachers whose primary interest is English language instruction. Also, it will develop their awareness of the variation and varieties will aid and promote their performance in the teaching of English. Finally, this standpoint will help the learners of English better understand the nature of the English Language and to help foster healthy attitudes toward language in general.</p>
<p>Finally, since humankind is a most unstable and variable being, language cannot be long-lasting or stable. Like other human things, such as customs and dress, it has to vary in space or time. This remains perhaps our greatest challenge to gain a profound understanding of how language is employed by human beings as long as they live their lives in the diversity of this world.</p>
<p align="center"><strong>REFERENCES</strong></p>
<p><strong></strong></p>
<p>Bright, W., and Ramanujan, A.K. 1972. Sociolinguistic Variation and Language Change. In <em>Sociolinguistics, </em>ed. J. B. Pride and Janet Holmes. Middlesex: Peguin Books Ltd.</p>
<p>Bright, William. 2007. Social Factors in Language Change. In <em>The Handbook of Sociolinguistics,</em> ed. Florian Coulmas, 81-91. Oxford: Blackwell Publishing Ltd.</p>
<p>Downes, William. 1998. <em>Language and Society: Second Edition. </em>Cambridge: Cambridge University Press.</p>
<p>Fishman, J. A. 1976. The Sociology of Language. In <em>Language and Social Context, </em>ed. Pier Paolo Giglioli, 45-58. Middlesex: Penguin Education, Penguin Books Ltd.</p>
<p>Goodenough, Ward H. 1981. <em>Culture, Language, and Society. </em>California: The Benjamin/Cummings Publishing Company.</p>
<p>Milroy, James and Milroy, Lesley. 2007. Varieties and Variation. In <em>The Handbook of Sociolinguistics,</em> ed. Florian Coulmas, 47-64. Oxford: Blackwell Publishing Ltd.</p>
<p>Murdoch, George S. 1989. A Pragmatic Basis for Course Design. In <em>English Teaching</em> Forum, Volume XVI, Number 3, p.p.15-18.</p>
<p>Preston, Dennis R., and Shuy, Roger W. (eds.). 1984. <em>Varieties of American English. </em>Washington: English Language Program Division, Bureau of Educational and Cultural Affairs, United States Information Agency.</p>
<p>Saussure, Ferdinand de. 1967. <em>Cours de linguistique generale. (Translated into English by Wade Biskin, 1974). </em>Fountana: Collins.</p>
<p>Schneider, Edgar W. 2007. Investigating Variation and Change in Written Documents. In <em>Handbook of Language Variation and Change.</em>eds. J. K. Chambers, Peter Trudgill, and Natalie Schilling-Estes. Oxford: Blackwell Publishing Ltd.<em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Takagaki, Toshiyuki. 2005. Raising Students&#8217; Awareness of the Varieties of English. In <em>English Teaching</em> Forum, Volume 43, Number 2, p.p.4-7.</p>
<p>Wardhaugh, Ronald. 1986. <em>Introduction to Sociolinguistics. </em>Oxford: Basic Blackwell Ltd.</p>
<p>Wallwork, J. F. 1978. <em>Language and People. </em>London: Heinemann Educational Books.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dyahrochmawati08.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dyahrochmawati08.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dyahrochmawati08.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dyahrochmawati08.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dyahrochmawati08.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dyahrochmawati08.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dyahrochmawati08.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dyahrochmawati08.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dyahrochmawati08.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dyahrochmawati08.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dyahrochmawati08.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dyahrochmawati08.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dyahrochmawati08.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dyahrochmawati08.wordpress.com/173/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahrochmawati08.wordpress.com&amp;blog=5650448&amp;post=173&amp;subd=dyahrochmawati08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/03/31/the-english-language-variations-and-varieties-in-reader%e2%80%99s-digest/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ee1d0c49ecd63275bd9efb1ebb8fabc?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">dyahrochmawati08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AS THE DAY BREAKS OUT</title>
		<link>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/03/09/as-the-day-breaks-out/</link>
		<comments>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/03/09/as-the-day-breaks-out/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 08:51:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyah rochmawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short Stories]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/03/09/as-the-day-breaks-out/</guid>
		<description><![CDATA[“To begin is a great exertion; many things have contributed to break and daunt my once-elastic spirits. But not in my in-dwelling, never-dying flame whatever dark fears come across me, that flame’s unabated constancy will dive away the black vapors of the brain …” (Hal Porter’s The Tilted Cross) I’ve been in my darkest nights, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahrochmawati08.wordpress.com&amp;blog=5650448&amp;post=157&amp;subd=dyahrochmawati08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“To begin is a great exertion; many things have contributed to break and daunt my once-elastic spirits. But not in my in-dwelling, never-dying flame whatever dark fears come across me, that flame’s unabated constancy will dive away the black vapors of the brain …” (Hal Porter’s The Tilted Cross)</em><span id="more-157"></span></p>
<p>I’ve been in my darkest nights, my darkest years, since I settled down here, in my own home… . I’d had a wonderful life, not it’s disappeared, in some ways that affects me! Its shadows had embodied me, though I got a crowd of bitters behind me in those days as I’d struggled from the nightmares. Then, in that world, I was wretched…<br />
Therein was a fascinating agony… I recall it. I recall that there was pain; and I can feel the pain now! I’ve taken up my time with accusations against myself… how stupid I have been … then I blame myself for it is useless to pretend I’m blameless… I wish it weren’t I who came to awkwardness, I’ve sufferings enough, past, now, and possibly in prospect… but I walk on! I shall, I hope, let the matters rest there just let it be so! Let it pass… let the years pass! What’s to come will come, what’s done is done!<br />
The night moved on, then I carefully drew the curtains and locked the doors. Yeah, the world was tired, my heart was tired, I was tired, and … not well! There was then silence, and the silence grew stronger….  Then I fell asleep and I must have slept so soundly till I heard a knock at the door … when I was too tired to have a visitor … it’s someone who’d told and promised me to come a long ago, offering me the lifelong commitment… that could possibly lead me to the hoped-for happiness??? I didn’t deny I once expected him and I felt hurt when he didn’t show up. I thought he just wanted to fool me around… I was so sure he did! Then I shortly forgot him and his offer.<br />
I do believe anything, good or bad, pleasant or unpleasant, happens in this world, was already determined by Allah… as He speaks to me and all of us, “Ask and you shall receive, seek and you shall find, knock and the door will be opened to you,”. Late on that black, noiseless night I knelt down beside my bed, knocked at His door, and solemnly prayed, “Ye Allah, please do not give me a chance of marrying someone if I don’t have any at all, That’d be perfectly fine with me. Instead, would You allow me to be of a little value for my society,”<br />
An instant later, he surprisingly came back when I stopped thinking of him or … any other guys! I welcomed him anyway, but without much enthusiasm for I’d be very cautious. This might be another misleading hope as before, awaiting proof he really meant what he came for.</p>
<p><em>“Were one responsible for every next move in life, and aware of the responsibility, there are corners one would never cross. One turns, one crosses, and accident defrauds one forever of a greater ecstacy or  greater affliction…” (Hal Porter’s The Tilted Cross)</em><br />
Yeah, I finally came to the path I am obliged to cross as it obliges anyone in this whole world- the one I’ve been escaping from all my life! Thus if the proof comes, and as the day breaks out and the sun starts shining, I shall cross it in the hope that it will lead me to a greater ecstasy! (31 October 1998)</p>
<p>To be continued…</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dyahrochmawati08.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dyahrochmawati08.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dyahrochmawati08.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dyahrochmawati08.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dyahrochmawati08.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dyahrochmawati08.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dyahrochmawati08.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dyahrochmawati08.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dyahrochmawati08.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dyahrochmawati08.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dyahrochmawati08.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dyahrochmawati08.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dyahrochmawati08.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dyahrochmawati08.wordpress.com/157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahrochmawati08.wordpress.com&amp;blog=5650448&amp;post=157&amp;subd=dyahrochmawati08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/03/09/as-the-day-breaks-out/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ee1d0c49ecd63275bd9efb1ebb8fabc?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">dyahrochmawati08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>APRESIASI DAN KRITIK SASTRA  &#8216;Bacakan Saya Satu Cerita&#8217;</title>
		<link>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/03/08/apresiasi-dan-kritik-sastra-bacakan-saya-satu-cerita/</link>
		<comments>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/03/08/apresiasi-dan-kritik-sastra-bacakan-saya-satu-cerita/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2009 03:17:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyah rochmawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dyahrochmawati08.wordpress.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Sastra boleh dibaca, dinikmati, dan diapresiasi. Kesusastraan dapat dipelajari secara umum melalui studi prinsip, kategori, dan kriteria dan disebut sebagai teori sastra atau secara khusus melalui telaah langsung karya sastra yang disebut kritik sastra dan sejarah sastra (Wellek dan Warren, 1995: 4, 38). Makalah singkat ini  mencoba untuk menelaah dan menilai  atau memberikan apresiasi dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahrochmawati08.wordpress.com&amp;blog=5650448&amp;post=153&amp;subd=dyahrochmawati08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sastra boleh dibaca, dinikmati, dan diapresiasi. Kesusastraan dapat dipelajari secara umum melalui studi prinsip, kategori, dan kriteria dan disebut sebagai teori sastra atau secara khusus melalui telaah langsung karya sastra yang disebut kritik sastra dan sejarah sastra (Wellek dan Warren, 1995: 4, 38). <span id="more-153"></span>Makalah singkat ini  mencoba untuk menelaah dan menilai  atau memberikan apresiasi dan kritik terhadap tiga petikan cerita  dari <em>Bacakan Saya Satu Cerita </em>yang disusun oleh Rafiza bt. Ab. Rahman dan Alif Firdaus Aziz (2008). Kritikus sastra yang baik selain menggunakan metode teoritis juga dapat menciptakan metodenya sendirindalam proses menulis kritik sastra, karena kritik sastra itu bersifat kreatif dan inspiratif (Darma, 2007: 110, 114).</p>
<p>Dalam sastra terungkap hakikat pandangan manusia terhadap eksistensinya, dan dalam teori sastra terungkap hakikat ideologi mengenai kemanusiaan yang dianut dalam masyarakat yang bersangkutan. Diskusi tentang masalah sastra atau karya satra sering langsung berkaitan dengan masalah eksistensi manusia dan situasi dan kondisinya dalam masyarakat serta dengan keyakinannya yang paling mendasar (Teeuw, 1984: 10). Hal ini tergambar dalam tiga petikan cerita tersebut. Cerita-cerita ini merefleksikan nilai-nilai kemanusiaan yang berlaku di dalam masyarakat serta bagaimana cara memberikan pemahaman dan menanamkan nilai-nilai tersebut kepada generasi penerusnya. Berikut ini hasil telaahnya:</p>
<p>A.     Cerita pertama karangan Kusyi Hirdan (hlm.40) mencitrakan ideologi tentang nilai kemanusiaan yang dianut masyarakatnya, yaitu penghargaan terhadap sesama makhluk Tuhan, tidak membeda-bedakannya meskipun secara fisik ukurannya sangat kecil, seperti dalam petikan berikut ini:</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Dia tidak mahu Amir masalah makhluk-makhluk lain </em>(baris ke-8)</p>
<p>Cerita ini juga menggambarkan bagaimana cara memahamkan nilai tersebut kepada anak-anak sebagaimana yang terdapat dalam kutipan berikut ini:</p>
<p><em>&#8220;Yaah, ibu,&#8221; Amir ketawa, mulai memamahami masalah yang dihadapi oleh si badak </em>(baris ke-9)</p>
<p><em> </em></p>
<p>B.     Cerita kedua karangan Kusyi Hirdan (hlm. 61) juga menggambarkan hal yang sama namun dengan nilai kemanusiaan yang berbeda, yaitu nilai keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan yang dimanifestasikan dalam peribadatan, dalam hal ini adalah ibadah shalat, seperti dalam petikan berikut ini:</p>
<p><em>&#8220;Jadi apa bezanya manusia menunaikan solat tiap hari, lima kali sehari dengan jumlah yang kita makan setiap hari itu?&#8221; </em>Comel berfikir dan akhirnya mengangguk.</p>
<p><em>Dia mulai faham kewajiban yang perlu dilakukan manusia kepada Penciptannya.</em> (baris ke-9 &#8211; 11).</p>
<p>C.     Cerita ketiga karangan Sophia Qistina (hlm. 76) merefleksikan nilai kemasyarakatan dan juga, yaitu kegunaan internet dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana yang terdapat dalam petikan berikut ini:</p>
<p><em>&#8220;Tidak sia-sia ayah melanggan internet! Sekarang kita semua kena praktikcara tidur betul, okey?&#8221; Kata-kata disambut ketawa seluruh ahli keluarganya</em> (baris ke-9-10).</p>
<p>Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ketiga cerita di atas menggambarkan bagaimana nilai-nilai kemasyarakatan dan kemanusiaan yang berlaku ditanamkan pada generasi muda. Cara-cara yang dilakukan adalah secara tidak langsung, yaitu dengan perumpamaan (Cerita I dan II) dan belajar untuk menemukan sendiri (<em>discovery learning).</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>LAMPIRAN:</p>
<p align="center">SOAL</p>
<p align="center">
<p>Tiga petikan cerita di bawah ini dikutip dari<em> Bacakan Saya Satu Cerita </em>yang disusun oleh Rafiza bt. Ab. Rahman &amp; Alif Firdaus Aziz terbitan 2008 (cetakan kedua) dari PTS ONE Snd. Bhd. Selangor. Cermati dan buatlah apresiasi/kritik: pertama, bagi masing-masing kutipan, dan kedua, simpulan apa yang dapat Anda munculkan dari ketiga-tiganya?</p>
<p>1.                              &#8220;Amir pernah lihat badak sumbu di zoo. Badak asyik berkubang saja, ibu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Mestilah. Dia berkubang ataupun mandi Lumpur bagi menyejukkan badannya. Juga menghindari gigitan serangga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Badan sahaja besar, tapi takutkan serangga!&#8221; Amir hairan dengan ukuran badan yang begitu besar, badak tetap takutkan serangga yang sangat kecil.</p>
<p>&#8220;Badak pun seperti manusia juga, runsingkan nyamuk dan lalat. Sekiranya nyamuk dan lalat kerumun atas kepala kamu, kamu runsing, bukan?&#8221; Ibu Amir menduga anaknya. Dia tidak mahu Amir memperkecilkan masalah makhluk-makhluk lain.</p>
<p>&#8220;Yalah, ibu,&#8221; Amir ketawa, mulai memahami masalah yang dihadapi oleh si badak.</p>
<p>(Kusyi Hirdan, halaman 40)</p>
<p>2.                  &#8220;Comel, bagaimana kamu boleh kata solat itu menyusahkan sedangkan kamu juga makan setiap hari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tetapi ibu, itu berbeza!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak ada bezanya. Dalam sehari kamu makan lima ataupun enam kali. Perkara itu berulang setiap hari pula?&#8221; Comel terdiam mendengar perbandingan yang dibuat ibunya. &#8220;Apa kata sekiranya Comel makan seminggu sekali ataupun sebulan sekali?&#8221; Tanya ibunya lagi.</p>
<p>&#8220;Nanti saya laparlah, ibu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi apa bezanya manusia menunaikan solat setiap hari, lima kali sehari dengan jumlah yang kita makan setia hari itu?&#8221; Comel berfikir dan akhinya mengangguk. Dia mulai faham kewajipan yang perlu dilakukan manusia kepada PenciptaNya.</p>
<p>(Kusyi Hirdan, halaman 61)</p>
<p>3.                              &#8220;Mana kakak tahu berkenaan semua ini?&#8221; ujar Hilmi pula.</p>
<p>&#8220;Kakak layari internet,&#8221; jawab Liyana ringkas.</p>
<p>&#8220;Tadi Liyana terangkan cara-cara yang tidak betul. Sekarang cuba beritahu cara tidur yang betul pula,&#8221; kata mama pula.</p>
<p>Sebenarnya kita patut tidur mengiring ke kanan. Tidur mengiring dapat merehatkan otot-otot badan. Apabila otot semua sudah relaks, kita dapat berehat secukupnya bagi menghilangkan kepenetan. Jangan pula mengiring ke kiri, sebab nanti jantung pula mendapat tekanan dan seterusnya menganggu peredaran darah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak sia-sia ayah melanggan internet! Sekarang kita semua kena praktik cara tidur betul, okey?&#8221; Kata-kata ayah disambut ketawa seluruh ahli keluarganya.</p>
<p>(Sophia Qistina, halaman 76)</p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dyahrochmawati08.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dyahrochmawati08.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dyahrochmawati08.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dyahrochmawati08.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dyahrochmawati08.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dyahrochmawati08.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dyahrochmawati08.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dyahrochmawati08.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dyahrochmawati08.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dyahrochmawati08.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dyahrochmawati08.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dyahrochmawati08.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dyahrochmawati08.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dyahrochmawati08.wordpress.com/153/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahrochmawati08.wordpress.com&amp;blog=5650448&amp;post=153&amp;subd=dyahrochmawati08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/03/08/apresiasi-dan-kritik-sastra-bacakan-saya-satu-cerita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ee1d0c49ecd63275bd9efb1ebb8fabc?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">dyahrochmawati08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Collection of English Poems: The Story Book</title>
		<link>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/03/05/poems-storybook/</link>
		<comments>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/03/05/poems-storybook/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 02:16:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyah rochmawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poems]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/03/05/poems-storybook/</guid>
		<description><![CDATA[BLINDNESS Before the hour of sunset, I sailed through the air of mind; As the close of day suffused the images in a dramatic darkly rose-gold light; It was sometimes a joy to behold and better wait awhile; for you are my ray of sunshine day after day, year after year, lasting a lifetime. Fanned [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahrochmawati08.wordpress.com&amp;blog=5650448&amp;post=144&amp;subd=dyahrochmawati08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff9900;">BLINDNESS</span></p>
<p>Before the hour of sunset, I sailed through the air of mind;<br />
As the close of day suffused the images in a dramatic darkly rose-gold light;<br />
It was sometimes a joy to behold and better wait awhile;<br />
for you are my ray of sunshine day after day, year after year, lasting a lifetime.<br />
<span id="more-144"></span></p>
<p>Fanned by the off-shore breath of wind that came with the last light,<br />
The dream stood out a mile and brought somewhere back along the line;<br />
It was God&#8217;s will for you in this life,<br />
come come no crying, it&#8217;ll all come right.<br />
Somewhere in the world, a miracle is happening, only we&#8217;re so blind.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff9900;">THE SMALL FIGURE<br />
IN THE CRADLE</span></p>
<p style="text-align:left;">He cried far into the night,<br />
unasked and unnoticed,<br />
storming all night long untraced,<br />
but would never tire of his plight.</p>
<p>His screams subsided into sobs,<br />
as the silence still lengthened,<br />
his bleak future never enlightened<br />
nor did it make the disrepair stopped.
</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff9900;">BENIGHTED</span></p>
<p>Sailing along the sea of blur,<br />
hope I can grab a falling star.<br />
Wishing upon the daylight to occur,<br />
You can never be this much far.</p>
<p>Surging me along like a torture,<br />
Flying high up, all frozen we are.<br />
The waves poured through, we shuddered,<br />
Only the heartbeats have kept us warm.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff9900;">A DEAD END</span></p>
<p>O Knight, we&#8217;ve been playing a toneless song,<br />
waiting for another but too long.<br />
We&#8217;ve been drifting along through a waveless sea,<br />
no strong wind to drag the vessel to flee.</p>
<p>Here we are standing before our flowerless garden,<br />
awaiting to grow to unload all these burdens.<br />
This springless season has dampened us both,<br />
declining and decaying our solemn oath.</p>
<p>Here we are lying under this moonless night,<br />
wishing any star to cease the fight,<br />
unwrapping our diamond to let it shine,<br />
to bring round its dim to get us to devine.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff9900;">AT THE GRAVEYARD</span></p>
<p>Through empty rooms,<br />
One&#8217;s soul wanders inside,<br />
mournfully shivers un damp and darkness,<br />
is hungry and no one brings it food,<br />
is cold and no one lights a fire,<br />
is tired and there isn&#8217;t a chair to sit on.</p>
<p>Some are walking with glorious spirits,<br />
have been fed on with honey-dew,<br />
and drunk the milk of Paradise,<br />
words of praise, rivers of private prayers,<br />
thanking God for having let them live and sing,<br />
for hearing the music of heaven,<br />
as the gift of their best,<br />
of their shares of divinity,<br />
just like coming home cheered and strengthened</p>
<p>The pitiful souls doomed to eternal solitude<br />
to put out feelers in the dark,<br />
to get to close to each other,<br />
to touch to each other,<br />
to try to make each other warm.<br />
Yet all is to be bound to end in smoke and nothingness.<br />
What is there, but pain in the end.<br />
As the light is subdued to a mysterious gray green,<br />
The world is quieted into a listening silence,<br />
If only one knew what came next.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff9900;">DECEIVED</span></p>
<p>In the pre-dawn light, rays shaft down,<br />
spreading, turned the sea to gold.<br />
A chilled hatred settled in my bones,<br />
came and went in waves round and round.</p>
<p>On a odd wonderland, I&#8217;d been miserably jerked,<br />
Sobbed, cried, shouted, moaned and whimpered,<br />
Fueled by anger of unreachable oneness,<br />
like a moon caught in a net of stars hopeless.</p>
<p>I&#8217;d been rooted, nested, and chained to you;<br />
All I&#8217;d ever wanted was you and alone you.<br />
The serenades ‘d then be sung to tempt you<br />
down from the sky and be solemnly fused, too.</p>
<p>Untie me from fantasies escaping from the sun;<br />
Release me from what we&#8217;ll never be done.<br />
I loathed having all this and wished to run<br />
Away from what we both shared but never won.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff9900;">IN THE CONCERT HALL</span></p>
<p>The opening-night performance,<br />
there on stage,<br />
rocked the flesh, blood, bone,<br />
and solitary souls,<br />
into the midst of the battle<br />
around that raged.<br />
Slowly it gripped, subsided,<br />
And silenced the dying owls.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff9900;">THE SNOWSTORM</span></p>
<p>Through this chilly sleeve of water<br />
I whispered your name<br />
wanting you at all near<br />
to keep these emotions in flame</p>
<p>The snowstorm struck with fury,<br />
crossing the water&#8217; d make me crazy;<br />
nothing to find, but your shelter,<br />
to wipe away these tears, my dear.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff9900;">A CHILDHOOD MEMORY</span></p>
<p>The big waves were pounding in<br />
from a vast and moody sea;<br />
silhouetted by the sunset&#8217;s waning glow.<br />
Knee-deep I am now standin&#8217;<br />
can no longer see the water flow<br />
Yet a pair of dark-brown eyes are boring into me.</p>
<p>Yeah, we were once here<br />
fulfilling a childhood dream<br />
in that magical year;<br />
when the days never ended, it seemed.<br />
That is above us right now<br />
filling and darkening the cloud.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff9900;">DEBRIS</span></p>
<p>The butterfly&#8217;s wings are cracking at last,<br />
as the fall is falling and it must.<br />
The wings&#8217; colors are wearing out,<br />
as the nectars are hardly found.</p>
<p>The wings began to stop flapping,<br />
as the dazzling dews are vanishing.<br />
The leaves are turning yellow and brown,<br />
and the soft wind is blowing them down.</p>
<p>The sky is getting darker and darker;<br />
that stops me from going any farther.<br />
All the rose petals are finally tearing apart<br />
awaiting the daybreak for a brand new start.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff9900;">THE PAST</span></p>
<p>The rain was so loudly crashing and drumming,<br />
with a voice like a waterfall, it&#8217;s pouring;<br />
a blur of face in my adolescent memory appeared,<br />
with the crown of the past fun and fear;<br />
all as before, as once upon a time,<br />
as his voice was drifting on the wind.</p>
<p>The rain ceaselessly rustled and chattered,<br />
with soft tiny drops of crystal water;<br />
He&#8217;d invented a whole new life for me,<br />
as the daylight was breaking rapidly.</p>
<p>All now rendered in silence and solemnity,<br />
ablaze with the morning sun and the blue sky;<br />
I just came out of the maze in<br />
which I had for so long wandered.</p>
<p>The beauty of the world gleamed and glittered;<br />
it walked in joy and in glory;<br />
I wanted from you nothing,<br />
for my life was rich within.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff9900;">ANCHORED</span></p>
<p>Every evening, as the darkness falls,<br />
you are swiftly standing and tall,<br />
like a sudden rose in bloom<br />
setting in silence all the gloom.</p>
<p>Watching the sunset burn out to flame,<br />
feel like I&#8217;ve been anchored to your game.<br />
For all the costs I start to blame<br />
on what you did and what I became<br />
on what you&#8217;re doing here and why you ever came.<br />
This is all nothing, but a veritably great shame.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff9900;">THE STORYBOOK</span></p>
<p>The storybook is finally closed,<br />
and yet, the melody echoes<br />
through the fragrance of the rose<br />
to where the summer breeze blows.</p>
<p>The storybook is finally bound,<br />
with a pointless line squall<br />
burying the shadows, not to fall.<br />
And yet the end is never found.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dyahrochmawati08.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dyahrochmawati08.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dyahrochmawati08.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dyahrochmawati08.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dyahrochmawati08.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dyahrochmawati08.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dyahrochmawati08.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dyahrochmawati08.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dyahrochmawati08.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dyahrochmawati08.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dyahrochmawati08.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dyahrochmawati08.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dyahrochmawati08.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dyahrochmawati08.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahrochmawati08.wordpress.com&amp;blog=5650448&amp;post=144&amp;subd=dyahrochmawati08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009/03/05/poems-storybook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ee1d0c49ecd63275bd9efb1ebb8fabc?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">dyahrochmawati08</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
