TAHAPAN AWAL ANALISA DATA DALAM PENELITIAN KUALITATIF

A. PENDAHULUAN

Penelitian kualitatif merupakan suatu kegiatan (ilmiah) yang ditempuh melalui proses yang relatif panjang; menemukan rumusan masalah, menentukan rencana penelitian, melakukan tahap-tahap penelitian, baik untuk mencari data melalui studi pustaka maupun ke lapangan, sampai menyusun sistematika hasil penelitian (Bungin, 2006: 3). Dalam hubungannya dengan data penelitian, penelitian kualitatif menggunakan data kualitatif dan mengolahnya secara kualitatif, yaitu tidak menggunakan rumus-rumus statistik serta tidak melibatkan generalisasi dalam penarikan kesimpulannya (Arifin, 2008: 22-23).

Makalah ini membahas tentang metode-metode untuk analisa data kualitatif yang bermanfaat pada tahap-tahap awal suatu penelitian, bahkan pada saat pengumpulan data sedang berlangsung. Metode-metode tersebut dapat membantu pengorganisasian data untuk analisa data lebih lanjut dan lebih mendalam lagi. Manfaat lain dari analisa data pada tahap awal adalah untuk efisiensi waktu sehingga memungkinkan adanya pengambilan data baru atau menguji hipotesis apabila diperlukan untuk melengkapi data penelitian serta untuk mengoreksi kekurangan sehingga dari awal ada kesesuaian antara pengumpulan data dan analisanya (Miles dan Huberman, 1994: 50).

Makalah ini membahas empat metode dari delapan metode penganalisaan data pada tahap awal. Masing-masing metode akan disajikan dalam suatu format yang terdiri atas: (1) nama metode, (2) masalah analisa, yang berkenaan dengan masalah, kebutuhan, atau kesulitan yang dihadapi oleh analis data kualitatif, (3) penjelasan singkat, tentang metode apa dan bagaimana cara kerjanya, (4) ilustrasi, tentang bagaimana metode tersebut dikembangkan dan digunakan, (5) variasi, tentang pendekatan-pendekatan alternative yang menggunakan prinsip-prinsip umum yang sama dan hasil penelitian lainnya yang relevan, (6) saran, yang merangkum komentar-komentar tentang metode tersebut dan tips bagaiman menggunakan metode tersebut dengan baik, dan (7) waktu yang diperlukan, tentang estimasi-estimasi untuk membimbing peneliti yang bervariasi tergantung masalah, ketrampilan peneliti, masalah penelitian, jumlah kasus, dan lain-lain.

B. ASUMSI TENTANG DATA

Yang dimaksud dengan data adalah informasi yang diperoleh peneliti dalam bentuk catatan-catatan dalam tulisan tangan atau ketikan, rekaman interview atau kegiatan lainnya di tempat penelitian. Namun fokusnya adalah kata-kata sebagai bentuk dasar dari data yang ditemukan. Data kasar yang berupa catatan-catatan di lapangan maupun rekaman-rekaman dalam kaset harus diproses sebelum siap untuk dianalisa. Catatan- catatan di lapangan harus diubah atau langsung diketik atau ditulis kalau berupa rekaman suara, sehingga hasilnya lebih mudah dibaca bagi siapa saja, baik peneliti maupun orang lain, dapat diedit untuk keakuratan, diberi komentar, diberi kode, dan dianalisa dengan menggunakan metode-metode apa saja yang akan dijelaskan dalam makalah ini.

Kemudian data ini disusun dari yang paling awal sampai dengan yang paling akhir sesuai urutan dalam pengumpulan data serta dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling kompleks. Dimulai dari lembaran rangkuman kontak (contact summary sheet), suatu cara yang sederhana untuk merangkum suatu data yang memiliki keterbatasan waktu, kemudian pengkodean tingkat pertama, tingkat kedua atau kode-kode pola (pattern codes), dan proses derivasi (turunan) tema-tema yang lebih umum yang disebut memo (memoing). Keempat metode inilah yang akan dibahas dalam makalah ini.

Sedangkan setelah data terkumpul sampai tahap memo, pertemuan analisa kasus (case analysis meeting), rangkuman kasus interim (interim case interim) juga penting untuk difahami. Berikutnya adalah vignette yang menyajikan informasi yang berfokus dan memiliki keterbatasan waktu tentang satu atau beberapa episode. Lalu kasus pra-berstruktur (pre-structured case) merupakan suatu cara yang ekonomis untuk mengintegrasikan data suatu kasus. Terakhir adalah analisis berseri (sequential analysis) menjelaskan bagaimana metode-metode ini dapat berkaitan satu dengan yang lain menjadi suatu rangkaian (Miles dan Huberman, 1994: 51)

C. LEMBARAN RANGKUMAN KONTAK

I. Masalah Analisa

Setelah suatu kontak lapangan (mulai selama satu hari atau beberapa hari) dan hasil pencatatan selesai dilakukan, seringkali muncul suatu kebutuhan untuk berhenti sejenak untuk merenungkan hal-hal berikut ini: Apa konsep utama, tema, masalah, dan pertanyaan yang saya telah amati selama kontak ini? Tanpa refleksi seperti ini kita mudah kehilangan detail-detail yang penting. Dan mengkomunikasikan hal-hal penting tentang kontak dengan seorang kolega sangat diperlukan untuk proyek apa pun dengan lebih dari satu peneliti lapangan.

II. Penjelasan Singkat

Suatu rangkuman kontak (contact summary) merupakan suatu lembaran dengan beberapa pertanyaan yang berfokus atau merangkum suatu kontak lapangan tertentu. Peneliti lapangan mereview hasil pencatatan dan menjawab setiap pertanyaan dengan singkat dan jelas untuk mengembangkan suatu rangkuman keseluruhan poin-poin utama dalam kontak tersebut.

III. Ilustrasi

1. Memutuskan masalah

Hal yang penting di sini adalah kejelasan tentang apa yang harus diketahui dari suatu kontak lapangan. Rumusan masalah apa yang sesuai dengan esensi dari sekumpulan data. Berikut ini adalah beberapa contoh rumusan masalah tersebut:

Ø Siapa, event atau situasi apa yang dilibatkan?

Ø Tema dan masalah apa yang terdapat dalam kontak tersebut

Ø Rumusan masalah apa dan variabel-variabel apa di dalam suatu kerangka awal yang terdapat dalam kontak tersebut?

Ø Hipotesis, spekulasi, kata hati apa yang berkaitan dengan situasi lapangan yang disarankan oleh kontak?

Ø Di mana peneliti lapangan menempatkan energi terbanyaknya selama kontak berikutnya dan jenis informasi apa yang dicari?

2. Membuat format

Pertanyaan-pertanyaan harus di susun dalam suatu lembaran kertas dengan menyediakan tempat kosong bagi jawaban-jawaban peneliti lapangan. Pengidentifikasi informasi tentang suatu kasus, kontak tertentu, dan tanggal harus diidentifikasi juga.

3. Memasukkan data

Lembar Rangkuman Kontak akan berfungsi dengan baik setelah diisi lengkap dan telah direview dan dikoreksi. Hal ini berarti juga mengandung pandangan umum hasil refleksi tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam kontak termasuk hasil refleksi dari diri kita sendiri dan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab selama kontak selanjutnya. Kalau kita menunggu sampai proses pengkodean selesai seluruhnya, kita akan membutuhkan waktu yang panjang dan barangkali sudah terlambat.

Data pada lembar rangkuman kontak ini pada dasarnya berupa frase atau kalimat yang dianggap peneliti lapangan sebagai jawaban atas pertanyaan setelah pencatatan lapangan selesai direview. Membuat catatan-catatan selama pencatatan lapangan berlangsung akan sangat membantu kita dalam hal ini.

4. Menggunakan hasil

Lembar yang telah terisi lengkap dapat dimanfaatkan untuk: (a) membantu perencanaan untuk kontak berikutnya, (b) memberi saran kode-kode baru, (c) koordinasi apabila melibatkan lebih dari satu peneliti lapangan, (d) reorientasi diri kita kepada kontak ketika kembali ke catatan lapangan, (e) membantu analisa data berikutnya. Semua ini lebih mudah jika format-format ini dimasukkan ke dalam suatu database komputer.

IV. Variasi

Lembaran rangkuman kontak dapat digunakan dengan cara yang lebih sistematis dengan pemberian kode. Kode-kode baru juga dapat dipakai. Tidak disarankan untuk memasukkan “kesan-kesan pertama” ke dalam lembaran ini segera setelah kontak sebelum pencatatan, karena beresiko: (1) terlalu terkesan dengan kejadian-kejadian yang muncul, dan (2) menunda pencatatan dengan konsekuensi distorsi atau kehilangan memori. Yang disarankan adalah melakukan pencatatan sehari setelah kontak lapangan.

V. Saran

Format rangkuman kontak merupakan suatu cara yang cepat dan praktis untuk melakukan reduksi data tahap awal tanpa kehilangan informasi dasar (catatan) karena mengandung kesan dan refleksi yang penuh pemikiran. Juga dapat bermanfaat untuk refleksi dan analisa berikutnya oleh peneliti lapangan itu sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, format ini dibuat sederhana dengan menfokuskan pada masalah, pertanyaan, dan konsep dasar. Disarankan untuk meminta orang lain untuk membaca catatan-catatannya lalu membuat format rangkumannya untuk menghindari bias atau subjektifitas. Disarankan juga untuk melampirkan salinan format rangkuman ini pada catatan-catatan lapangan agar rangkuman ini dekat dengan data yang dirangkumnya.

VI. Waktu yang Diperlukan

Melengkapi format rangkuman ini memerlukan kegiatan membaca dan mereview catatan-catatan (umumnya 3 atau 4 menit setiap halaman lalu kira-kira satu jam untuk mengisi format tersebut. Apabila membutuhkan waktu yang lebih banyak dari itu, maka kemungkinan formatnya terlalu kompleks.

Berikut ini adalah contoh-contoh format/lembaran rangkuman kontak:

Tabel 1: Format Rangkuman Kontak

Tipe kontak: Tempat: _________

Kunjungan ___________ Tanggal kontak: _________

Telepon ___________ Tanggal hari ini: _________

(dengan siapa) Diisi oleh: _________

  1. Apa isu/masalah atau tema utama yang Anda temukan dalam kontak ini?
  2. Rangkumlah informasi yang Anda peroleh atau gagal Anda peroleh untuk masing-masing masalah yang telah Anda rumuskan untuk kontak ini?
  3. Apakah ada hal-hal lain yang Anda anggap menarik, menonjol dan penting dalam kontak ini?
  4. Pertanyaan/masalah baru (atau lama) apa yanag akan Anda cari dalam kontak berikutnya dengan tempat ini?

Sedangkan tabel berikut ini menyajikan contoh format rangkuman kontak dengan pemberian kode-kode pada tema-temanya:

Tabel 2: Format Rangkuman Kontak dengan Pemberian Kode

RANGKUMAN KONTAK

Tipe kontak:

Pertemuan. Para Kepsek Kantor B.Ken 4/2/06 Tempat: Surabaya

siapa,kel.apa tempat tanggal Pemberi kode: MM

Telepon. __________ __________ ______ Tgl.pengkodean: 4/18/06

Pilihlah poin-poin yang paling menonjol dalam kontak. Berilah nomor secara berurutan dalam kertas dan tulislah nomor halaman poin tersebut berada. Berilah nomor poin dalam catatan. Tulislah tema atau aspek tiap-tiap poin dengan HURUF BESAR. Buatlah tema-tema baru apabila tidak terdapat dalam tema-tema yang telah ada dan beri tanda * pada tema yang baru itu. Jika memberi komentar, berilah tanda kurung di antara komentar tersebut.

HALAMAN POIN-POIN YG MENONJOL TEMA/ASPEK

1 1. Pengambilan Keputusan Staf s.d 30 April STAFF

1 2. Variasi kemauan guru berintegrasi dgn siswa khusus *RESIST

(dikemukakan B. Ken, disetujui para guru)

……

Di samping itu, ada format rangkuman dokumen untuk menunjukkan secara ringkas isi dokumen tersebut. Berikut ini adalah contoh formatnya:

Tabel 3: Format Rangkuman Dokumen

FORMAT RANGKUMAN DOKUMEN

Tempat: ______________

Dokumen: ______________

Tgl penerimaan/pengambilan: ______________

FORMAT DOKUMEN

Nama atau deskripsi dokument: _______________________________________

Event atau kontak yang berkaitan dengan dokumen ini: _____________________

Pentingnya dokumen ini: ____________________________________________

Rangkuman singkat isi dokumen:

Format ini dapat diberi pengkodean baik secara manual maupun dengan bantuan komputer (ibid: 51-55).

D. KODE DAN PEMBERIAN KODE (CODING)

Pengkodean merupakan proses penguraian data, pengkonsepan, dan penyusunan kembali dengan cara baru. Hal ini merupakan proses utama penyusunan teori dari data (Strauss dan Robin, 2007: 51). Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengkodean data (Miles dan Huberman, 1994: 55-69):

I. Masalah Analisa

Setelah peneliti lapangan mulai mengkompilasi informasi-informasi yang diperlukan, muncullah masalah karena beragamnya sumber data dan format, misalnya observasi terstruktur/kasual, interview, arsip, catatan harian, dan sebagainya. Banyak data yang nampak menjanjikan dapat memberikan informasi sebanyak-banyaknya, namun ternyata hanya dapat memberikan sedikit informasi. Hal ini dapat menimbulkan masalah overload. Dan proses penyeleksian data kadang-kadang tidak menyelesaikan masalah ini. Waktu yang dibutuhkan untuk menyeleksi dan mengklasifikasi data yang beraneka ragam ini dapat menyamai waktu yang dibutuhkan peneliti untuk mengumpulkannya. Ada dua jenis masalah yang dilematis ini, yaitu overload data dan perujukan data (data retrieval).

1. Masalah overload data

Suatu masalah yang kronis dalam penelitian kualitatif adalah bahwa data penelitian itu berhubungan dengan kata-kata, bukan dengan angka-angka. Kata-kata lebih “gemuk” daripada angka dan kata-kata biasanya mengandung makna ganda (ambiguous). Hal inilah yang membuat analisa datanya menjadi lebih sulit. Sedangkan angka biasanya tidak bermakna ganda dan bisa diproses secara lebih ekonomis. Untuk mengatasi masalah ini, hendaknya kita menempatkan kata-kata selalu berssms-sama dengan angka.

2. Masalah perujukan data

Dengan melimpahnya data yang kita peroleh, mungkin kita tidak akan mengetahui, yang mana yang paling penting dan sesuai dengan tujuan kita. Kita harus terus terbuka terhadap data yang mungkin bermanfaat dan tapi kita harus menghindari overload. Oleh karena itu, untuk mengatasinya, kita memerlukan adanya kecocokan antara pengurangan data dengan analisanya.

II. Penjelasan Singkat

Pengkodean merupakan analisa. Untuk mereview sekumpulan data lalu dilakukan pencatatan dan penggabungan lalu pemecahan dengan selalu menjaga hubungan antara bagian-bagiannya, dan itulah analisanya. Analisa ini melibatkan bagaimana cara kita membeda-bedakan dan mengkombinasikan data yang telah kita rujuk termasuk refleksi yang kita buat berdasarkan informasi tersebut.

Kode biasanya bervariasi ukurannya, bisa berupa kata-kata, frase, atau kalimat yang berhubungan dengan suatu setting tertentu. Kita dapat memakai nama/label kategori yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Yang lebih penting bukan kata-katanya melainkan maknanya.

Kode-kode tersebut digunakan untuk perujukan dan pengorganisasian kategori-kategori yang telah ditetapkan sebelumnya sehingga peneliti dengan cepat dapat mememukan dan mengelompokkan segmen-segmen tersebut dan menghubungkannya dengan masalah penelitian, hipotesa, atau tema. Pengelompokan ini akan bermanfaat pada saat penarikan kesimpulan.

III. Ilustrasi

Cara pengkodean adalah sebagai berikut: misalnya dalam suatu penelitian tentang perbaikan sekolah sehingga suatu metode pembelajaran yang baru dapat diadopsi untuk sekolah tersebut. Barangkali kita memulai penelitian tersebut dengan bertanya kepada informan kita mengapa mereka memutuskan untuk mencoba menggunakan metode teersebut. Catatan lapangan yang diperoleh mungkin seperti ini:

Saya menanyakan kepadanya apa kebutuhan dari program baru tersebut dan dia mengatakan bahwa siswa yang memasuki kelas 9 berarti dua tahun di bawah tingkat satuan pendidikan dan bahwa kurikulum yang lama tidak efektif untuk mereka. Melalui ‘Nelson Reading Test’ terlihat bahwa siswa tumbuh secara akademis hanya 5 atau 6 bulan dalam 10 bulan dari tahun akademik

Dari catatan ini kita dapat memberi suatu notasi yang dapat merangkumnya yaitu “MOT” yang berarti “motivasi’ (atau bisa kode yang lain). Kode ini kita letakkan pada margin sebelah kiri karena margin sebelah kanan akan digunakan untuk komentar. Jika kita ingin lebih banyak diferensiasi, kita dapat membedakannya lagi menjadi “motivasi guru” dan “motivasi administrator”. Misalnya, untuk yang kedua ini kita beri label “ADM-MOT”. Atau kalau kita ingin lebih khusus lagi karena kita kan menghubungkannya dengan periode atau fase di mana motivasi tersebut akan muncul, yaitu fase adopsi, maka kita dapat memberi nama “AD/MOT” atau jika kita ingin memasukkan semuanya, kita dapat memberi nama lebih lengkap yaitu “AD/ADM-MOT”

Kode-kode tersebut merupakan kode deskriptif (descriptive codes) yang mengandung sedikit sekali interpretasi. Untuk membuatnya lenih interpretatif, kita bisa mengacu pada motif-motif yang muncul, bisa dari masyrakat setempat atau dari sekolah itu sendiri untuk promosi. Dengan demikian, kita peroleh “PUB-MOT” dan “PRIV-MOT”.

Kode-kode tingkat berikutnya adalah kode pola (pattern codes). Kode ini lebih informative daripada jenis kode-kode lainnya. Misalnya, catatan lapangan yang telah diberi kode menunjukkan suatu leitmotif ataupola yang nampak dalam hubungan-hubungan. Kode-kodenya adalah sebagai berikut: “LM” (leitmotif), “PATT” (pola), “TH” (tema), dan “CL” (hubungan sebab-akibat) dan sebaiknya memasukkan suatu kata untuk menunjukkan tema atau pola yang ditarik, misalnya “PATT-TEAMS”. Kode-kode ini dapat juga diaplikasikan pada pengkodean sebelumnya.

Semua kode-kode ini dimasukkan ke dalam suatu daftar awal (start list) yang dapat memuat paling banyak 60 kode. Daftar ini biasanya terdiri dari tiga kolom. Kolom yang pertama memuat label/kode deskriptif untuk kategori umum dengan kodenya masing-masing. Kolom kedua adalah kode-kode lebih lanjut, dan kolom ketiga adalah kode-kode yang merupakan dasar bagi jawaban atas rumusan masalah penelitian. Biasanya daftar ini disertai dengan suatu daftar definisi dari kode-kode yang ada. Berikut ini adalah contoh-contohnya berdasarkan penelitian tentang inovasi pembelajaran di atas:

Tabel 4: Daftar Awal Kode-kode

DAFTAR AWAL KODE-KODE

PROPERTI INOVASI PI-TUJU 3.1

PI: TUJUAN PI-TJ 3.1.1

PI ORGANISASI PI-ORG/DD.LS 3.1.4

PROSES ADOPSI PA 3.2, 3.3

PA: KRONOLOGI EVENT PA-KRON/PUB 3.2.4

PA: MOTIF PA-MOT 3.2.6

Tabel 5: Daftar Definisi Kode-kode

DEFINISI KODE-KODE DARI TABEL 4

Dinamika dan Transformasi- DT

Kronologi event: kronologi event selama pelaksanaan oleh siswa,

DT-KRON/PUB administrator dan responden lainnya

IV. Saran

Kode merupakan pelabelan data yang efisien dan dapat melancarkan proses analisa data selanjutnya. Agar benar-benar dapat dimanfaatkan, berilah kode sesuai dengan makna semantiknya. Dan jangan menggunakan angka-angka sebagai kode. Berikan definisi kode-kode tersebut secara operasional dan dapat digunakan oleh analist lainnya, terutama jika penelitiannya melibatkan lebih dari satu peneliti. Jangan menunda proses pengkodean sampai berakhirnya proses pengumpulan data karena penelitian kualitatif ini sangat bergantung pada analisis yang sedang berjalan. Pengkodean merupaka alat yang berguna untuk mendukung proses analisis tersebut.

V. Waktu yang Diperlukan

Waktu yang dibutuhkan untuk pemberian kode-kode awal dan definisinya tergantung pada berapa jumlah kategori awalnya dan klarifikasi dari kerangka konseptual dan rumusan masalah penelitian. Untuk membuat suatu daftar awal dan definisinya kira-kira membutuhkan dua hari, kira-kira 1 hari untuk pengkodean dan satu hari untuk definisi. Untuk revisi dan kelengkapan lainnya kira-kira membutuhkan waktu dua hari.

E. MEMO

I. Penjelasan Singkat

Memo (Memoing) adalah catatan tentang analisis yang berhubungan dengan perumusan teori. Memo ini bisa terdiri dari catatan kode, catatan teoretik, dan pencatatan operasional. Memo ini dapat disertai dengan penyajian hubungan antarkonsep secara visual atau diagram. Pembuatan memo dan diagram ini merupakan langkah analisis yang penting (Strauss dan Corbin, 2007: 223-225).

Berikut ini dalah hal-hal yang perlu kita pertimbangkan jika kita menggunakan memo ini (Miles dan Huberman, 1994: (72- 76):

II. Ilustrasi

Berdasarkan penjelasan singkat di atas, memo merupakan perumusan teori berdasarkan hasil pencatatan lapangan tentang kode-kode dan hubungannya yang ditemukan analist ketika proses pengkodean berlangsung. Memo dapat berupa suatu kalimat, paragraf, atau beberapa halaman. Berikut ini adalah beberapa contoh memo yang berhubungan dengan penelitian tentang inovasi pembelajaran di atas:

Tabel 5: Contoh Memo 1

MEMO: PROSES-PROSES PERBANDINGAN (19 MARET)

Mengenalkan program baru akan selalu melahirkan suatu proses perbandingan, khususnya perbandingan alternatif-alternatif (lihat kasus-kasus TR-KRON atau TR-ORG)

Tabel 6: Contoh Memo 2

MEMO: POLA KARIR (22 FEBRUARI)

Pada umumnya, orang-orang akan melakukan inovasi-inovasi ketika mereka berada dalam masa transisi. Ke arah mana mereka?

Ke atas: dari kelas ke peranan pengawas atau administrasi yang lebih tinggi. Inovasi akan berjalan lebih cepat daripada menunggu orang lain kembali setelah menempuh gelar.

Menjauh: dari mengajar ke pekerjaan lain yang lebih fleksibel. Memungkinkan adanya permutasi ke atas atau menjauh…

Memo berfungsi untuk menjelaskan atau menjabarkan suatu ide, dan menghubungkannya dengan suatu informasi dalam kasus tersebut, serta memilah ide itu dari kode-kode yang ada. Dengan demikian, memo tidak sekedar melaporkan data, namun juga menghubungkan berbagai macam data menjadi suatu konsep umum.

Setiap memo dan diagram harus dibubuhi tanggal penulisan dan referensi mengenai dokumen asal. Pada referensi tersebut harus ada nomor kode wawancara, nomor kode observasi, nomor kode dokumen, tanggal pada saat data tersebut dikumpulkan, halaman serta cara identifikasi lainnya yang mungkin bermanfaat untuk mendapatka kembali data tersebut di kemudian hari. Setiap memo dan diagram harus juga memiliki judul yang menyuratkan konsep atau kategori yang akan dijelaskan.

III. Variasi

Memo dapat juga ditulis untuk hal-hal yang masih menjadi teka-teki dan yang mengejutkan bagi kasus yang sedang diteliti, dan dapat pula berfungsi sebagai suatu hipotesis alternatif sebagai respons memo dari orang lain ketika analist tidak memiliki suatu konsep yang jelas dan masih berupaya untuk menjelaskannya. Berbagai macam jenis memo dapat digunakan dalam berbagai tahapan penelitian. Memo-memo tersebut dapat berupa pola lintas kasus, ide-ide cemerlang, implikasi kebijakan, dan ide-ide untuk proses sintesis selanjutnya.

IV. Saran

Hal-hal yang disarankan untuk penggunaan memo ini adalah kita seyogyanya memberikan prioritas kepada pembuatan memo ini ketika ide muncul. Proses pembuatan memo ini sebaiknya dimulai begitu data lapangan pertama kita peroleh dan proses ini berlanjut sampai proses akhir penelitian. Bentuk dan jenis memo tidak ada yang standard. Kita bisa menciptakan bentuk memo secara kreatif yang sesuai dengan kebutuhan kita.

V. Waktu yang Diperlukan

Penulisan memo ini memerlukan waktu yang tidak lama, tidak lebih dari setengah jam untuk tiap memo yang kita tulis. Selanjutnya memo dapat dijelaskan secara lebih gamblang lagi. Memo merupakan cara yang cepat untuk menangkap pemikiran-pemikiran yang muncul apada saat pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, pengujian kesimpulan, dan pelaporan akhir penelitian.

F. KESIMPULAN DAN PENUTUP

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pada tahap awal pengumpulan data, catatan-catatan (field notes) sebaiknya komplit, tepat, detail, sitematik dan analitik yang harus disusun setelah observasi maupun setelah mengadakan hubungan dengan subjek yang diteliti termasuk pertemuan di luar tempat. Meskipun pengambilan catatan yang intensif terjadi ketika di lapangan, namun peneliti seyogyanya menyusun catatan-catatannya sebelum terjun ke lapangan dan membuat analisis formal setelah kontak dengan subjek (Bodgan dan Taylor, 1993: 106). Hal ini memerlukan kemampuan untuk melakukan observasi (atau wawancara) dan analisa serta kerja keras. Seorang peneliti harus mencurahkan sejumlah waktu dan energi agar pengumpulan data dan pendokumentasiannya dapat secara cermat dan tepat terpenuhi.

Proses awal dari pengumpulan data ini meliputi pengisian format rangkuman kontak, pengkodean, dan pembuatan memo. Semua ini merupakan langkah analisis yang penting untuk tahapan penelitian selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zaenal. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan: Filosofi, Teori & Aplikasinya. Surabaya: Lentera Cendekia.

Bodgar, Robert dan Taylor, Steven J. 1993. Kualitatif (Dasar-Dasar Penelitian) Terjemahan oleh A. Khozin Afandi. Surabaya: Usaha Nasional

Bungin, Burhan. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodologis ke Arah Ragam Varian Kontemporer. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Miles, Matthew B. dan Huberman, A. Michael. 1994. Qualitative Data Analysis: Second Edition. Thousand Oaks: SAGE Publication

Moleong, Lexi J. 1988. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan, Tenaga Kependidikan.

Strauss, Anselm dan Corbin, Juliet. 2007. Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif: Tatalangkah dan Teknik-teknik Teoritisasi Data. (Penerjemah: Muhammmad Shodiq dan Imam Muttaqien). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

About these ads
Explore posts in the same categories: Bahasa

Tags: ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: